Boleh dibilang yang paling bersemangat untuk bisa berangkat tahun ini adalah istriku. Sementara aku? Semangat tentu saja, namun khawatir juga timbul.
Bagaimana tidak? Di April itu anakku ternyata tidak lulus SMNPTN, penerimaan mahasiswa universitas negeri jalur undangan. Mau coba SMBPTN juga, namun udah gak terlalu yakin duluan. Lantas pilihannya hanya ke universitas swasta di Jakarta, karena jurusan yang dia inginkan hanya di situ yang akreditasinya baik dan sudah jalur profesi. Dia hendak kuliah di fakultas Fisioterapi. Untuk itu aku juga harus siapkan biayanya yang tidak bisa dianggap murah. Mana jadwalnya penerimaannya nyaris bertepatan pula dengan musim haji 2017.
Terus istriku yang masih menjalani terapi pengobatannya.
Adalagi yang cukup pelik, back up operasional dan THR di bulan Juni, yang sebagian uangnya masih dipakai untuk mengerjakan proyek yang aku ceritakan sebelumnya. Padahal proyek ini telah juga menggunakan pinjaman uang sewa cloud server dari CV kami yang bergerak di bidang IT. Sewa server tersebut harus dibayar awal April, sementara sampai saat ini dinas-dinas yang menjadi kliennya belum memastikan kapan dan berapa anggaran mereka akan disetujui. Mau diputuskan juga tidak bisa, karena bisa mengganggu pelayanan mereka.
Yang paling ringan ya biaya masuk SMA anakku, karena kalau ini aku yakin dia pasti bisa masuk SMA Negeri dan tak mengeluarkan biaya besar.
Oh ya, yang aku belum ceritain bahwa masih punya hutang kartu kredit yang belum kulunasi. Gak banyak lagi sih, karena sejak 2014 perlahan semua kartu kredit sudah aku tutup, tinggal yang paling gampang dan ringan saja yang masih aku minta dijadikan cicilan tetap. Itu juga karena pemakaian saat aku ke Jepang tahun 2014 menemani emak dan tante bidan, yang menolong kelahiran Puan, diajak mengunjungi adikku yang akan diwisuda S2 di sana. Sebenarnya bapak mau ikut, tapi kondisi kesehatan beliau mengharuskan tidak boleh capek, dan juga kata beliau sudah pernah ke negeri Sakura itu. Hutang ini harus sebisa mungkin harus kulunasi.
Jadi memang semua kemauan ini harus kupikirkan dan kucarikan solusinya. Sementara cash flow yang terbatas, dan kebutuhan ke depan yang harus dikondisikan. Dan anak-anak yang kutinggalkan juga harus dipikirkan keseharian mereka. Apalagi mulai Maret aku sudah maktab buat urusan rumah. Hehehe. Maktab yang ini gak ada hubungan dengan haji, tapi makan tabungan.
Melihat banyaknya kebutuhan sampai kami berangkat, maka sedikit keder juga diriku. Hitung-hitungan, sambil khawatir bagaimana kondisi saat aku tidak ada mengurus semuanya sebulan lebih.
Bayangkan, biaya pelunasan keberangkatan, biaya lokal – Batam, biaya KBIH, biaya kuliah dan sekolah, biaya pengobatan istri, kebutuhan kantor, biaya rumah tangga dan jajan anak. Sepele kayaknya, tapi was-was muncul juga.
Setan membisikiku, tunda sajalah tahun depan. Biar bisa berangkat sama Pak Man dan Bu Hapsah nanti. Kamu harus fokus ke perusahaan baru. Kamu siapkan dulu semuanya. Ingat lho sekarang kehidupanmu bergantung sama pendapatan perusahaan sendiri. Sembuhkan dulu istrimu. Apa jadinya kalau sakit di tanah suci? Pikirkan juga anakmu yang mau kuliah. Emang gak kamu antar nanti pas masuk kuliah? Dan banyak lagi keraguan yang disusupkan setan dalam pikiranku.
Saat aku sampaikan kepada Djati istriku tentang keraguanku dan kemungkinan kami menunda keberangkatan haji di tahun depan, matanya berkaca-kaca.
“Tapi bunda mau tahun ini, yah. Bunda gak mau ditunda lagi. Bunda sangat rindu. Bunda mau ke sana lagi tahun ini.” Ujarnya dengan suara bergetar, “InsyaALLAH akan ada jalannya.”
“Ayah usahakan ya, bunda. Doain.”
“Selalu, yah. Bunda selalu doain kok.”