Sarapan di hotel, menunya sangat enak, cocok dengan seleraku. Bisa dibilang travelku pintar cari katering Indonesia yang punya juru masak bagus. Kayaknya sih orang Sunda, karena menunya kebanyakan menu Jawa Barat. Di Arab ini buah-buahnya enak. Mulai pisang cavendish, anggur, plum, apel dan lain-lain. Di sudut dekat pintu masuk restoran hotel, ada meja kecil. Isinya macam-macam. Dari kartu SIM, pulsa, parfum non alkohol, tasbih, sampailah hajjar jahanam. Tau apa itu hajjar jahanam? Batu jahanam kalau diartikan. Ini semacam obat kuat yang pemakaiannya dioleskan. Ada-ada saja.
Di restoran juga bertaburan penjaja riyal. Kursnya bisa lebih murah, namun sering kali lebih mahal.
Selepas sarapan, kembali ke masjid untuk menyempatkan dhuha, dan ada selepas waktu kunjungan jemaah perempuan ke raudah, kami akan diajak keliling sekitar Masjid Nabawi.
Karena lokasi hotel, aku lebih sering masuk mesjid lewat pintu Usman atau Uhud, yang lain hanya sekali atau malah ada yang tidak pernah aku lewati. Kalau tidak salah ada 11 pintu mesjid besar ini.
Bersama mutawif kami menuju ke lokasi-lokasi di antaranya mesjid Ali bin Abu Thalib, mesjid Abu Bakar Siddiq dan mesjid Ghamamah. Keliling-keliling baru terakhir di komplek pemakaman Baqi.
Menjelang matahari tinggi ada pemandangan lain di pelataran mesjid Nabawi. Payung-payung raksasa di buka untuk menghalangi panas matahari. Begitu juga di banyak titik disemprotkan uap air yang memberikan rasa sejuk kepada para jamaah. Luar biasa memang mesjid ini.
Malamnya shalat Isya setelah bapak pulang, aku mengikuti petunjuk bapak bagaimana caranya agar bisa berada di Raudhah. Oh iya, saat itu menjelang bulan Ramadhan, jamaah yang pergi umroh teramat banyak. Jadi perjuangan untuk tiba di karpet hijau yang terhampar diantara makam dan mimbar Rasulullah SAW itu sungguh luar biasa. Tubuhku yang kecil terhimpit jamaah yang besar-besar. Hehehe. Untunglah perjuanganku tak sia-sia. Bisa juga aku berada di situ, shalat dan berdoa di sana. Berdasarkan petunjuk bapak, maka aku berdoa dalam posisi sujud, karena menurut pengalaman beliau jika kita berdoa dengan posisi duduk maka akan segera diminta beranjak dan bahkan paling cepat disuruh askar yang berjaga untuk meninggalkan area Raudhah tersebut.
Sepuas-puas dan sebisa-bisanyalah aku memohon ampunan atas segala dosa, sembari membisikkan doa-doaku dalam sujud di Raudhah itu. Air mata mengalir tanpa terasa. Sungguh sangat terasa beruntung diri yang lemah ini. Bersandar pada keyakinan bahwa dosa diampunkan dan doa dikabulkan, aku mintakan apa-apa yang terbaik untuk diri ini dan keluarga.
Ya ALLAH, sungguh berkah hamba akhirnya bisa ke sini.
Ke tempat yang doa akan diijabah.
Ya ALLAH, sungguh beruntung hamba memiliki orang tua seperti bapak dan emak.
Yang mengajarkan bagaimana bisa beribadah sebaik-baiknya hanya pada-Mu.
Singkat cerita di perjalanan umroh ini kami, di Madinah kami mengunjungi beberapa tempat penting yang ada di sana, untuk berziarah dan berwisata. Ada beberapa kejadian penting yang dialami aku selama berada di lokasi ziarah di Madinah ini.
Tahun 2011 itu handphone belum secanggih sekarang. Kalau sekarang hp itu bisa dipergunakan juga sebagai kamera, tapi di tahun aku pergi umrah itu hp tercanggih dan termahal sekalipun tidak memiliki kamera yang mumpuni. Sebagai photographer (amatir) aku tentu saja terbiasa menggunakan kamera. Tapi saat itu aku gak membawa kamera SLR, karena pasti akan menyulitkan. Dari teman kantor aku dapat pinjaman kamera pocket Sony Cybershot DSC-W320 yang lumayanlah buat bekal dokumentasi di perjalanan.

Di masjid Quba, tempat yang jika kita mengambil wudhu dari rumah (hotel) lalu shalat 2 rakaat disitu maka kita mendapatkan pahala senilai umroh, aku mengambil foto dan sempat juga minta fotoin bapak di dalam mesjid itu. Alhamdulillah aku diperbolehkan berfoto, sementara aku lihat beberapa orang dilarang ketika mereka mengeluarkan kamera sakunya.
Juga ketika kami berkunjung ke Kompleks Percetakan Alquran Raja Fahd atau Majma Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif. Selepas berkunjung ke dalam maka kami pengunjung pria mengantri untuk mendapatkan mushaf yang diserahkan oleh seorang kakek tua dengan pakaian laksana imam masjid Nabawi dan masjidil Haram yaitu misylah atau bisth. Beliau menyerahkan dan menyalami pengunjung satu demi satu.
