Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang sarat dengan makna dan spiritualitas. Haji juga merupakan ibadah yang supra monumental dalam kehidupan umat Islam. Banyak pengalaman spiritual yang dialami oleh orang Islam sebagaimana yang sering kita dengar langsung dari cerita atau kisah orang Islam yang selesai menunaikan ibadah haji.
Tentu pengalaman yang dialami oleh seseorang akan berbeda dengan lainnya. Aneka ragam pengalaman spiritual yang dialami oleh seorang dalam melaksanakan ibadah haji tentu dapat menjadi sebuah ibrah (pelajaran) yang sangat berharga sedemikian rupa sehingga mampu mengasah keimanan dan ketakwaan seseorang serta dapat menentukan pelestarian “kemabruran haji” dalam konteks relegiusitas dan perilaku etik-sosiaL.
Apa yang mendorong seseorang untuk berangkat menunaikan ibadah haji?
Yang pertama tentu saja menjalankan perintah ALLAH SWT yang termasuk dalam Rukun Islam. Haji adalah rukun Islam kelima yang mempunyai persyaratan tambahan.
Orang yang wajib atasnya pergi haji adalah orang yang memenuhi persyaratan :
- Beragama Islam.
- Berakal sehat.
- Sehat secara jasmani dan rohani.
- Baligh, mencapai usia dewasa.
- Merdeka, bukan seorang budak.
- Mampu, baik secara fisik, mental dan juga materi.
Jadi salah jika hanya berdasarkan kemampuan. Banyak orang yang mampu, baca saja kaya, namun tidak kepikiran untuk menunaikan ibadah haji. Sementara juga banyak orang yang secara finansial biasa saja, memampukan dan ALLAH mampukan untuk bisa beribadah haji ini.
Semua adalah masalah prioritas.
Bicara perjuangan untuk bisa pergi beribadah haji, bagi penulis, contoh utama yang dapat ditiru adalah orang tua sendiri. Karena beliau, bapak dan emak, adalah contoh konkrit bagaimana perjuangan mereka mewujudkan rindu di dalam perjuangan menjadi muslim yang dapat menunaikan Rukun Islam kelima ini.
Dalam banyak kesempatan pembicaraan dengan bapak sewaktu aku (kayaknya lebih nyaman menggunakan aku daripada penulis) masih kecil, sering kali tercetus keinginan bapak untuk dapat menunaikan haji. Bahkan beliau sering bercerita dan menunjukkan rahasia bagaimana beliau menabung untuk bisa berangkat haji nanti.
Apa itu?
Menabung emas.
“Bud, biaya haji itu InsyaALLAH tidak pernah berubah dengan jumlah emas yang harus kita kumpulkan jika ingin berangkat ke Mekkah.” Demikian ungkap beliau suatu kesempatan, “Makanya bapak dan emak selalu menyisihkan gaji tiap bulannya untuk kemudian jika sudah cukup akan dibelikan emas. Bukan emas perhiasan ya. Belilah emas batangan. 5 gram. 10 gram. Agar nilainya tidak berkurang. Ini buat tabungan soalnya. Tabungan bapak dan emak ke Mekkah. Naik haji.”
“Berapa banyak Pak?” tanyaku saat itu.
“Jika ingin berangkat tahun depan, maka kamu harus punya emas sekitar 300 gram.”
Waduh. Otakku gak nyampai saat itu.
Tapi di belakang hari aku sadar bahwa yang bapak pernah omongkan itu benar.
“Mengapa tidak simpan uang di tabungan saja?”
“Uang itu gak ada jaminannya. Kalau emas lebih pasti.” Jawab bapak.
Aku ingat bagaimana bapak menunjukkan emas setiap beliau membelinya. Menunjukkan ‘bilik’ rahasia di lemari dalam kamarnya. Pantas saja bapak dan emak selalu memesan lemari custom, bukan yang sudah jadi di pasaran. Rupanya ada celah rahasia yang disembunyikan.
