Sejak saat itu aku mulai menambah isi tabungan yang dibuat buat haji tadi. Awal-awalnya lumayan bersemangat menabung di Tabungan Haji BRI Syariah tersebut. Sedikit demi sedikit memang bertambah. Setiap ada job fotografi pasti uangnya aku masukin sebagian ke tabungan itu. Bapak juga sesekali memberi tambahan buat aku masukkan ke tabungan itu.
Tapi lama kelamaan, urusan dunia membuat lalai. Merasa masih muda. Merasa masih bisa bisnis. Merasa harus memperbesar usaha.
Rutinitas menabung tadi malah terabaikan. Yang ada malah pada sekitaran awal tahun 2009, dana yang sudah cukup banyak terkumpul, dan nyaris bisa untuk mendapatkan porsi haji yang sampai tahun itu masih 20 juta, nekad aku tarik untuk urusan usahaku. Istriku sempat protes dan mengingatkan. Tapi keras kepalaku memberikan segala alasan.
Seolah setan berbisik, nanti saja nabung lagi. Cari cuan dulu dari bisnismu.
Tetapi kenyataannya berbeda. Yang didapat bukan keuntungan ternyata, modal bisa tetap kembali utuh seperti semula saja sudah bagus.
Manusia. Manusia.
Sampai di sini aku masih belum sadar. Uang yang kembali pun gak aku masukkan lagi ke Tabungan Haji.
Pergi haji? Nanti sajalah. Jauh. Nunggu sudah 50 ke atas lah.
Nunggu lebih baik ibadah dan perilaku.
Demikianlah Arief yang lalai ini membuat apologi.