Sesudah pergi hajinya yang kedua, Bapak pindah tugas ke Jakarta. Syiar beliau tetap dilanjutkan kepada kawan-kawannya sekantor di Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri. Namun jika ditanya lagi apakah akan berangkat lagi untuk haji, maka beliau akan menjawab tidak.
“Kalian saja anak-anak bapak dan emak yang berangkat haji. Camkan dan niatkan untuk dapat bisa menunaikan rukun Islam kelima paling tidak sekali saja dalam hidup kalian.”
Ternyata bapakku tercinta punya rencana lain.
Walau dia tidak ingin kembali berangkat haji, namun kerinduan beliau berdua ke tanah suci tidak pernah sirna. Mereka ternyata tetap menabung buat bisa berkunjung ke Baitullah, ke Mekkah, dan ke Madinah.
Dan sesungguhnya memang bagi orang yang pernah menapakkan kaki bertawaf di keliling Ka’bah kerinduaan tersebut akan datang terus menerus.
Demikianlah dengan bapak dan emakku tercinta. Mereka berniat kembali ke sana lagi. Mereka menabung lagi.
Mereka akan umroh nanti jika dananya sudah cukup.
Pada tahun 2000 saat bapak dan emak pindah ke Jakarta, aku, istri dan anak pertama kami malah pindah ke Pontianak, karena sudah tidak bekerja lagi, terakhir aku bekerja di salah satu stasiun televisi di Jakarta dan istriku bekerja di sebuah hotel mewah di kawasan Senayan.
Mulai usaha di Pontianak, sampai akhirnya punya rumah produksi kecil yang bergerak di dunia photography dan videography. Memang pada awal tahun 2000 itu peluang usaha di bisnis dokumentasi sangat besar pangsa pasarnya. Berbekal kamera SLR Yashica 108 (yang dibelikan bapak saat aku kuliah) dan handycam Sony TRV23E (dari Arab) aku mulai menjajakan jasa dokumentasi pernikahan dan kegiatan kantor.
Alhamdulillah usaha ini aku tekuni dan berkembang cukup baik, apalagi setelah bisa mengedit sendiri foto dan video. Peralatan pun sejak 2005 sudah mulai digital. Job juga merambah ke beberapa kota di luar Pontianak. Fokus dan total hidup dari usaha ini.
Namun pada Maret 2006, ada lowongan pekerjaan sebagai admin di sebuah rumah sakit bersalin swasta yang akan dibuka pada tahun tersebut. Kebetulan saat itu istriku sedang mengandung anak ketiga kami. Wah lumayan nih pikirku. Bisa melahirkan gratis di sana. Hahaha.
Alhamdulilah aku diterima bekerja di sana. Namun yang aku harapkan buat bisa ‘numpang’ melahirkan anakku di sana juga tidak sesampaian. Hahaha. Mengapa? Karena RS yang rencananya mulai beroperasi Juli ternyata karena masalah internal malah tidak buka-buka sampai anakku lahir tanggal 19 September 2006. RS Ibu dan Anak itu malah baru mulai beroperasi tanggal 27 Septembernya. Hahaha. Memang gak boleh mengharap seperti itu. Sebuah pelajaran penting.
Tapi ujung-ujungnya juga emang biaya kelahiran anakku ini gratis juga sih. Lahirnya di klinik seorang bidan baik hati di Jeruju. Bidan itu adalah salah seorang sahabat bapak dan emakku yang pergi beribadah haji bersama-sama. MasyaALLAH.
Di tahun 2006 itu juga bapakku pensiun di bulan Juli, sementara di bulan yang sama aku mulai memiliki pekerjaan tetap di RSIA tersebut. Bapak hendak mensyukuri karir abdi negaranya dengan melakukan umroh. Dia dan emak mengajak kami anak-anaknya. Aku dan 4 adikku.