Mulai kapan bapak dan emak nabung emas buat ke Baitullah aku gak ingat secara pasti. Namun saat aku pertama kali ditunjukkan sama beliau simpanan itu, kami sudah tinggal di Kabupaten Sanggau.
Seiring waktu berjalan, akhirnya sampai juga waktunya simpanan itu cukup untuk mendaftar haji, pada tahun 1991. Aku ingat saat itu sudah berangkat kuliah ke Bandung. Pada masa itu masa tunggu haji tidaklah lama. Daftar tahun ini akan bisa berangkat tahun depan. Biayanya juga mengikuti saat pelunasan. Yang pasti uang pendaftaran adalah Rp.500.000 saja. Sementara saat pelunasan menjadi penentu nilai biaya yang harus disiapkan. Termurah Rp.6.345.500, termahal Rp.6.475.000.
Murah ya? Kalau dengan uang sekarang memang. Tapi secara nilai berbeda.
Naik haji itu mahal juga, kalau kita nilai harga emas segram saat itu tidak sampai 25 ribu rupiah.
Jadi pada tahun 1992, Bapak dan emak berangkat, ikut serta juga uwan laut (nenekku dari bapak) dan uwan darat (nenekku dari emak). Itulah kali pertama mereka mengunjungi Rumah ALLAH.
Alhamdulillah.
Selepas haji tahun itu, bapak mulai mengajak dan mengajarkan beberapa sahabatnya untuk bersama pergi ke Baitullah kembali.
MasyaALLAH. Beliau membagikan trik dan resep untuk bisa berangkat beribadah haji kepada mereka.

Bapakku memang inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya. Kepada sahabat dan bawahannya di kantor (bapak seorang PNS) selalu diingatkan 2 hal penting. Kepada yang belum punya rumah tinggal sendiri, maka disuruhnya untuk mendirikan rumah. Sampai bagi orang di sekitarnya ada petuah penting dari beliau, jangan sampai kalah sama burung pipit. Burung pipit saja punya rumah (sarang). Masa manusia tidak.
Dan serius, untuk urusan rumah ini beliau tidak pernah sekalipun menyarankan mengambil kredit di bank. Tapi beliau mengajarkan kepada staf dan bawahannya untuk selalu menyimpan emas jika belum mampu. Beberapa orang bawahan bercerita kalau bapak suka menghibahkan tanah kavlingan kepada mereka. Juga bagaimana usaha bapak untuk membantu mereka menabung buat membeli bahan mendirikan rumah.
Sedangkan kepada yang telah memiliki rumah maka beliau akan mengajak ke tanah suci bersamanya. Ini yang aku dengar langsung dari banyak orang. Nanti saat aku bercerita tentang aku berangkat haji akan ada satu kisah luar biasa yang aku akan ceritakan.
Sehingga akhirnya pada tahun 1999 bapak dan emak ditemani beberapa orang sahabatnya yang bersama-sama menabung dengan beliau berdua dapat berangkat haji untuk kedua kalinya. Biaya haji tahun ini adalah Rp.27.373.000.
Yang benar-benar aku ingat pada saat bapak berangkat haji ini adalah aku meminta beliau membelikan aku sebuah handycam di Mekkah sana. Alhamdulillah beliau walaupun tidak mengerti barang kayak gimana yang aku inginkan akhirnya bisa membelikan aku barang yang aku minta. Aku masih ingat sekali handycam Sony dengan format Video8 dari Sony bertipe TRV23E.
Catatan penting pada haji tahun itu adalah perbedaan antara penetapan Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi. Di Indonesia pada tanggal 28 Maret pada hari Minggu, sementara di Arab pada Sabtu tanggal 27 Maret. Dan itu berarti wukuf pada tahun 1419 Hijriah itu terjadi pada hari Jum’at sehingga pelaksanaan haji tahun 1999 adalah merupakan pelaksanaan Haji Akbar.
MasyaALLAH. Alhamdulillah.
Catatan tambahan pada tahun 1999 itu jugalah mulai dibedakan antara haji reguler dan haji khusus oleh pemerintah Indonesia.