Siang tanggal 15 September kami menuju Madinah. Konvoi bus kami terdiri dari 10 bus bermacam warna. Perjalanan berlangsung santai dan penuh nuansa persaudaraan. Beberapa dari kami mulai terbiasa memanggil dengan panggilan haji. Aku agak canggung dan kadang kurang ngeh kalau ternyata orang memanggilku atau bertanya padaku. Karena namaku yang biasa dipanggil Bang Arief atau Pak Arief, sekarang sering disapa dengan Bang Haji atau Pak Haji saja. Memang harus membiasakan diri, deh.
Memang bagi sebagian orang dipanggil haji itu merupakan suatu peningkatan level dan strata. Bisa dipahami hal ini masih terjadi. Karena untuk haji banyak orang membutuhkan pengorbanan yang banyak. Korban waktu, korban tenaga, dan korban kesabaran.
Bagiku sendiri memang ujung-ujungnya lebih senang tetap dipanggil seperti semula. Yang penting kita bisa menjaga adab dan tata krama. Menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Haji itu ibadah, bukan hal lain. Jadi tak perlulah orang memanggilku bang haji, karena aku cukup sadar itu sudah menjadi trademarknya bang haji Rhoma Irama. Hehehe.
Menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermanfaat pada sekitarnya adalah keutamaan dari haji yang telah dilaksanakan.
Madinah adalah kota yang selalu bernuansa tenang, tertib dan teratur. Hati selalu nyaman untuk berada di Madinah. Demikian pula yang kami rasakan. Setelah di antar ke hotel yang tidak terlalu jauh, hanya 2 blok dari pagar masjid Nabawi, kami segera beristirahat karena saat tiba malam sudah hampir beranjak. Masih dengan personil yang sama di tiap kamar.

Paginya kami membalas kunjungan keluarga kami yang kemarin mengunjungi kami di Mekkah. Ternyata kloter mereka menempati apartemen yang bercampur dengan bermacam negara. Masalahnya juga tetap sama, jumlah lift yang sedikit. Diperparah lagi dengan ada beberapa apartemen yang berkamar 3 diisi oleh 3 negara yang berbeda. Indonesia, Pakistan dan India. Yang paling menyeramkan adalah ada yang salah satu kamar diisi jamaah laki-laki dari India dan dua kamar lainnya diisi jamaah-jamaah wanita dari Indonesia. Untunglah tidak ada ada masalah yang mereka temui walaupun ternyata posisi kamar mandi ada yang tidak di dalam kamar.
Djati yang sudah merindukan makanan khas Indonesia sangat senang ketika menemukan restoran Indonesia tak jauh dari apartemen jamaah Indonesia itu. Namanya Restoran Alkarat. Dengan semangat si cantikku melahap soto di situ. Sementara aku sudah cukup kenyang karena di hotel kami telah menyantap 7 Days, croissant terkenal di kalangan jamaah umroh dan haji. Plus tentu saja jus botolan merk Caesar.
Makanan selama di tanah suci memang banyak yang kami coba, yang paling sering tentu saja broast chicken, briyani, mandhi, berjenis kari, shawarma atau kebab, martabuk, capati, prata, bermacam jus, ayam panggang dan lain-lain. Lengkap sih wisata kuliner terutama hidangan dari Arab, Turki, Pakistan dan India. Sayangnya di Mekkah kami tidak sempat mencoba Al Baik karena lokasinya terlalu jauh. Baru di Madinah bertemu resto ayam goreng Arab yang terkenal enak itu.
Rutinitas selama di Madinah memang hanya shalat Arbain, yang bermanfaat untuk membiasakan jamaah terbiasa ke masjid jika nanti kembali ke tanah air. Tapi aku yakin rata-rata jamaah telah membiasakan diri ke masjid untuk shalat lima waktu di tanah air jauh sebelum menjalankan ibadah haji ini. Karena sudah mengerti maksud dari hadist di bawah ini:
عن أنس بن مالك ـ رضي الله عنه ـ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbir pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.”
(HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani).
Bagi yang belum terbiasa maka momen selama di Madinah inilah menjadi ajang untuk melatih diri.
Kalau di Madinah, karena dekat kami memang cenderung pergi pulang ke masjid, jarang sekali menghabiskan diri di sana. Apalagi sudah mulai mengemas barang untuk dibawa balik ke Pontianak. Aku dan istri malah nyaris tidak ada mengubah packingan kami. Hanya menambahkan beberapa pesanan sahabat di tanah air, juga membelikan oleh-oleh mainan untuk para ponakan yang masih kecil.
Untuk menunjungi Raudhah kali ini lebih seru karena dilakukan bersama anggota regu dan kelompok, sehingga bisa saling melindungi satu sama lain.
Karena hotel dan kamar selalu ada orang, maka cukup sulit bagi pasangan untuk mengambil ‘kamar barokah’ tidak seperti di Mekkah yang jadwalnya bisa cukup panjang. Khusus untuk hal ini biasanya para pasangan tersebut pintar-pintar menyusun jadwal mengikuti rutinitas penghuni lain di yang sekamar. Yang butuh tips dan trik nanti bisa aku ajarin sesuai dengan pengalaman kami semua di Kloter Pontianak ini. Hehehe.