Kejadian berkesan lainnya di Hijr Ismail juga terjadi di hari lain ketika aku ke situ dan selepas shalat, nah ketika berdoa aku dengar orang bicara dalam bahasa Indonesia, di tempat asing, suara seorang perempuan bicara dalam bahasa Indonesia, “Jangan lewat depan, pak. jangan ganggu, abangnya sedang berdoa.” dan bapaknya yang sedang menyela disampingku lantas mutar di belakangku.
Keesokan harinya selepas dzuhur di Masjidil Haram, aku sendirian menyelusuri daerah sekitar Masjidil Haram. Padahal sedang puasa tuh. Tapi untungnya tak terasa haus. Cuma kondisinya tidak seperti saat ini. Masjidil Haram belum ada pemekaran. Bahkan saat aku umroh dulu, persiapan ekspansi juga belum dimulai. Bahkan Zamzam Tower belum total dipergunakan.
Malamnya aku menggunakan beskap pernikahanku yang berwarna putih. Ini juga entah mengapa, bapak yang suruh aku bawa baju itu. Wanti-wanti sekali beliau menyuruhku saat itu. Beskap itu aku pakai di Madinah, dan sekarang di Masjidil Haram. Lengkap dengan kopiah aku serasa mau pergi nikah lagi. Hehehe. Bedanya saat menikah beskap ala sunda itu dipasangkan dengan blangkonnya, kali ini dengan peci hitam ala Indonesia. Gayaku juga sudah kayak ustadz-ustadz pengisi pengajian. Hahaha. Tapi percaya tidak percaya. Ada hikmah dibalik ini semua.
Karena berbuka puasa gak pakai perhitungan, aku malah mules-mules setelahnya, akhirnya menjelang Isya ditinggal sama bapak dan rombongan ke Masjidil Haram. Jadinya aku datang belakangan. Pergi sendirian, aku lihat jamaah sudah mulai memenuhi masjid besar itu. Dimana-mana ramai orang. Aku melangkah menuju ke pintu masjid. Penuh dan padat. Maklum malam Ramadhan. Luar biasa sesak jamaah hingga sulit kayaknya menemukan tempat. Alamat berjuang nih mencari lokasi kosong.
Masuk ke dalam masjid. Si ustadz wanna be Arief Budiman Adha celingukan mencari kira-kira dimana ada tempat yang kosong.

MasyaALLAH. Allahu akbar! Tiba-tiba dari kejauhan seorang petugas Masjidil Haram dengan jubah dan kufiya mendatangiku dan mengucapkan salam. Merangkulku.
Ya ALLAH. Apa ini?
Lantas dia datang dan mengawalku. Menunjukkan satu spot kosong yang sepertinya tertutup untuk jamaah umum. Ada pita pembatas mengelilingi, dan petugas-petugas yang berdiri mengawasi. Lokasinya sangat pas, tepat lurus ke arah Multazam. Aku duduk di tempat yang disediakan tadi, dan petugas baik itu berlalu setelah menepuk bahuku dan kepalaku.
Jangan-jangan dia salah orang. Demikian pikirku dalam hati. Aku yang bukan siapa-siapa ini malah merasa mendapat banyak keistimewaan dan kemudahan selama di tanah suci ini. Aku yang dulu menolak ke haramain karena ingat kata orang-orang yang pernah ke Mekkah dan Madinah bahwa segala perbuatan kita di tanah air akan dibayar kontan di tanah suci merasa ditampar. Ternyata ALLAH SWT tidak sejelek prasangka hambanya ini. Sekarang aku yang merasa berhutang kebaikan.
Saat pulang ke hotel setelah di kamar aku bercerita pada keluargaku. Bapak tertawa, “Nah betul khan ada manfaatnya saran Bapak kemaren? Mungkin kamu dianggapnya pangeran atau raja Melayu, Bud.”
Jadi sampai di sini jelaslah bahwa apapun nasehat orang tua yang kita ikuti InsyaALLAH berguna.
