Aku hanya akan bercerita tentang peristiwa dan kejadian yang kami dapatkan di Haramain. Yang berkesan dan mungkin lucu. Yang menakjubkan dan mungkin bisa dibagikan. Yang bermakna dan menjadi kenangan.
Upacara 17 Agustusan
Pada tanggal 17 Agustus, kami mengadakan upacara sederhana di hotel, yang dipimpin oleh PPIH dan Ketua-Ketua Kloter. Acara kecil namun penting untuk menghadirkan rasa cinta pada tanah air tercinta.

Membayar Dam
Karena kami melakukan Haji Tamattu maka kami harus membayar dam yang berupa memotong seekor kambing. Dengan bantuan bang Adnan dan bang Wayan (anak ustadzah Hj. Fatma) kami dipertemukan dengan H. Taufiq saudaranya yang merupakan muqimin dan bekerja sebagai mutawif di sini. Beliau berkunjung untuk menjenguk keponakannya yang tiga orang itu.
Pak haji itu telah ada di hotel saat kami masih menunggu bus selepas syuruq. Beliau datang sendirian. Dengan kemampuannya berbahasa Arab, jadilah ia guide dan yang menolong kami bernegosiasi dengan pemilik kendaraan sewaan.
Saat itu belum ada Uber di Arab Saudi. Pak Taufiq pergi keluar setelah kami selesai sarapan dan bersiap-siap. Beliau mencarikan kami kendaraan rental atau taksi gelap untuk kami gunakan. Saat datang kami takjub dengan mobil yang datang menjemput kami. Sebuah GMC Yukon yang masih baru. Secara plastik bungkus kursinya saja belum dibuka dan masih bau pabrik. Harga Yukon ini sepertinya 1 milyar lebih di Indonesia, dan dipergunakan layaknya Grab atau Gocar di sini. Hehehe. Sewanya saat itu 20 riyal untuk seorang. Kami seluruh regu pergi, ditambah 2 orang lagi jamaah yaitu pak Alamsyahrum dari regu 24 yang merupakan salah satu keluargaku, dan kakek Aria yang merupakan anggota regunya. Kemudian pak Taufiq juga menyewa sebuah taksi resmi untuk 3 orang, karena kalau hanya menggunakan Yukon tadi sepertinya tidak cukup. Kami berjalan beriringan dengan dipimpin taksinya. Di dalam Yukon ini kami tidak banyak berinteraksi dengan supirnya yang berbadan besar, menggunakan gamis lengkap dengan sorban. Bicaranya juga keras, bikin takut ibu-ibu. Hehehe. Dan terlebih lagi dia tidak bisa bicara bahasa Indonesia.
Seperti inilah GMC Yukon yang kami tumpangi saat itu
Kakiyah tidak terlalu jauh dari hotel, hanya sekitar 30 menit kami sudah tiba di lokasi pasar hewan seperti domba, kambing dan unta untuk konsumsi ini. Beruntung kami ditemani pak Haji Taufiq hingga kami bisa mendapatkan hewan dengan harga terjangkau dan pengalaman yang luar biasa mengunjungi pasar ternak dan menyaksikan domba-domba kami disembelih langsung untuk membayar dam nusyuk kami. Bahagia walaupun badan rasanya ditempeli bau domba dan kambing. Hahahaha.
Ada untungnya juga langsung ke sini karena, harga hewan (bayaran dam) menjadi lebih murah. Info dari petugas pemerintah yang harus disiapkan adalah uang dam sejumlah 450 riyal sesuai dengan harga yang ditentukan oleh Kerajaan Arab Saudi dan dibayarkan ke loket khusus yang ada di sekitar Masjidil Haram. Antriannya bisa sangat ramai. Beberapa KBIH malah mengenakan biaya 500 – 600 riyal bagi anggotanya. Mungkin sebagai uang jasa bagi mereka. Kebanyakan anggota regu kami menyerahkan kepada Ketua Kloter maupun Ketua Group/Kelompok untuk mengorganisasikan keperluan ini.
Bagi kami tidak apa ribet dan bau sedikit. Yang penting puas bisa menyaksikan suasana yang sungguh berbeda dari keseharian kami di sana.
Pulangnya seru. Sudah ditakdirkan kami bertemu dengan seorang kakek pemilik sebuah Toyota Hiace tua bernama Abdullah. Kendaraannya beda jauh jika dibandingkan dengan GMC Yukon tadi. Namun kebahagiaan dan kegembiraan yan kami alami lebih berarti. Jadi memang bukan soal mewah atau tidaknya kehidupan, namun apa yang ditawarkanlah yang menjadi kenyamanan dan kebahagiaan.
Pak Abdullah ini lebih suka dipanggil Abu Aseem. Karena anaknya ada yang bernama Aseem dan kebetulan bertugas sebagai kenek beliau. Umpel-umpelanlah kami di mobil butut itu. Walau butut tapi masih tangguh. Apa yang paling membuat rombongan senang? Tentu saja karena Abu Aseem ini ramah dan yang terpenting lumayan fasih berbahasa Indonesia. Sepertinya beliau bisa jadi memang spesialis membawa jamaah dari Indonesia.
