Waktu berlalu. Di Mei 2010 bapak tiba-tiba menanyakan progress tabungan hajiku. Degh! Aku yang melupakan tabungan itu nyaris tidak bisa menjawabnya.
“Sudah tidak ada tabungannya lagi, Pak. Uangnya Budi pakai buat nambah peralatan dan proyek di Landak.”
Bapak langsung melotot marah.
“Astaghfirullah. Mau jadi apa kau, nih?! Sekarang itu naik haji harus antri. Gak bisa langsung. Sekarang kamu daftar. Mungkin 3-4 tahun baru berangkat.”
“Iya Pak. Budi salah. Besok Budi mulai lagi. Budi dan Djati akan bikin tabungan lagi.”
“Memang susah kalau orang gak mikir bisa naik haji nih. Belum tau bagaimana sih rasanya di tanah suci. Kau tanya adik-adikmu sana!”
Besoknya aku dan istri segera membuka tabungan baru untuk naik haji. Kali ini pindah bank. Kami membuka rekening di Bank Syariah Mandiri. Nama tabungannya Tabungan Mabrur BSM. Hari itu Rabu, tanggal 19 Mei 2010.

Sejak saat itu aku mulai berniat sungguh-sungguh untuk mencukupi tabungan agar bisa mendapatkan porsi haji.
Pada awal Januari 2011, kembali Bapak menanyakan soal tabungan haji ini. Dengan sigap kutunjukkan buku tabungan kami berdua. Lalu beliau berkata, bahwa ada yang menawar tanahnya di sekitaran Singkawang. Beliau akan menjualnya. Jika deal, maka beliau akan menyuruhku melunasi tabungan haji aku dan istriku, hitung-hitung hadiah ulang tahun buat kamu.
Alhamdulillah.
Sepertinya Bapak takut aku gak serius lagi buat mempersiapkan biaya untuk ibadah haji ini. Padahal sebenarnya sejak dimarahi Mei tahun lalu aku sudah kapok dan janji akan fokus menabung uang buat berangkat haji.
Akhirnya memang transaksi tersebut berlangsung dengan mulus. Pada Kamis tanggal 13 Januari 2011, kami bertemu dengan pembeli tanah tersebut di kantor Notaris Budi Effendi. Tanah yang dilepas adalah tanah di pinggir pantai di daerah Sedau, Singkawang.
Sehari setelahnya, tanah tersebut dibayar melalui transfer bank ke rekening milikku. Instruksi beliau berikutnya adalah Senin aku ambil dari rekeningku uang tersebut, menyisihkan kebutuhanku untuk melunasi porsi haji. Sisanya serahkan ke beliau. Dan aku tahulah apa yang akan beliau lakukan dengan uang tadi.
Investasi yang paling beliau yakini; Logam Mulia.
Senin itu juga aku dan istriku berfoto untuk keperluan SPPH (Surat Pendaftaran Pergi Haji) dan Tanda Bukti Setoran Awal BPIH.
Sampailah aku dan istriku ke hari paling menguatkan kami buat beribadah haji. Selasa, 18 Januari 2011 aku menyetor uang hingga genap berisikan duapuluh lima juta lima ratus ribu rupiah lebih di masing-masing tabungan kami.
Setelah mendapatkan masing-masing nomor porsi 1700020419 dan 1700020422 maka resmilah kami menjadi calon jemaah yang berhak untuk diberangkatkan sesuai dengan waktu antri yang ada di Siskohat.
Melihat nomor yang kami dapatkan, jelaslah di sini bahwa dalam beberapa menit saja nomor porsi sudah tidak berurutan. Artinya ada banyak orang yang mendaftar dalam 1-2 menit. Pamanku saja yang melunasi haji hanya berbeda tidak sampai 3 bulan bisa beda tahun keberangkatannya dengan kami. Sebenarnya awalnya kami sudah merencanakan berangkat barengan. Tapi ternyata hasil berikutnya jadi berbeda. Nanti akan diceritakan di bagian lain.

Setelah melunasi di BSM dan mendapatkan Tanda Bukti Setoran BPIH, istriku sendiri menuju ke kantor Kemenag Kota Pontianak untuk mengurus SPPH. Dari info yang didapatkan, maka dijadwalkan kami (aku, istri, paman dan istrinya) akan berangkat pada tahun 2015. Saat itu kuota Indonesia (2011) adalah 199.848 jamaah. Tentu saja kami senang karena bisa bersama-sama.
Malamnya setelah urusan beres, aku dan istri melaporkan semuanya kepada Bapak. Bapak mengucapkan syukur karena yang diinginkannya kami laksanakan. Sempat juga berujar andai saja aku dan istri fokus buat menabung 2 tahun lalu, pasti tahun ini sudah berangkat ke Baitullah.
Aku dan istri mohon maaf kepada Bapak. Dan tentu saja mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena berkat dorongan dan bantuan beliau kami bisa mendapatkan porsi haji di tahun 2015 itu.
Dalam hati aku bersyukur, marahnya Bapak dulu membuat kami sadar akan besarnya cinta beliau kepada kami anak menantunya, dan juga terutama besarnya cinta beliau kepada Baitullah.