Singkat cerita kami berkumpul pada hari Kamis untuk mulai mengikuti manasik haji yang diajarkan oleh ustadzah Hj. Fatma Nurhayati. Beliau ini salah seorang yang sering memberikan tausiah di pengajian ibu-ibu. Selain itu kerap kali membawa jamaah umroh ke tanah suci. Alhamdulillah petang itu berkumpul kami semua yaitu 4 pasang suami istri, 1 orang lelaki dan 1 orang wanita, Mbak Yani, yang berangkat sendiri. Ternyata sepasang suami istri paling muda di antara kami dan seorang lelaki lain adalah anak dan menantu dari ustadzah kami. Mbak Yani dan Mbak Nelma ternyata anggota majelis taklim yang dibina oleh Hj. Fatma atau yang kami panggil jiddah, karena beliau dipanggil demikian oleh cucu-cucunya.
Manasik pertama berlangsung baik. Sungguh yang disampaikan beliau sangat gampang diterima. Beberapa catatan dan rekaman kami buat di saat bu Hajjah tadi memberikan pelajaran pertama kali ini, yaitu tentang rukun haji. Sesama anggota regu juga mulai saling mengenal. Jarak usia kami satu regu juga tidak terpaut jauh. Setelahnya kami rutin untuk mengikuti pertemuan mingguan di rumah jiddah yang juga merupakan majelis taklim. Ada untungnya seperti ini, karena ternyata untuk jamaah mandiri yang tidak memiliki regu akan digabungkan secara acak oleh kantor Kemenag.
Juga dari Kemenag kami mendapatkan jadwal manasik selama seminggu di masjid Wahdatul Ummah yang berada di komplek asrama haji Pontianak, yang disiapkan untuk calon jamaah haji dari Kecamatan Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara. Di sini nanti kami mendapatkan lagi anggota regu terakhir yang akan bergabung bersama kami.
Di saat manasik kecamatan aku juga mendapatkan kisah luar biasa. Siapa bilang hanya orang mampu saja yang bisa berangkat haji? Salah seorang jamaah yang kutemui adalah seorang kakek yang bekerja sebagai tukang angkut sampah. Beliau mengumpulkan biaya untuk setor haji itu hampir sepuluh tahun. Juga untuk pelunasan. Sayangnya beliau tidak berangkat bersama kami. Karena apa? Karena gagal mengumpulkan biaya lokal untuk ke Batam. Hal itu disampaikan oleh pegawai kantor Kemenag. Kami para jamaah lain sepakat hendak urunan membayarkannya, namun utusan kami untuk mengantarkan niat baik itu, ditolak beliau dengan penuh rasa ucapan terima kasih. Beliau menyampaikan hendak mencari biaya itu dengan keringat sendiri. Kalau saya terima, berarti saya belum mampu, itu pendapatnya. Keputusan yang kami hargai dengan penuh respek. Akhirnya beliau mundur, dan berangkat tahun depan. Luar biasa. Semoga berkah, Pak.
Padahal haji itu undangan untuk orang pilihan. Karena ada saja kebaikan dan amal kita yang dibalas dengan dikirimkan haji gratis. Bahkan di kloter kami ada calon jamaah haji yang dikirimkan oleh jamaah masjid dimana dia menjadi imam dan pengurus masjid di sana. Atau jangan jauh-jauhlah, aku juga sebagian disumbang sama bapakku almarhum. Semoga ALLAH SWT membalas kebaikan orang-orang yang membantu orang lain menjalankan ibadah haji dengan rahmah dan keberkahan. Aamiiin.
Manasik rutin kami jalankan tiap minggu di kediaman jiddah Fatma, membuat kami merasa bekal untuk menjalankan ibadah kelima ini semakin mantap. Karena jumlah peserta manasik tidak terlalu banyak, maka fokus dan kesempatan untuk bertanya jawab semakin banyak pula. Beruntunglah kami karena berada dalam satu regu. Karena ada banyak peserta di kloter mandiri ini hanya berbekal manasik di kecamatan kemarin.
Selain manasik juga kami diberikan pengarahan tentang kesehatan dan tes mengenai kondisi kesiapan stamina kami oleh dinas kesehatan kota Pontianak. Diajari untuk rutin melakukan jalan pagi dan mengatur pola makan. Kami berdua memang semenjak dinyatakan berangkat 2017, selalu menyempatkan tiap pagi berjalan 5-8 kilometer tiap pagi di taman kota. Aku yang mempunyai hipertensi juga langsung diminta rutin mengkonsumsi amlodipine agar nantinya tekanan darahku tidak bermasalah ketika sedang mengikuti ibadah. Pada tes yang pertama aku memang cukup tinggi, namun saat tes kedua tekanan darahku baik. Hanya saja ternyata di Batam nanti yang dipakai adalah tes pertama, sehingga aku mendapatkan gelang ekstra berwarna kuning untuk dipakai selama beribadah.
Untuk persiapan keberangkatan juga kami disiapkan paspor. Pembuatannya melalui jalur khusus jamaah jadi cukup mudah. Kebetulan paspor kami memang butuh perpanjangan. Biaya paspor ditanggung oleh pemerintah, namun kami harus menalangi dulu, nanti uangnya dikembalikan di Embarkasi Batam.
Juga diberikan suntikan vaksin meningitis, secara gratis. Jika ada jamaah yang hendak sekalian vaksin flu, biayanya ditanggung sendiri.
Perlengkapan haji juga sudah kami dapatkan, baik dari Bank Syariah Mandiri maupun dari Kemenag. Bahan seragam, kain ihram, tas sendal, koper kanvas dan tas kecil kanvas. Juga buku panduan ibadah. Bahan seragam segera kami jahit biar beres sebelum nanti Agustus berangkat.
Tak lama kemudian diumumkan juga biaya lokal dari Pontianak – Batam – Pontianak. Alhamdulillah untuk urusan ini bisa dibereskan juga.
Mungkin karena sudah merasa tidak ada lagi yang harus dipikirkan, maka istriku tersayang di suatu malam berani bertanya;
“Ayah. Kita jadi lebaran di Bandung?”
Waduh. Baru ingat janji sama istri untuk merayakan Idul Fitri di Bandung bersama mertua.
“Tunda tahun depan saja ya, sayang.”
“Terus gak pamitan itu sama ibu?”
“Pamitan. Kita pergi berdua saja ntar. Ok?”
Tampak sang bunda berpikiran sebentar, “Baiklah ayah. Jangan sampai gak pamitan ke ibu, kita.”
“Iya, pasti.”
12 Julinya kami ke Bandung mohon doa restu dari ibu mertua. Pulangnya singgah juga ke Jakarta untuk pamitan dengan adik dan keluarga di Jakarta. Tanggal 17 sudah berada kembali di Pontianak. Karena pada tanggal 25 Juli ada jadwal Manasik Massal di Masjid Mujahiddin.