Satu lagi pengalaman menarik adalah saat jumatan di Masjidil Haram. Shalat jumat di sini, jangan samakan dengan jumatan di negara kita ya. Kita kebanyakan setelah azan baru berbondong ke masjid. Jaranglah yang sudah dari setengah jam sebelum azan, apalagi satu jam sebelumnya, jamaah sudah berada di masjid. Di Mekkah, penduduknya sudah mulai memenuhi masjid sekitar satu setengah jam sebelumnya. Berburu lokasi strategis dan nyaman untuk berdzikir maupun membaca Al Quran. Saat jumat pasti lebih ramai dari saat shalat dzuhur atau ashar.
Bapakku juga sudah agak telat karena terlelap tidur. Aku terpisah dari bapak yang pergi duluan. Lagi-lagi karena mules. Hehehe. Tiba di pelataran masjid, aku lihat bapak sedang duduk kepanasan di tengah terik matahari tanah Arab. Menutup kepalanya dengan sajadah. Dari jauh aku memandangnya sedih sekali. Di dunia tak bisa menolong beliau dari panas yang menyengat, apalagi nanti di padang mahsyar, saat kita bergantung pada amal perbuatan kita sendiri.
Ya ALLAH.
Sementara azan pertama baru saja dikumandangkan, jamaah sudah berjubel. Banyak yang berdiri, termasuklah aku. Aku berdiri celingak-celinguk. Keringat mulai meleleh di kepala, baju mulai basah. Posisiku saat itu di sekitar Gate Raja Fadh yang sedang direnovasi.
Tiba-tiba aku melihat seseorang menunjukku. Orang yang aku tidak kenal yang berada di depanku sekitar 10 meter. Aku mengangguk. Melihat kanan kiri. Ternyata benar aku yang ditunjuk. Dia melambai. Menunjukku lagi. Lantas menunjuk di sebelahnya. Ada ruang kecil antara dia dan jamaah lain yang berasal dari Afrika. Dia mengatakan sesuatu pada orang itu, lantas kemudian mereka bergeser ke kanan kiri hingga ada ruang buatku. Dia melambai lagi. Aku paham maksudnya. Segera aku mendekat. MasyaALLAH. Aku diberikan tempat untuk duduk yang terlindung dari panas di celah tiang penyangga gerbang Raja Fadh itu.
Lucunya lagi ketika ada sorang jamaah yang dari penampilannya tampak datang dari salah satu negara Afrika, hendak mengambil tempat yang disediakan untukku dengan menyimpan sendalnya di situ. Spontan diambil dan dibuang oleh orang yang tadi mengajakku duduk didekatnya. Bahkan dia mengomel pada orang itu dengan bahasa Arab. Menyuruhnya pergi.
Subhanallah. Berkah apa ini? Ingin kuberikan pada bapak, tapi tidak mungkin juga aku mencari beliau, karena posisinya sudah sangat jauh dariku.
Aku duduk mengucapkan terima kasih dalam bahasa Inggris. Tampaknya dia juga tidak fasih berbahasa Inggris. Egypt. Katanya sambil menyalamiku. Mengapa banyak orang Mesir yang baik padaku ya? Terlintas juga di dalam hati. Kami hanya bisa bertukar informasi sedikit saja. Karena pembicaraannya lebih dominan dalam bahasa Arab. Aku hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Sampai akhirnya shalat jumat berakhir dan kami berpisah.
Aku menyempatkan diri naik ke lantai paling atas dan melihat Ka’bah di bawah sana.
Oh ya, jika shalat jumat di Masjidil Haram, jangan lupa membawa headset untuk mendengarkan terjemahannya di radio. Frekwensinya kalau tidak salah ingat 90.5 FM.

Pulang ke hotel, bapakku tentu saja sudah tiba duluan. Tampak beliau lelah dan haus sekali karena berjemur. Namun tetap berpuasa. Aku cerita sama beliau kejadian tadi. Matanya takjub. Ini keberuntunganku yang berikutnya.