Abu Aseem ini dari Yaman. Sepanjang perjalanan dia mengoceh terus membahas lokasi-lokasi yang kami tempuh. Pakai bahasa campuran Arab dan Indonesia. Terkadang ngobrol dengan Pak Haji Taufiq yang duduk di depan bersamaku.
Abu Aseem tak lupa memberikan kartu namanya. Akhirnya dia menjadi kendaraan kami jika hendak kemana-mana, terutama jika hendak mengambil miqat di Masjid Aisyah di Tan’im atau Masjid di Ji’ranah. Pernah juga kami sewa untuk membawa kami wisata di sekitar kota Mekkah. Tinggal sms, dia akan segera merespon.
Tidak lupa kepada kerabat atau kenalan yang hendak umroh atau haji aku berikan nomor telpon pak Abdullah ini agar bisa dihubungi.
Tahan Emosi dan Jangan Sombong di Haramain
Pelajaran pertama di Mekkah yang aku dapatkan adalah menekan emosi, ego dan rasa sombong. Kisah ini cukup unik juga. Jadi saat di dalam bis aku dan Djati sempat berselisih paham. Bisa dikatakan istri sempat membantah omonganku. Tapi tidak berlanjut karena akhirnya aku mendiamkan saja istriku dan melanjutkan kegiatan kami tanpa banyak bercakap-cakap. Kami hanya langsung tawaf setelah mengisi air Zamzam ke dalam botol air mineral kosong yang kami kumpulkan setiap hari setelah isinya kami habiskan dari pembagian katering.
Merasa masih muda dibandingkan kebanyakan jamaah, aku dan istri memang sering sekali melakukan tawaf sunnah. Setiap ada kesempatan selalu kami lakukan tawaf. Hal ini juga dengan maksud mengumpulkan air Zamzam yang sudah ditawafkan. Beberapa handai taulan kami di tanah air memang ada yang memesan kepada kami air Zamzam yang telah ditawafkan karena yakin bahwa ALLAH SWT akan memberkahi air tersebut sehingga air Zamzam yang sudah berkhasiat itu semakin bermanfaat. Waktu aku pulang memang ada puluhan botol air mineral yang kami bawa pulang dan semua telah kami bawa bertawaf keliling Ka’bah. Alhamdulillah lolos sampai ke Pontianak. Karena ada juga jamaah yang terpaksa meninggalkan bawaan air dalam botol-botol ini di bandara karena dilarang masuk ke pesawat. Untungnya kami tidak. Bahkan yang di tas tentengan juga aman.
Waktu kami selesai tawaf, sambil menunggu waktu shalat, biasalah kami berkumpul dengan jamaah. Terkadang ngobrol dengan jamaah jika aku lihat menggunakan tas gantung pembagian dari Kemenag. Artinya orang Indonesia.
Ada pasangan suami istri yang seusia dengan orang tuaku yang sempat jadi teman berbincang. Dan mereka mengatakan sudah tidak sanggup lagi untuk selalu bertawaf.
“Oh. Kalau saya masih bisa, Pak. Tiap kali bertawaf. Setiap ke mesjid bertawaf. Sayang rasanya kalau nggak.”
“Iya. Adek enak masih muda. Anak saya juga ada seusia adek nih.”
“Iya Pak. Kalau muda pasti lebih sanggup daripada orang yang sudah seusia Bapak dan Ibu. Ini saja nanti mau tawaf lagi sebelum Maghrib. Mau bawa istri ke Hajar Aswad. Mampu saya, Pak. Kalau hanya tawaf tidak melelahkan. Di lantai atas saja saya mampu tawafnya. Apalagi di maataf.” Demikian kataku sedikit angkuh.
Selepas Ashar aku mengajak istriku untuk kulineran dulu di dalam mall, dan sejam menjelang Maghrib, aku mengajak istriku untuk tawaf lagi sekalian mencoba ke Hajar Aswad. Ketika tawaf, sendal istri dititipkan ke tas sendalku. Tapi entah mengapa, tawaf kali ini terasa lambat dan lama. Jalan seperti berat aku rasakan. Bahkan aku dan Djati baru sampai putaran keenam ketika azan berkumandang dan kami hanya beberapa langkah dari Hajar Aswad. Aku reflek membuat barikade agar posisi tetap di depan Hajar Aswad, namun aku lupa bahwa wanita tidak boleh lagi di dekat Ka’bah. Istriku diusir oleh petugas. Panik dong. Pasti paniklah. Terpaksa aku keluar dari barikade antar jamaah yang memang tujuannya mendapatkan posisi terbaik ketika shalat. Aku pun mengantar istiriku ke belakang, di shaf yang disediakan untuk para wanita.
