Muzdalifah
Muzdalifah kami tempuh setelah selesai wukuf, sempat terlambat juga bus yang menjemput kami karena banyak sekali kendaraan yang harus antri dengan tertib ke tempat masing-masing tenda. Kondisi jamaah sudah sangat lelah. Banyak juga yang mendadak batuk-batuk karena cuaca yang cukup panas. Masuk Muzdalifah juga bus mengantri.
Luar biasa jamaah yang mabit di Muzdalifah ini. Dari ujung ke ujung lautan manusia. Nyaris tidak ada tempat tersisa, bahkan untuk sekedar duduk saja sulit rasanya. Kasihan yang sudah lanjut usia. Yang dibawa anaknya aku lihat banyak sekali yang digendong anaknya.

Di kloter kami juga banyak orang tua. Tapi alhamdulillah mereka tetap sabar dan mengikuti petunjuk dari kami. Di Muzdalifah ini kami dibagikan batu, namun bagi sebagian kami lebih afdol mencari batu sesuai dengan kebutuhan dan perkiraan lemparan kami di Jamarat nanti.
Bersama bang Iwan Dharmawan dan Pimpinan Kloter Kami H. Masri
Pada pagi harinya lautan manusia yang berjalan menuju Mina tampak luar biasa.
Mina
Menjelang siang kami diantarkan menuju Mina. Di Mina tenda-tenda berukuran tidak terlalu besar sudah disiapkan. Tenda-tenda yang sebenarnya tidak cukup untuk menampung jamaah calon haji. Bisa dibayangkan tenda seukuran 4 X 7 meter dipergunakan untuk menampung jamaah laki-laki sebanyak 30an orang. Di situ untuk tidur. Di situ untuk shalat berjamaah. Tenda ibu-ibu lebih menyedihkan lagi. Ukuran yang lebih kecil, hanya seukuran 3 meter untuk menampung hampir 30 orang wanita.
Gara-gara tenda inilah terjadi sesuatu peristiwa yang sangat membekas di hati jamaah Kloter BTH 16, terutama yang dari Pontianak.
Ketika kami datang, kami memang disambut oleh satu regu dari Kloter Riau yang juga berangkat dari Batam. Entah bagaimana, regu ini digabungkan dengan kami yang dari Pontianak. Sebenarnya di hotel juga kami sudah berkumpul dan saling mengenal, terutama bapak-bapaknya. Bahkan salah seorang sepupu bapakku malah akrab sekali dengan mereka. Regu ini dipimpin oleh seorang doktor yang merupakan profesor sekaligus ketua di salah satu lembaga pendidikan di pulau Sumatera. Bapak ini sangat baik dan ramah. Dan sebenarnya kami tidak ada masalah ketika regu ini bergabung dengan kami. Jadi barang-barang mereka diletakkan di dalam tenda kami. Yang lelaki di tempat lelaki, yang perempuan di tempat ibu-ibu.
Aku dan istriku langsung menunaikan kewajiban melempar jumrah yang pertama, yaitu Aqabah. Aku dan istri pergi bersama Adnan dan Winda istrinya, Mbak Yani dan 2 orang ibu lagi yang minta bergabung bersama kami. Melempar jumrah selesai berarti kami sudah boleh tahalul awal, mengganti ihram kami. Selanjutnya kami antri untuk mandi.
Selesai mandi ketika kami kembali ke tenda kami menyaksikan istri dari pak profesor tadi sedang mengomel karena barang bawaan mereka dikeluarkan dari tenda wanita Kota Pontianak. Entah siapa yang mengeluarkannya, karena saat itu memang tidak banyak yang ada di tenda. Kata istri profesor itu ada ibu-ibu berkaca mata yang mengeluarkan tas mereka. Wah gawat. Aku tanya istriku, karena dia berkacamata. Namun setahuku tidak mungkin karena Djati selalu bersamaku. Dan cukup banyak ibu-ibu Kloter kami yang menggunakan kacamata.
Kami berusaha menenangkan. Termasuk sang profesor yang sebenarnya tidak menginginkan hal ini terjadi. Ini adalah hari yang baik. Hari dimana kami akan menyandang predikat haji setelah melempar jumrah pertama.
Tapi emosi sudah tidak bisa ditahan. Ego sudah tidak bisa ditekan. Permusuhan tidak bisa dielakkan. Sudah cukup Ketua Kloter berusaha mendamaikan. Akhirnya regu pak profesor tadi kembali bergabung dengan Kloter mereka.