“Kapok nggak, Pak, pergi umroh?” Tanyaku.
“Tidaklah. Cuma nanti harus awal-awal ke masjidnya untuk jumatan.”
Dan memang beliau tidak kapok berangkat umroh. Tahun depan, di 2012 beliau berangkat lagi untuk umroh terakhir kali, karena setelah itu mulai sakit sehingga akhirnya meninggal menjelang Ramadhan 2016.
Ada beberapa hal yang juga menurutku dimudahkan. Kalau mau tahu, aku jabarkan di bawah ini.
Barang-barang keluargaku dilindungi, yang kemaren protes soal hotel malah barangnya ada yang hilang.
Yang protes hotel malah terusir dari hotelnya. Akhirnya dipindahkan. Soal ini juga aku gak tahu dan gak tanya kenapa.
Setiap belanja, pasti dapat potongan harga, misalnya kurma coklat, bisa dapat potongan, malah sampai 50% dari penjualnya.
Dibolehin naik onta gratis. Yang lain mesti bayar.
Oh iya. Pernah juga dimarahin sih. Sekali sama polisi karena iseng ambil photonya. Kedua sama orang Pakistan. Kalau yang ini baik marahnya. Dia ingatin aku untuk gak nampakin lutut ketika ambil wudhu ketika menggunakan sarung. Aurat, gitu deh nasehatnya. Lalu ngeloyor pergi.
Demikianlah pengalaman umroh pertamaku. Masih ada banyak cerita kenangan dan pengalaman. Pergi umroh itu memang membuat kangen. Pantas aja kata adikku yang pergi berdua dengan bapak tahun 2007 bilang dulu bapak sangat ingin ke tanah suci buat umroh setiap tahun. Umroh itu nikmat sekali, sayangnya bapak baru dapat info umroh ini tahun 2006. Sebelumnya tidak tahu bagaimana caranya pergi umroh. Tidak mendapat informasi. Bisa dimaklumi karena saat awal 2000an bisa dibilang jarang sekali travel yang menyediakan jasa ini. Apalagi di kotaku.
Jadi memang informasi itu penting untuk disebarkan. Sama dengan niatku menulis kisah ini semua. Untuk sedikit membagikan pengalaman, juga berbagi informasi. Syukur-syukur bisa memotivasi pembaca yang belum ke tanah suci bisa segera ke sana.
Intinya pergi umroh itu harus diniatkan. Dimulaikan dengan ikhtiar. Dan istiqamah untuk mencapainya. Orang yang mampu belum tentu mau ke tanah suci. Dari pengalaman saya, 2 kali sebenarnya diundang ke sana saya abaikan. Mampu bapak dan emak membiayai. Tapi karena bodoh dan lalai saya tidak langsung berangkat. Andai saja kejadiannya sama dengan masa pandemi ini. Bisa-bisa malah tidak pernah ke sana.
Pesan saya, ketika niat umroh, jangan berpikiran hal lain. Kenapa saya bilang seperti ini? Adik saya nomor 2 dan nomor 4 adalah bukti ketika memiliki niat lain saat pergi umroh itu akan merugikan dan mendapat pengalaman yang tidak mengenakkan. Padahal itu niat sekunder. Mereka saat hendak berangkat umroh sudah memikirkan bahwa di Arab sana bisa belanja murah. Memang sih beberapa barang seperti jam tangan murah-murah dan update di sana. Jadi adik-adik saya ini belanja di sana.
Ujung-ujungnya? Hilang di tanah haram.
Bisa ya? Itulah rahasia ALLAH SWT yang tidak kita ketahui.
Semoga kita yang berniat umroh atau haji disegerakan ALLAH SWT ke sana sesegera mungkin dan dengan kebaikan cara apapun juga yang diberikan-NYA. Aamiiin.