Suatu malam di pertengahan Maret 2017, selepas Isya ada acara tahlilan almarhumah adik uwan (nenek) dari pihak bapak. Aku dan istriku menghadirinya juga. Sebab acara-acara seperti ini bisa mengumpulkan banyak keluarga dan salah satu cara silaturahmi yang baik. Ada rasa persaudaraan yang dipupuk ketika bersama-sama membaca doa. Baik doa untuk yang telah wafat, terlebih lagi buat kita yang masih hidup di dunia ini.
Pada saat sebelum dimulai, seperti biasa aku mengobrol dengan sanak kerabat yang ada di situ. Kami di kursi di halaman rumah, sementara istriku masuk ke dalam bergabung sama ibu-ibu lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah paman-paman adik bapakku ataupun sepupu bapakku. Lantas tak lama kemudian datanglah pasangan suami istri, yang suaminya masih merupakan sepupu dua kali dari almarhum bapakku. Nama beliau Djamaluddin, dan pernah pergi haji juga, tak lama setelah bapakku. Beliau menyalami yang hadir di situ. Sampai akhirnya matanya berbinar melihatku. Menyodorkan tangan sambil berucap, “Budi, kau ikut KBIH mana?!”
Aku kebingungan.
“KBIH om? Maksudnya?”
“Bimbingan Haji?”
“Hah?!”
“Lho? Ndak tau, ke? Khan nama kau dan Djati ada di daftar calon jamaah 2017. Om dan tante juga berangkat lagi tahun ini.”
Hah?!!!
Aku hanya memandang beliau penuh rasa kaget dan tak percaya.
“Iya. Memang tidak dikasih tau? Tidak ada surat atau telepon?”
“Gak ada Om.”
“Masa sih? Namamu ada. Sama Djati khan? Om ada lihat. Karena ada terbaca nama bapakmu saat om menelusuri daftar jamaah. Om baca, Arief Budiman Adha. Ini Budi nih Mak, Om bilang sama tantemu.”
“Yang benar Om?” Aku masih tak percaya. Paman-pamanku yang lain juga diam tertarik mendengar berita ini.
“Besok kau pergi ke kantor Kemenag Kota. Tanyakan.”
“Baik, Om.”
“Kamu gabung sama KBIHku saja. Bina Mabrur. Nanti Om daftarkan. Mau ya? Kami sudah mulai manasik soalnya.”
“Eee. Budi pastikan dulu ya. Sekalian tanya Djati.”
“Iya, tanyakan. Nanti diganti cadangan pula kalau terlambat daftar dan bayar. Masih tujuh jutaan lagi tuh, plus biaya lokal ke Batam. Ini belum tau nilainya. Nunggu SK. Cornelis belum ngeluarkan.”
“Iya Om. Makasih infonya. Eh Pak Man bagaimana?” Aku sekaligus menanyakan soal pamanku yang janjian buat berangkat bareng.
“Wah Om gak lihat, cuma nama Budi saja yang Om lihat. Karena di lembar yang sama.”
Paman-pamanku yang lain mengucapkan syukur dan selamat buatku.
Aku yang masih terbengong-bengong tak percaya.
Saat istriku keluar dari dalam rumah tempat tahlilan, aku menceritakan kabar ini kepadanya. Matanya langsung berbinar.
“Yang benar, yah?”
“Iya, tanya aja sama Om Den tuh.” Sambil aku menunjuk ke om Djamaluddin.
Si om mengkonfirmasi, dan kembali mengajak bergabung ke KBIHnya. Kami bilang nanti kami hubungi.
“Besok mau cek dulu Om.”
KBIH adalah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji, ini mengajarkan manasik kepada calon jamaah. Pemerintah sangat terbantu dengan adanya KBIH ini. Namun tentu saja calon jamaah harus membayar jasa mereka ini. Karena selain manasik di tanah air, KBIH juga akan mengirim ustadznya untuk menjadi pemandu di sana.
Keesokan harinya aku dan istriku menuju ke kantor Kemenag untuk menanyakan kebenaran berita yang disampaikan oleh sepupu almarhum bapakku kemarin malam.

Ternyata memang ada nama kami berdua di daftar jamaah yang berangkat tahun 2017, jamaah nomor 270 dan 271.
Allahu akbar!
Terucap takbir tanpa sadar.
Kami berpandangan bahagia. Ibu yang melayani kami juga ikut bahagia.
“InsyaALLAH, berangkat masih muda akan lebih mudah, bang.” Demikian katanya menyemangati.
“InsyaALLAH. InsyaALLAH.”
“Nanti tinggal melunasi biaya hajinya ya, bang. Tetap lewat bank semula. Biaya Haji tahun ini sebesar Rp.32.125.660. Paling lambat dilunasi 30 April 2017 buat yang di daftar utama. Sedang biaya lokal masih menunggu keputusan gubernur, bang.”
Ketika kami tanyakan kenapa kami gak dihubungi baik lewat surat maupun telepon. Sambil melirik catatan ibu itu menyampaikan alamat yang dituju salah jadi kurir kantor tidak bisa menyampaikan. Kami menerima saja alasan demikian. Karena tidak ada guna juga berdebat bahwa alamat rumah dan telepon kami tidak pernah berubah. Hehehe. Yang penting alhamdulillah nama kami benar ada dan bisa menunaikan ibadah haji tahun ini.
Sayangnya pamanku Salman Farisi dan istrinya Hapsah tidak tercantum di daftar calon jamaah haji 2017 dari Kota Pontianak. Mereka ternyata masuk di daftar calon jamaah 2018.
Rupanya sejak dikurangi pada tahun 2013, maka pada tahun 2017 ini sudah kembali normal kuotanya, bahkan mendapatkan tambahan kuota 10.000 jamaah dari kuota tahun 2012. Pembangunan di Masjidil Haram sudah rampung untuk bagian utamanya. Jumlah jamaah yang dapat dikirimkan pemerintah Indonesia adalah 221.000 jamaah untuk tahun ini dan tahun berikutnya.
Alhamdulillah.
Dari kantor Kemenag aku segera ke emak untuk laporan bahwa kami berdua tercantum sebagai calon jamaah haji 2017. Memohon restu dan doa agar dimudahkan segala urusan selanjutnya.