“Bismillah. Kita berangkat, bunda.” Kataku ketika tiba di rumah.
Istriku yang cantik itu menatapku.
“Alhamdulillah.”
Aku menceritakan perbincanganku tadi dengan pak Haji.
“Iya, ayah. Itu juga yang ada di pikiran bunda. Takut sakit bunda tambah parah dan malah tidak bisa ke Baitullah.”
“Iya sayang. Sekarang tinggal kita mengatur semuanya, bunda. Biar beres tanpa ada yang mengganggu pikiran. First things first. Bayar pelunasan biaya haji. Ayah setting dulu dana pembayarannya.”
“Sip.”
“Yang kedua juga penting. Bagaimana kondisi bunda bisa sehat saat di sana. Kapan harus konsultasi lagi?”
“Jadwalnya sih besok, yah. Tapi bagaimana kalau kita ke dokter kandungan saat hamil Ray dan Puan dulu?”
“Lho? Ganti lagi?”
“Iya. Agak kurang yakin bunda. Kemaren khan karena dokter yang sekarang praktek di tempat ayah kerja. Konsultasi emang gratis. Tapi khan obat-obatannya mahal yah.”
“Oh baiklah. Bunda aturlah biar jadwal ke dr. Khaidir.”
Skenario pertama adalah membahasnya dengan partnerku yang memegang keuangan kantor, jika masih ada yang bisa di-switch sepertinya bisa dibelokkan dulu. Nanti bisa dikembalikan dari jatahku di proyek-proyek perusahaan.
Untuk urusan kebutuhan kantor, aku beruntung punya partner kerja yang bisa diandalkan. Sebagai lulusan keuangan dia bisa membuat perhitungan yang membuat kami bisa memproyeksikan bagaimana kondisi ke depan. Walau sempat juga aku mengkhawatirkan bagaimana gak ditinggal sendirian selama 40 hari ketika aku sedang ibadah. Tapi sebenarnya load pekerjaan tidaklah seheboh di akhir tahun. InsyaALLAH aman.
Keesokan hari ketika aku sampaikan itu ke rekanku, tanpa ragu dia bilang siang ini bisa disiapkan 15 juta kebutuhan untuk pelunasan tadi. Karena ternyata sebelumnya dia mendapat email dari bank Standard Chartered, bahwa tagihan kami sudah dibayarkan.
“Bisa Pak, dari management fee kita bisa dipergunakan. Sisanya kita ambil dari pembayaran dana pembayaran gaji. Toh baru kita pakai tanggal 26.”
“Syukurlah. Nanti tolong ditarik tunai, ya.”
Urusan pertama beres. Tak lama juga istriku mengirim pesan di WA bahwa dia sudah menjadwalkan dokter selepas Maghrib.
Singkat cerita aku mengantar istriku ke dokter.
“Eh Pak Arief. Masih di kerja di rumah sakit?” Demikian pertanyaan pertama sang dokter kandungan setelah menjawab salam kami.
“Sudah nggak dokter. Saya bikin perusahaan IT sendiri.”
Ternyata beliau masih mengenalku. Sebenarnya beliau ini adalah salah satu pemilik saham rumah sakit tempat aku bekerja dulu. Bahkan dulu sempat beberapa bulan praktek di sana. Namun kebaikan hatinya membuat dia memutuskan tidak buka praktek di RS lagi.
Mahal pasien kalau bayar saya di sana, demikian ceritanya, bisa 2-3 kali konsul di apotik ini biayanya. Benar juga sih. Padahal pelayanan juga sama. Namun pak dokter ini tidak menolak jika ada pasiennya minta pertolongan persalinan di RS itu. Walau jarang sekali dia mengirim pasien ke sana.
Kami menceritakan masalah yang diderita istri, beliau memeriksa melalui mesin USG, dan memang menurut beliau ada sebentuk kista cukup besar yang tampak di layar. Menurut istriku terjadi penambahan ukuran. Tidak ada terapi bermacam yang diberikannya kecuali ibuprofen jika nanti sakit saat datang bulan. Hanya dia berpesan ketika haid, segeralah konsultasi kembali. Sudah itu saja.
“Kira-kira aman gak dokter? Karena kami akan berangkat haji.”
“Oh begitu? Kapan berangkatnya? Nanti kita lihat perkembangannya ya. Tapi InsyaALLAH bisa kok berangkat.”
