Puntung Pembuat Heboh
Seperti aku ceritakan sebelumnya bahwa di kamar 2528 ini kami tempati berlima. Sebagai catatan cara membaca kamar kami walaupun nomornya 2528, namun bukan berarti kami berada di lantai 25, tapi di lantai 5, kamar 28. Angka 2 yang pertama ini adalah nomor tower kami, karena hotelnya terdiri dari dua bangunan yang bersebelahan, tapi bersatu lobby dan lantai 1. Secara fasilitas hotel ini cukup nyaman, jika aku bandingkan dengan hotel yang ditempati saudara-saudaraku yang ikut KBIH. Terutama jumlah lift. Di hotel kami sangat banyak. Ada belasan lift untuk kedua tower ini. Mungkin karena kami bukan kloter utama, maka isi hotelnya bermacam provinsi. Istilah yang kami pakai ini Kloter Nusantara. Sedangkan kloter utama memang dikumpulkan di tempat-tempat yang memiliki kamar yang banyak dan bisa ditempati semua jamaah ‘utama’ tadi. Khan tidak lucu satu KBIH tapi berbeda maktab.
Nah di kamar kami ini ada 2 orang ahli hisap kawakan. Pak Sopian dan Pak Muis dengan senjata andalan masing-masing. Tapi jumlah amunisi Pak Sopian tidak sebanyak pak Muis.
Aku ingat sekali peristiwa itu, tanggal 22 Agustus, kami baru pulang dari Masjidil Haram, karena telah terbiasa dan mengerti taktik agar cepat bisa pulang, khusus Isya kami mulai berada di daerah luar sekitaran pintu 25 untuk melaksanakan shalat Isya, jadi bisa segera menuju ke Syib Amir sesudahnya. Jadi malam itu kami sudah lengkap di kamar. Mulailah kami memasak air. Keuntungan sekamar dengan pak Suprapto yang wakil bupati Ketapang ini adalah perlengkapan beliau sangat banyak, kopi gula dan alat untuk menjerang air juga ada. Membuat kopi dan minum sambil ngobrol. Berkumpul dengan para senior itu menambah wawasan dan ilmu. Mereka sudah usia di atas 50 tahun dan ada yang sudah pensiun. Sedang aku baru menjelang 45 tahun.
Pak Sopian dan Pak Muis mengambil tempat mereka, di samping jendela yang bisa dibuka. Di bawah jendela itu adalah balkon tempat meletakkan outdoor AC dan biasa kami pakai untuk menjemur pakaian seperti handuk dan baju kaos. Untuk mencuci di atas hotel ada disiapkan mesin cuci dan area jemuran. Cuma seperti pak Sopian dan pak Suprapto yang berangkat sendirian, cuci jemur printilan emang lebih simpel dilakukan di jendela.
Mulailah mereka merokok. Asyik juga kami ngobrol dan bercanda. Saking asyiknya kami tidak sadar ada yang berteriak-teriak dari jalanan di bawah hotel. Memang posisi kamar kami di samping yang tampak dari jalan arah hotel dan jalan utama di lingkungan Maktab.
Sampai beberapa lama kami tidak mengacuhkan teriakan dan kegaduhan dari jalanan. Kami anggap biasalah ada orang-orang menggelar lapak jualan di situ seperti biasanya. Namun tak lama kemudian ada teriakan dari kamar sebelah yang ditempati bang Wayan dan bang Adnan.
“Pak Sopian! Pak Arief! Api pak!!! Api!!!”
Aku dan yang lain serentak menuju ke arah jendela. Tampaklah api sedang berkobar di samping mesin pendingin ruangan.
Ya Tuhan!
Berbarengan itu masuk seorang Arab dengan membawa ember berisi air. Menginjak tempat tidur Pak Sopian dan menyiram api yang berkobar tadi. Teman-teman dari kamar sebelah sudah memenuhi kamar kami. Sepertinya dia mendapat info dari jamaah yang melihat api dari jalanan.
Sang Arab tadi mengomel dan marah dalam bahasanya. Kami berpandangan dan masih bengong karena kaget karena peristiwa ini.
“Rokok tidak bagus.” Kata orang Arab yang sepertinya owner atau Manager di hotel ini, dengan marah terputus-putus karena mencari kata yang pas, “Jangan merokok di ruangan lagi!!! Jangan buang di jendela.”