Kejadian ini memang cukup mengganggu. Karena kita tidak tau sebab musababnya. Sejak saat itu situasi kami menjadi tidak nyaman. Bapak-bapak yang selama ini akrab jadi terpaksa mengelak untuk bertegur sapa.
Kejadian ini menjadi salah satu ujian saat di Mina. Rumor pun berkembang, karena ada saja yang tidak bisa menahan komentar. Padahal sebenarnya tidak ada masalah juga, buktinya 2 orang ibu dari regu mereka tadi tetap bertahan di tenda Kota Pontianak.
Hal yang paling aku ingat di Mina ini adalah betapa cinta dan hormatnya rakyat Palestina kepada kita orang Indonesia.
Ceritanya saat selesai melempar jumrah di tanggal 12 Dzulhijjah aku berpapasan dengan rombongan Palestina yang dipimpin seorang ulamanya. Sang imam menyapa assalamu’alaikum duluan lantas disambut dengan ucapan Indonesia, dengan maksud bertanya.
“Ya, Indonesia.” Jawabku. Sang Imam langsung menyalami dan memelukku penuh persaudaraan. Bahkan kami berjalan beriringan dan aku membawa bendera mereka menuju arah keluar terowongan Mina. Sang imam berdoa sambil berjalan itu. Sesekali menyebut Palestina, menyebut Indonesia di dalam doanya.
Tiba di luar terowongan karena akan berpisah aku sempatkan berfoto bersama mereka. Yang motoin Djati, istriku. Setelah itu bubar. Saat aku melihat hasilnya, aku merasa sedih sekali. Foto bendera Palestina yang aku angkat terpotong. Huhuhuhu. Padahal itu keren banget. Tapi ya mau gimana lagi. Yang motret istri sendiri. Hahahaha.

Selain itu sempat juga mengantarkan sepasang suami istri yang telah berumur yang tertinggal dari rombongannya, dimana sang suami menunggu istrinya yang sakit saat melempar jumrah. Kasihan juga melihatnya menangis takut tidak dapat menemukan lokasi tendanya.
Seperti yang aku ceritakan, situasi Mina memang menjadi ujian bagi jamaah. Lokasi tenda yang kurang membuat kami tidur saling berimpitan. Bahkan ada yang tidur duduk, atau tidur di luar di atas kursi roda tim kesehatan. Atau membujurkan tubuh di sisi-sisi gang.
Belum lagi kapasitas kamar mandi dan toilet yang sangat kurang. 10 kamar mandi diantri ratusan jamaah. Yang tidak tahan malah ada yang buang kotoran di sekitar lokasi kamar mandi umum tadi. Pokoknya menjijikkan. Belum lagi yang tidak perduli buang air kecil di tong-tong sampah yang disediakan.
Huaaaaaah. Untunglah aku minum Imodium yang aku siapkan. Istriku juga. Jadi dari Arafah sampai kembali ke hotel kami tidak ada buang air besar. Hehehe. Saranku nanti jika berangkat haji reguler, bawalah selalu Imodium atau yang lebih murah tapi sama isi dan khasiatnya, Lodia.
Akhirnya aku mengajak berunding bapak-bapak di Kloter Pontianak, dan menawarkan untuk mengajak yang sudah sepuh dan sakit untuk mengambil Nafar Awal.
Nafar adalah bagian dari rangkaian ibadah haji yang berarti meninggalkan Mina ke pada hari-hari tasyrik menuju ke Mekkah. Nafar dibagi menjadi dua, yakni nafar awal dan nafar tsani. Disebut nafar awal karena jamaah haji keluar dari Mina setelah melontar jumrah sughra (ula), wustha, dan aqabah (kubro) pada 12 Dzulhijjah sebelum terbenam matahari. Adapun nafar tsani adalah keluar dari Mina setelah melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada 13 Dzulhijjah.
Mereka setuju. Bang Iwan Dharmawan, bang Wayan, bang Adnan, Om Alamsyahrum (ini juga keluargaku) setuju untuk menemaniku kembali ke Mekkah. Kami melapor kepada Ketua Kloter bapak Haji Masri untuk mohon dipersiapan bus naqabah yang akan membawa kami ke hotel. Pak Masri pun menyanggupi dan segera menghubungi panitia untuk menyediakan bus yang kami butuhkan.
Sampai di sini terjadi masalah lagi pada tanggal 12 Dzulhijjah tersebut. Ternyata oleh panitia bus kami disatukan lagi dengan bus dengan rombongan sang profesor. Situasi jadi kacau karena di tenda antrian kelompok mereka yang dikomandoi istri profesor tersebut menyatakan ketidaksetujuannya. Mereka mengklaim bus itu pesanan mereka.