“Pertengahan Agustus, dokter. Mohon doanya.”
“Ya. Sehat, InsyaALLAH.”
Dan MasyaALLAH, beliau menggratiskan biaya konsultasinya. Sama seperti 2 bulan menjelang kelahiran Puan, beliau juga tidak mau dibayar setelah tahu aku bekerja di RS yang sebagian saham perusahaan dia miliki tersebut.
Besoknya tanggal 18 April 2017, aku serahkan uang 15 juta kepada istriku untuk disetorkan ke bank Syariah Mandiri. Semangat sekali istriku. Pagi-pagi dia telah membayar sisa biaya naik haji, lantas ke Kemenag untuk mendapatkan info selanjutnya. Ternyata di kantor Kemenag ditanyakan kami mengikuti BPIH mana, karena akan dimasukkan dalam regu dan group sesuai BPIH. Istriku bingung dan menelponku. Aku instruksikan untuk mengabari ibu yang bertugas bahwa mungkin besok atau lusa baru kami bisa menentukan kami mengikuti bimbingan manasik dimana. Ibu pegawai kantor Kemenag itu juga mengatakan bahwa nanti juga dari Kemenag tetap ada manasik di tiap Kecamatan dan terakhir dikumpulkan bersama sekota Pontianak.

Siangnya istriku ijin untuk pergi arisan emak-emak TKnya anak keduaku. Bayangkan. Anakku sudah mau masuk SMA, emak-emaknya masih menjalin silturahmi. Hebat. But, this is the power of silaturahmi.
Sedang berkumpul itu istriku menelponku.
“Ayah. Mau gak gabung sama Mbak Yani? Dia kakaknya Ina teman bunda.” Kata istriku di seberang. “Maksudnya ikut sama regu dia. Baru ada 8 orang nih. Tambah kita jadi 10.”
“Oh boleh. BPIH mana?”
“Mandiri. Gak pakai BPIH. Tapi kita nanti diberikan manasik sama ustadzah pengajiannya.”
“Oh boleh. Bagus itu. Toh kita juga sudah pernah umroh.”
“Ok. Ntar bunda kabari mbak Yani ya. Nanti kamis sore mulai manasiknya, selepas Ashar.”
“Sip.”
Alhamdulillah, hemat biaya 6 juta. Alhamdulillah dimudahkan.
Dan untung saja kami sudah dapat kepastian, karena sorenya Om Den yang mengajak gabung ke KBIHnya datang dengan membawa buku manasik cetakan KBIH tempat dia bergabung. Ternyata sudah diambilkan dan dimasukkan nama kami sama beliau. Andai belum ada kepastian, tentu kami tidak bisa menolaknya. Aku memohon maaf dan memberitahukan ke beliau baru saja mendaftar untuk tidak menggunakan KBIH.
Besoknya tanpa berlama-lama aku mendaftarkan nama kami ke Kemenag untuk bergabung dengan regu yang ditawarkan Mbak Yani. Ternyata betul. Masih ada 3 slot di regu itu. Kami harus mencari tambahan 1 orang lagi.
Ketika keluar dari ruangan bagian urusan haji tadi, saat di lorong kami berjumpa dengan seorang yang kami kenal wajah dan beliau juga mengenal kami.
“Anak Pak Usman ya?” Beliau menyapa duluan.
“Iya Pak. Arief. Budi.” Aku melihat namanya di papan nama di atas dadanya H. Jawani, lantas ingat dulu beliau berdinas di Sambas sama almarhum bapak. Terakhir aku ketemu juga di hari pemakaman bapak.
“Ape buat sinek? Berangkat haji ke?”
“Alhamdulillah Om. InsyaALLAH berangkat tahun ini.” Panggilanku menjadi tidak resmi lagi karena makin ingat bahwa beliau adalah salah seorang sejawat kerja bapakku dulu. Sekarang beliau menjadi kepala kantor Kemenag Kota Pontianak, dari tahun 2016.
“Alhamdulillah. Singgah dulu ke ruangan Om.”
Aku dan istri akhirnya masuk ke ruangannya, dan ngobrol sejenak di sana. Sekaligus bertanya mengenai hal-hal yang belum kami pahami tentang keberangkatan. Beliau juga bercerita tentang pengalaman hajinya yang membuat kami terharu.