Adnan yang memang suka bercanda dan iseng menimpali.
“Tangkap itu Pak. Itu yang merokok.” Katanya sambil menunjuk pak Sopian dan pak Muis, sambil tertawa iseng.
Orang Arab tadi melihat kedua bapak-bapak yang sudah dengan pakaian santainya, yaitu kaos dalam saja, hahaha.
“Tidak boleh merokok.” Katanya sambil menunjuk-nunjuk. Lantas berlalu.
Adnan masih saja mencandai pak Sopian dan Pak Muis, sambil tertawa-tawa.
“Sprei saya bagaimana mister?” Kata pak Sopian kepada orang Arab itu sebelum dia meninggalkan kamar kami, sambil menunjuk tempat tidurnya yang dikotori tapak sepatu dan air, orang Arab itu menggeleng-geleng saja, mungkin karena tidak mengerti apa yang dikatakan pak Sopian.
“Jangan diganti Pak.” Kata Adnan kepada si orang Arab.
Amarah pak Sopian timbul. Dia menunjuk kepada Adnan.
“Kau anak kecik ye! Jangan nak macam-macam.”
Adnan hendak menyahut, namun kami segera menyuruhnya kembali ke kamarnya, sebelum keadaan makin kacau.
Pak Sopian memeriksa bekas kebakaran, di latar belakang jalan di samping hotel
Tak lama datang housekeeper mengganti seprei dan selimut tempat tidur pak Sopian dan mengepel lantai kamar kami. Catatan, hoosekeper kamar ini ada 2 orang untuk satu lantai yang bergantian setiap harinya. Yang kami kenal dan dekat adalah seorang bernama Hasan asal Bangladesh.
Besoknya setelah kami amati asal kobaran api tersebut adalah puntung rokok yang menyentuh bulu burung-burung mati yang ada di sekitaran outdoor AC kami. Bulu kering karena panasnya Arab ini dengan mudah tersulut percikan api dan ditambah angin padang pasir yang kontinyu membuat api cepat berkobar. Untunglah api tidak besar dan bisa dipadamkan segera. Kalau tidak pastilah ada berita di koran nasional tentang pemondokan jamaah yang terbakar. Hehehe.
Sejak saat itu para perokok selalu berbekal bekas gelas air minum yang diisi air untuk mematikan rokoknya dan tidak sembarangan membuang puntung rokok lewat jendela.
Perang dingin antara Bang Adnan dan Pak Sopian sempat berlanjut sampai akhirnya saling bermaafan menjelang kami ke Arafah. Hehehe.
Berjumpa Master Poligami
Senangnya berada di Masjidil Haram ini baik saat berangkat umroh ataupun musim haji ini adalah kita dapat menemui banyak saudara muslimin yang berasal dari banyak daerah, dan juga banyak negara. Di sini kita tidak pernah memperdulikan apa mashab yang diikuti, atau aliran apa yang dijalankan. Islam adalah Islam. Cukup itu saja. Kalau di negara kita malah saat ini gampang menunjuk orang bid’ah atau kafir padahal masih sama-sama bersyahadat. Padahal mereka yang gampang seperti ini hanya belajar dari beberapa orang guru, bahkan hanya dari satu guru agama saja. Untung-untung mendatangi pengajian dan kajian langsung bukan hanya dari channel Youtube.
Persaudaraan dan keakraban juga bisa muncul dari pembicaraan ringan dan pembahasan terbatas. Bahkan berbagi sajadah saja bisa berbuah saling menyayangi sesama muslim.
Jika waktu kemaren umroh di 2011 aku banyak berinteraksi dan ditolong oleh penduduk Mesir, maka kali ini bertemu dan sempat ngobrol dengan banyak orang. Alhamdulillah yang aku ajak bicara ini bisa berbahasa Inggris. Dari orang Turki aku dapat cerita tentang biaya haji mereka yang nyatanya sedikit lebih mahal daripada ongkos naik haji kita. Namun melihat fasilitas hotel, akomodasi dan transportasi mereka aku merasakan itu adalah nilai yang wajar. Fasilitas yang mereka dapatkan layaknya Haji Khusus yang diselenggarakan travel di tanah air.
