Akhirnya tibalah hari yang dinanti, 14 Agustus 2017. Kami kloter terakhir Kota Pontianak akan diterbangkan ke Batam. Menurut jadwal kami akan terbang pukul 08.45 WIB. Pesawat yang mengantar kami bolak-balik dari Soepadio ke Hang Nadim membawa jamaah, lantas dari Hang Nadim ke Soepadio dalam keadaan kosong. Wajar saja jika biaya keberangkatan lokal jamaah Kalimantan Barat dikenakan biaya Rp. 3.239.400. Ada 3 kali penerbangan untuk satu kloter yang berangkat dari Batam.
Di rumah kami diantarkan dengan doa bersama yang dipimpin salah seorang imam masjid kami. Dihadiri emak dan sanak keluarga yang menyempatkan hadir. Bawa mobil sendiri ke asrama haji, karena mobil kutitipkan ke orang kantor.
Sebelum masuk barang-barang bawaan kami dilewatkan ke dalam mesin detektor untuk memeriksa keamanan isinya, kemudian di dalam Aula Asrama Haji kami diberikan pengarahan sebelum akhirnya sampailah kami diminta untuk menaiki bus Damri yang disiapkan untuk mengantarkan kami. Di sini juga kami sudah mendapatkan boarding pass Sriwijaya Air.
Saat mengantri di menuju bus, di depanku ada seorang tua kelahiran tahun 35, artinya usianya sudah 82 tahun. Namanya pak Razali, seorang pensiunan polisi. Walau tertatih namun semangat untuk ke Baitullah sangat luar biasa. Pak Razali ternyata hanya berangkat sendiri saja. MasyaALLAH. Sehat terus ya, pak. Demikian kataku menyemangatinya.
Di luar asrama haji para pengantar menanti bus kami berlalu dengan doa-doa dan lambaian tangan.
Bus Damri yang mengantarkan kami ternyata tidak menuju terminal, namun langsung ke dalam bandara dan menurunkan kami di apron, depan tangga pesawat. Pantaslah kami sudah tas-tas jinjing kami dan barang lain yang ditenteng sudah dicek di Asrama Haji. Memang lebih praktis. Dari bus juga kami dibekali makanan untuk dinikmati.
Berangkatlah kami menuju Embarkasi Batam.