Tiba giliranku, entah kenapa beliau meletakkan kedua tangannya seolah berdoa, dan selepas itu merangkulku seraya berbicara dalam bahasa Arab. Aku tak mengerti apa yang diucapkannya. Tapi raut wajah dan senyumnya menunjukkan kebahagiaannya. MasyaALLAH. Bapak sampai bingung dengan kejadian ini, karena beliau berada di belakangku.
Saat di bus dalam perjalanan pulang, bapak sambil bercanda bertanya kepadaku, apa yang didoakan dan diucapkan sheikh itu kepadaku. Aku juga tidak mengerti. Tapi sepertinya sheikh ini menyangka aku seorang mualaf kali ya. Hahaha. Wajah dan kulitku khan kayak orang keturunan Asia Timur. Tapi apapun itu, pengalaman ini berkesan sekali buatku.
Oh iya, masalah yang terjadi karena hotel jamaah yang berbeda adalah ketika pergi dan pulang kami harus memutar dulu ke hotel satunya lagi. Belum lagi jamaah tersebut tidak tepat waktu. Membuat yang lain harus menunggu mereka sebelum berangkat berziarah.
Selama berada di Madinah, jamaah bisa setiap saat menziarahi makam Nabi Muhammad SAW. Jamaah selalu berupaya menyempatkan waktu untuk shalat berjamaah. Rutinitas yang selama beberapa hari dilakukan tersebut membuat jamaah begitu berat meninggalkan Masjid Nabawi.
Di hari terakhir bulan Sya’ban 1432 Hijriah itu kami meninggalkan kota Madinah, menyisakan haru dan rindu kepada kota ini bahkan saat belum kami tinggalkan. Perasaan kehilangan pasti dirasakan siapapun ketika meninggalkan Kota Madinah. Kehangatan dan keramahaan Masjid Nabawi yang dirasakan jamaah selama bermukim beberapa hari begitu membekas di hati.
Rombongan mengambil Miqat di Masjid Bir Ali, yang terletak di Zulhulaifah. Masjid Bir Ali dibangun pada masa Rasulullah SAW. Dulunya terdapat sebuah pohon berbentuk akasia, pohon tersebut menjadi tempat bernaungnya Rasulullah SAW ketika ingin menjalani umrah. Kemudian masjid ini dibangun di dekat pohon tersebut.
Sejarahnya, lokasi ini dijadikan Rasulullah SAW tempat melaksanakan miqat dan berihram untuk umrah yang kemudian hingga saat ini jemaah seluruh penjuru dunia meneladani jejak Rasulullah SAW untuk miqat dan berihram di Bir Ali.
Nama Bir Ali sendiri diberikan saat Ali bin Abi Thalib menggali sumur dengan jumlah sangat banyak di masjid ini. Karena itulah tempat ini diberi nama Bir Ali. Bir artinya sumur dengan bentuk jamak, sedangkan Ali merupakan tokoh yang telah menggali sumur tersebut paling banyak.
Namun saat ini sumur-sumur itu tertutup bangunan di sekitar masjid dan masjid itu sendiri. Masih ada satu sumur yang bisa diakses pengunjung yang berada di dalam kompleks masjid.
Bersama Mutawif Ust. Hambali
Setelah menggunakan ihram dan niat berumroh, perjalanan pun dilanjutkan sampai ke kota Mekkah.
Niat umroh yaitu :
نَوَيْتُ العُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلهِ تَعَالَى لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بعُمْرَة
Nawaitul ‘umrata wa ahramtu bihi lillahi ta’ala labbaika Allahumma ‘umratan
Artinya: “Aku niat melaksanakan umrah dan berihram karena Allah Swt. Aku sambut panggilan-Mu, ya Allah untuk berumrah.”
Berihram ini agak-agak berat lho bagi aku dan bapak? Kenapa? Karena kami berdua punya kebiasaan iseng suka mencabut bulu hidung. Hehehe. Kalau yang lain kayaknya nggak deh. Gak mungkin bunuh binatang. Tak terbiasa pula berbicara kotor.
Lebih lengkapnya larangan ihram itu adalah berikut ini:
Laki-laki dilarang:
- Memakai pakaian biasa
- Memakai kaos kaki atau sepatu yang menutupi mata kaki dan tumit
- Menutup kepala yang melekat seperti: topi atau peci dan sorban.
Perempuan dilarang
- Menutup kedua telapak tangan dengan kaos tangan
- Menutup muka dengan cadar.
Laki-laki dan perempuan selama ihram dilarang:
- Memakai wangi-wangian kecuali yang sudah dipakai di badan sebelum niat haji/umrah.
- Memotong kuku dan mencukur atau mencabut rambut dan bulu badan.
- Memburu dan menganiaya/membunuh binatang dengan cara apapun, kecuali binatang yang membahayakan boleh dibunuh.
- Menikah, menikahkan, atau meminang perempuan untuk dinikahi.
- Bercumbu atau bersetubuh.
- Mencaci, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor
Perjalanan dengan bus besar dan disupiri seorang supir asal Sumedang bernama Dadang ini berlangsung cukup lama, mutawif sesekali bercerita tentang sejarah Rasulullah SAW di sela-sela talbiyah. Pemandangan padang pasir membuat aku membayangkan bagaimana perjuangan Rasulullah SAW saat hijrah dari Mekkah ke Madinah. Apalagi saat memasuki Mekkah yang tampak berbukit-bukit. Luar biasa pastinya. Menaiki onta dan berjalan kaki. Rasa haru terasa.