Kami malas berdebat, karena kami tahu yang mengatur adalah panitia sesuai dengan maktab atau hotel yang dituju. Kami menyingkir ke tenda depan, dan bersiap menanti aba-aba dari pak Masri.
Saat waktunya tiba Iwan yang kebetulan memang cukup dekat dengan pak profesor bersama Wayan mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan mengajak profesor bercakap-cakap. Pihak profesor hanya mengijinkan 5 orang anggota Kloter Pontianak yang dianggapnya dekat sama mereka untuk bisa ‘menumpang’ di bus mereka tadi.
Saat bus datang pak Masri segera mengatur agar kami bisa naik duluan. Jadi di bus itu ada sekitar belasan orang dari Kloter Pontianak yang duduk dan mengambil tempat berdekatan. Baru kemudian rombongan profesor naik. Hal ini membuat mereka murka, mau mengusir kami juga tidakada kuasa. Iwan dan Yayan mengamankan diri di bus yang di belakang bus ini.
Bus pun berangkat, disusul oleh 2 bus lagi di belakang kami.
Di sepanjang perjalanan istri profesor yang cantik itu menyindir bersahut-sahutan dengan temannya yang satu regu. Sang profesor coba dilibatkan oleh istrinya dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan pancingan. Soal berapa kali beliau naik haji. Pergi umroh. Pendidikan. Jabatan. Pak profesor sebenarnya jengah juga. Namun jika tidak menjawab mungkin khawatir menyakiti hati sang istri. Jadi itulah yang terjadi.
Sering juga menyindir kami yang dianggap tidak tau adab karena mengusir mereka. Atau mengatakan kami tidak tahu malu menumpang bus yang disediakan untuk mereka. Adnan yang masih muda dan emosian sempat menjawab dan beradu argumen dengan sang istri profesor tadi. Aku meminta Adnan untuk tenang dan mengacuhkan saja semua omelannya. Toh perjalanan ini tidak akan lama. Karena jarak Mina ke Jarwal tidaklah jauh. Biarkanlah saja ibu itu mengomel sepuas-puasnya.
Tapi entah bagaimana, kami tidak bisa menuju hotel. Bus kami sampai berputar-putar tidak dapat menemukan jalan ke arah hotel kami. Sampai 3 kali kami menemukan tikungan yang sama. Tapi jalan besar ke arah hotel kami tidak nampak jua. Sang supir sampai kebingungan. Padahal biasanya paling gampang menemukan petunjuk arah ke hotel kami dan ada pertigaan yang di sisi kanannya adalah komplek kantor kerajaan.
Aku merasa ada sesuatu yang salah, apalagi efek Imodium sudah mulai hilang. Ada panggilan alam yang harus dituntaskan. Penumpang mulai resah karena kami tidak sampai-sampai. Adnan menghubungi abangnya lewat WA dan mendapat kabar sang abang yang menggunakan bus di belakang kami telah tiba di kamarnya. Sementara kami nyasar di lokasi yang sama, berputar-putar.
Sang istri profesor masih riuh bersahutan dengan temannya, sementara sang suami sepertinya sudah bosan lebih banyak diam dan mulai sadar ada yang tidak beres dengan perjalanan kami. Sementara si ibu cantik masih tetap nyerocos tidak sadar mengapa kami tidak sampai juga ke maktab.
Kesabaranku habis. Aku berdiri dari kursiku dan langsung membentaknya; “Ibu mau kita sampai ke hotel gak?! Kalau mau, sekarang ibu diam!!!”
Kontan seisi bus diam dan sunyi. Sejurus kemudian bus menemukan jalan ke arah hotel kami.
Subhanallah.
Sepertinya itu teguran karena kami bertengkar dan merusak ukhuwah di antara jamaah.
Jadi kejadian ini adalah kejadian yang tidak akan dilupakan jamaah yang berada di bus saat itu. Sampai sekarang pun kalau kami berkumpul dan menyinggung hal itu maka sahabat-sahabat Baitullahku itu akan berkomentar ternyata Pak Arief itu galak, ya. Hahahaha. Tidak tahu saja mereka kalau itu tuntutan racun yang minta dikeluarkan dari dalam perut. Hahaha. Memang begitu tiba yang aku tuju pertama kali adalah kamar mandi. Hahaha. Lega.
Di hotel Mekkah dan Madinah kami tetap satu maktab, namun suasana ya terlanjur dingin. Namun sebelum berpisah di Batam kami sempatkan untuk bermaaf-maafan. Sehat selalu, pak profesor.