Di pertengahan tahun 2016, istriku tercinta kambuh lagi penyakitnya yang sudah lama tidak dirasakannya. Yaitu rasa sakit yang sangat luar biasa ketika mendapat tamu bulanan. Dulu saat anak kedua lahir istriku pernah mengalami hal yang sama, namun setelah hamil anak ketiga tidak pernah lagi menderita karena hal ini. Dan kali ini semakin parah sampai kalau sudah masanya, istriku tidak bisa bergerak menahan sakit yang tidak terperi.
Kami berobat, pertama ke salah satu spesialis obstetri dan ginekologi senior di rumah sakit tempat aku bekerja, dikasih obat dan kontrol rutin 3 bulan, tidak juga berpengaruh. Menurut beliau hanya kista kecil yang timbul ketika haid.
Tidak puas, kami pindah ke spesialis lain. Kali ini yang lebih muda dan terkenal. Dia malah suspek ada kemungkinan kanker serviks. Ditawarkan pengobatan dengan suntikan vaksin yang harganya bisa dibilang lumayan untuk sekali suntik. Kami ikuti sampai 3 kali. Belum lagi konsultasi dan perawatan rutinnya, ditambah obat-obatan bermerk yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Ada sekitar 8 bulan berobat kepada dokter itu. Tapi tetap tidak ada perubahan.
Menjelang tutup tahun 2016 juga, kami mendapatkan klien yang cukup besar. Sebuah supply chain ternama. Proyek yang sangat menjanjikan karena kami yang mengelola pergudangannya dan menjadi supplier kebutuhan mereka. Perjanjian yang ditawarkan cukup aman buat kami mengelolanya walaupun harus menyiapkan budget yang lumayan besar untuk sebuah perusahaan baru yang berusia belum genap 3 tahun. Aku dan rekanku menguras simpanan, untuk dapat membiayai proyek ini. Namun dalam perjalanan ternyata tidak semulus yang kami kira. Beberapa hambatan dari pihak manajemen klien membuat kami terpaksa berjibaku dan mesti berpikir keras untuk membiayai operasional dan gaji karyawan yang jumlahnya puluhan orang itu. Belum lagi menghadapi pihak luar yang mengganggu jalannya kegiatan usaha klien kami tersebut. Hal ini berlangsung sampai setahun ke belakang. Untunglah kami tidak mudah menyerah. Yang penting kebutuhan bulanan lancar dan operasional berjalan.
Di saat harus mengencangkan budget di perusahaanku itu, per-Februari 2017 aku sudah tidak aktif di RS lagi sehingga otomatis pendapatan buat pengeluaran bulanan yang selama ini bisa tercover dengan gaji bulanan juga tidak ada lagi. But, life must go on. Aku yakin perusahaan yang aku dirikan beberapa tahun belakangan bisa mengganti sumber pendapatan yang tertutup tadi. Terhitung Maret, aku pindah berkantor di Kutilang domisili perusahaan kami.