Lantas kami shalat berpisah karena aku harus bergabung dengan shaf laki-laki di bagian depan. Lalu setelah Maghrib itu kami tidak bertemu. Aku mencari istriku, dan dia juga mencariku. Percaya atau tidak istriku berada lama di titik kumpul yang kami sepakati jika berpisah, yaitu pintu 25, dan aku berkali-kali keliling di situ mencarinya. Tapi kami tidak dipertemukan, Djati seperti ‘disembunyikan’. Mana istri tidak ada hp. Tidak bawa uang juga.
Sampai akhirnya azan Isya berkumandang. Aku sudah sangat panik. Begitu selesai shalat aku berkeliling ke segala arah di Masjidil Haram yang luas itu. Kembali ke Pintu 25 sampai dua tiga kali. Sampai akhirnya ada teman yang mengirimkan WA bahwa istriku telah pulang ke hotel setelah Isya. Gak pakai sendal, pastinya. Untung malam jadi tidak terlalu panas jalan yang ditempuhnya. Sejak saat itu Djati gak pernah membantah perkataan suaminya ini.
Tiba di hotel aku sudah sangat lelah. Dan besoknya kakiku serasa lumpuh tak berdaya. Istriku yang bijaksana mengingatkanku bahwa mungkin ini karena kesombonganku kepada suami istri yang kami temui di Masjidil Haram kemarin.
Ya ALLAH. Aku langsung sadar. Bisa jadi. Ini hukuman. Buat aku dan istriku.
Sesuai dengan petunjuk dari bu Hajjah Fatma yang mengajari kami jika merasa salah dan melakukan sesuatu yang tidak pantas di Tanah Suci, maka kami segera berwudhu dan melakukan shalat taubat. Meminta maaf dan ampunan sekaligus berjanji selalu menahan emosi dan tidak akan mengulangi kesombonganku lagi.
Kisah kesombongan seperti ini juga kami dapatkan dari jamaah Kota Bandung yang suaminya mendadak lumpuh setelah sebelumnya menurut sang istri menganggap enteng perjalanan melempar jamarat selama hari Tasyrik. Ujung-ujungnya si suami harus melakukan tawaf ifadah dengan didorong menggunakan kursi roda oleh istrinya. Kepada mereka kami sarankan untuk melakukan shalat taubat seperti solusi yang kami kerjakan karena kesombongan yang sama.
Tertukar Sendal
Cerita lucu yang aku dapatkan di sini salah satunya adalah kisah sendalku yang bisa bertukar dengan 2 orang jamaah. Karena kondisiku di cerita sebelumnya, aku dan Djati memutuskan shalat di hotel saja. Dan memang ada saat calon jamaah haji tidak ke masjid karena kondisi cuaca yang terik dan juga masih menyimpan tenaga dan menjaga kesehatan agar tidak drop saat ibadah pentingnya tiba. Jadi saat shalat dzuhur pada tanggal 19 Agustus, kami berjamaah di aula hotel Al Wehda bersama semua ratusan jamaah berkumpul di situ.
Selepas shalat aku mendapati sendalku sudah tidak ada, terpaksa aku menunggu sampai akhirnya ada sepasang sendal gunung berwarna hitam yang sepintas mirip denganku, tapi ini terbuat dari bahan kulit. Dengan terpaksa aku memakai sendal itu sambil sesekali bertanya jika ada yang merasa salah memakai dan tertukar sandalnya. Sampai datang Ashar dan tidak ada yang mencari sendalnya yang ada padaku. Selepas Ashar aku masih menunggu orang yang bersikap sama sepertiku, betul saja ketika jamaah sudah kosong, ada seorang yang celingukan memperhatikan sandalnya. Aku mendekatinya. Dan segera bertanya apakah dia tertukar sendal.
“Iya, pak. Sendal saya tertukar sebelahnya dengan sandal lain. Tuh.” Dia menunjuk sandal di lantai. Sepasang sandal gunung berwarna hitam.
Dan, satunya itu adalah sandalku. Hahahaha.
“Lho. Ini sebelah sandal saya, pak.” Kataku sambil memungut sendal itu.
“Iya. Sebelahnya betul sandal saya.” Katanya menunjuk punyanya yang sebelah lagi.
“Ini saya pakai sandal orang yang tertukar sandal sama saya.” Kataku selanjutnya. Sambil mengangkat satu sendal yang aku pakai.
Sang bapak tertawa.
“Artinya orang yang pakai sendal kita ini sedang berat masalahnya, pak.”
“Iya. Hahaha. Kita tunggu saja sebentar Pak.”
Sambil berbasa-basi akhirnya aku tahu beliau jamaah dari Jawa Barat.
Sendalku Yang Kiri
Tak lama kemudian muncul seorang lelaki dan itulah dia yang sudah membuat kisah sendal segitiga. Ternyata beliau kebelet sehingga segera menggunakan sandal yang ada di situ tanpa memeriksanya lagi.
Setelah menyadari dan klir semuanya kamipun saling bermaafan kembali ke kamar masing-masing.