Bapak menghubungiku tidak lama setelah beliau lepas masa tugasnya. Mengajak aku ikut serta dengannya, menemaninya ke tanah suci.
Di sinilah aku menjadi orang yang merugi.
Dengan bodohnya aku menolak. Walau sebenarnya itu adalah pemikiran wajar seorang yang belum yakin untuk datang memenuhi panggilan itu. Seorang yang belum SIAP.
Alasanku cukup bisa diterima sih, walau mungkin saja beliau kecewa saat itu karena kami tidak bisa pergi bertujuh ke Haramain. Aku mengatakan bahwa aku baru saja bekerja, dan sedang menanti kelahiran anak ketiga. Padahal sebenarnya kegiatan di kantor belum aktif, dan kelahiran Puan masih cukup lama.
Sesungguhnya kalau boleh dibilang alasan utamaku adalah belum siap secara spiritual untuk berangkat umroh. Masih berpikiran bahwa ke tanah suci nanti-nanti saja. Masih mikir macam-macamlah soal dunia dan segala keriuhannya. Dengan sadar aku yang ‘mementingkan’ dunia dan merasa belum siap saat itu menolaknya. Entah karena masih ragu, karena masih banyak pikiran dan kegelisahan lelaki muda pecinta kemilau dunia, dan yang pasti karena baru saja teken kontrak kerja sama tempat kerjaku yang baru, aku dengan bodohnya mempersulit diri sendiri untuk berangkat. Passport lah, ini itulah, pokoknya benar-benar gak yakin untuk berangkat. Belum lagi kepikiran mending uang untuk itu dibelikan kebutuhan usaha yang sedang berjalan.
Benar-benar orang yang merugi.
Akhirnya Agustus itu memang bapak dan emak hanya berangkat dengan adik kedua, ketiga dan si bungsu. Yang nomor 4 juga tidak berangkat karena baru punya bayi.
Selepas itu pada tahun 2007, tepat di penghujung Ramadhan 1428 H., bapak kembali mengajakku untuk berangkat umroh bersama beliau.
Lagi-lagi aku menjadi orang yang merugi.
Dengan alasan kesibukan kerja di RS dan kegiatan usaha rumah produksiku yang makin ramai, aku menghindar untuk bisa berziarah ke kota kelahiran dan wafatnya Rasulullah SAW. Terus terang, sejujurnya yang aku rasakan adalah ganjalan spiritual semata. Aku merasa belum siap buat ‘hijrah’. Masih terlena permainan dunia.
Padahal umroh di bulan Ramadhan itu sama pahalanya dengan pahala berhaji bersama Rasulullah SAW sesuai dengan hadistnya
فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى
“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku”
(HR. Bukhari no. 1863)
Sepertinya kembali aku mengecewakan bapakku. Dari kelima anaknya hanya aku yang belum pernah memandang Ka’bah secara langsung di depan mataku. Dua kesempatan aku buang percuma.
Setelah 2007, mungkin bapak berusaha mengerti bagaimana aku tidak ingin sesegera mungkin berangkat ke tanah suci. Tapi di tahun yang sama dengan tidak diduga-duga saat beliau pulang ke Pontianak, beliau memintaku membuka tabungan haji di bank syariah. Sambil menyerahkan uang 10 juta rupiah.
“Karena kamu tidak berangkat umroh, ya sudah kamu buka saja tabungan haji buat pergi berdua sama istri.” Demikian kata beliau kepadaku dan istri, “Segera bikin. Nanti kamu tambahin dari pendapatanmu tiap bulan. Ada lebih masukkan. Bikin dulu tabungannya. Niatkan memang untuk ke Mekkah. Jangan kamu tunda, karena sekarang naik haji tidak seperti jaman bapak dulu. Kecuali kamu siap untuk haji plus. Sekarang kamu harus menunggu beberapa tahun untuk bisa berhaji.”
Besoknya dengan istri aku membuka tabungan haji di Bank BRI Syariah Pontianak.