Namun yang aku sangat ingat adalah ketika aku dan istriku sedang menunggu Ashar, aku dan istriku telah bepisah shaf karena dia harus bergabung dengan shaf wanita di sebelah kanan lokasiku duduk menggelar sajadah pemberian dari pemerintah Saudi.
Saat itu aku berada di pelataran luar Masjidil Haram dekat dengan toilet yang ceritanya dulu merupakan rumah Abu Jahal yang memusuhi Rasulullah Muhammad SAW. Tak lama kemudian datang rombongan yang dipimpin seorang yang sudah cukup tua. Mungkin dipertengahan 60an tahun usianya. Bapak itu menggelar sajadahnya duduk di sampingku, memberi salam dan mengulurkan tangannya. Bangla. Bangla. Katanya menjelaskan asalnya. Aku menjawab Indonesia. Lantas pembicaraan kami disambung dengan bahasa campur gaul. Inggris, Arab, Bangla.
Tak lama kemudian seorang perempuan muda mendatangi dan memberikan ke lelaki itu sebuah bungkusan cemilan seperti tingting kacang dengan bentuk kerucut.
“This is bajree.” Katanya menjelaskan kepadaku. Lalu menunjuk perempuan yang tadi mengantar cemilan dengan rasa manis agak pedas cengkeh pala tadi, “My wife.”
Hah! Aku kaget dalam hati karena aku pikir tadi itu anaknya. Ternyata itu istrinya.
“Wife?” Aku tersenyum.
“Yes.” Angguknya bangga, “Number four.”
Dalam hati aku mengucap, luar biasa.
“Subhanallah.” Aku mengangguk kagum dan tersenyum.
Dia menunjuk kepadaku sambil memberikan kode pasangan dengan jari telunjuk. Aku paham yang dia maksud. Aku menunjuk ke istriku yang sedang mengaji di kejauhan.
“One?” Senyumnya si bapak agak menggoda.
“Yes. Hanya satu. Only one.” Jawabku sambil tertawa kecil.
“Not good.” Jawaban beliau sambil ikut tertawa, “Men must have much.”
Sambil mencari-cari kata yang cocok dia tampak berpikir apa yang akan disampaikannya kepadaku.
“I have seven.”
What?!!!
Busyet ini aki, master banget dah dalam urusan poligami, demikian aku berkata dalam hati.
“You no good. Only one.” Sambungnya lagi. “Should marry one or two again.”
Hahahaha. Bisa nangis kalau istriku denger nih.
Dalam bahasa Inggris yang bercampur Bangla (kalau dia tidak ketemu vocabulary yang dia inginkan) orang tua ini bercerita kepadaku. Yang aku tangkap dari kisahnya (mohon maaf kalau salah pengertian) adalah saat ini beliau berangkat haji dengan 3 orang istrinya. Yang nomor 2, 4 dan 5, bersama 4 orang anaknya. Memang aku lihat di rombongannya ada 3 anak kecil. Hebat juga bapak ini. Pekerjaannya adalah pedagang. Yang pertama sudah dibawanya 5 tahun yang lalu. Yang lain belum, mungkin 3-4 tahun lagi katanya. Poligami itu baik, karena kita bisa jadi ibadah jika diniatkan dengan baik. Aku hanya mendengarkan dan berpura setuju. Setuju benar sih masih belum yakin. Hehehe.
Dan kata beliau ini, masih tidak menutup kemungkinan untuk menikah lagi.
Salut.

Percakapan seru ini berakhir saat azan Ashar dikumandangkan. Selepas shalat istriku segera mencari ke tempatku shalat dan aku tunjukkan kepada bapak Bangladesh tadi. Saling mengangguk. Kemudian aku pamitan kepada beliau. Dia memberikan bungkus bajree tadi kepadaku untuk nanti kami ngemil di perjalanan ujarnya.
Pesan terakhirnya sangat berarti; “Remember. One or two more.”
Lantas kami berdua tertawa.
Saat di bus aku bercerita pada istriku. Langsung saja Djati takjub dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jadi boleh, bunda?” Aku menggodanya.
“Coba aja kalau berani.”
“Katanya enak bunda, seenak bajree yang dikasihnya tadi.” Setelah mencoba, Djati suka cemilan ini.
“Bunda balik ke bandung bawa anak-anak.”
Hahahaha.
Gaklah sayang. Cukup satu istriku.