Singkat cerita pesawat yang membawa kami melintasi laut dan daratan di wilayah Asia untuk membawa kami ke Jeddah. Perjalanan diisi dengan makan dan tidur saja, karena disarankan untuk menyimpan tenaga karena nanti akan langsung melakukan umroh untuk mengawali rangkaian ibadah kami.
Mengapa harus umroh, karena kami melakukan haji Tamattu.
Ada beberapa macam haji. Yaitu, haji ifrad, haji qiran, haji tamattu. Tiga macam haji itu perbedaannya terletak pada waktu pelaksanaan haji dan umrah. Supaya lebih jelas, mari simak penjelasan berikut.
Haji Ifrad
Ifrad artinya menyendirikan. Jika memilih melaksanakan Haji Ifrad, maka seorang jemaah haji melaksanakan ibadah haji saja dan tidak melakukan ibadah umrah. Mereka yang melaksanakan haji ifrad tidak dikenakan dam atau denda.
Cara Pelaksanaan Haji Ifrad:
-
Melaksanakan ibadah haji saja (tanpa melakukan umrah)
-
Melakukan ibadah haji terlebih dahulu, lalu melaksanakan umrah setelah selesai berhaji.
Ada pula dua cara lain melakukan haji ifrad, yaitu:
-
Melakukan umrah di luar bulan-bulan haji. Kemudian, melakukan haji pada bulan haji.
-
Umrah dilakukan pada bulan haji, kemudian kembali ke rumah, baru pergi lagi berhaji pada bulan haji di tahun yang sama.
Urutan pelaksanaannya adalah, ihram dari miqat untuk melaksanakan haji, kemudian berihram lagi dan mengambil miqat untuk melakukan ibadah umrah. Jemaah tidak membayar dam dan disunnahkan melakukan tawaf qudum. Tawaf qudum adalah tawaf pertama yang dilakukan jemaah saat sampai di Mekkah.
Haji Qiran
Qiran memiliki makna berteman atau bersamaan. Jemaah haji yang melakukan haji qiran akan melakukan ibadah haji dan umrah secara bersamaan. Hal ini dilakukan dengan sekali niat sekaligus untuk haji dan umrah. Namun, jamaah diharuskan membayar dam.
Pelaksanaannya dilakukan pada bulan-bulan haji. Jemaah melakukan tawaf, sa’i, dan tahallul satu kali untuk haji dan umrah.
Jemaah yang memilih melakukan haji qiran akan dikenakan denda atau dam berupa menyembelih seekor kambing. Bagi mereka yang tidak mampu, jemaah harus menggantinya dengan berpuasa 10 hari. Ketentuannya, 3 hari puasa dilakukaan saat di Mekkah dan 7 hari puasa ketika sudah di Tanah Air. Jemaah juga disunnahkan melakukan tawaf qudum ketika tiba di Mekkah.
Haji Tamattu
Haji tamattu merupakan haji yang paling sering dilakukan jemaah haji asal Indonesia. Mereka yang memilih haji tamattu akan melakukan ibadah haji setelah melaksanakan umrah.
Haji tamattu disebut lebih mudah dilakukan jika dibandingkan dua jenis haji lainnya. Alasannya, setelah selesai tawaf dan umrah, lalu tahallul, dan bebas dari larangan saat ihram.
Sama seperti haji qiran, jemaah yang melakukan haji tamattu wajib membayar dam atau denda dengan menyembelih seekor kambing. Atau, jemaah bisa menggantinya dengan puasa 10 hari.
Mana Haji yang Lebih Disarankan?
Kementerian Agama menyarankan jemaah haji Indonesia memilih haji tamattu. Haji tamattu dinilai paling sederhana dilakukan oleh jemaah. Pasalnya, jika melakukan haji tamattu, maka jemaah melakukan ibadah umrah terlebih dahulu, baru kemudian melakukan prosesi ibadah haji. Keuntungan melakukan haji tamattu, jemaah bisa kembali berpakaian biasa setelah melakukan ibadah umrah. Sementara, jika haji qiran, maka jemaah harus mengenakan pakaian ihram hingga tiba waktunya pelaksanaan ibadah haji.
Bagaimana dengan haji ifrad? Menurut Kementerian Agama, jemaah dikhawatirkan sudah kelelahan saat umrah, karena ibadah ini dilakukan setelah selesai melakukan rangkaian ibadah haji. Sementara, rangkaian ibadah haji cukup menguras energi jemaah.
Sebenarnya, tidak ada ketentuan harus melakukan ibadah haji sekaligus umrah. Akan tetapi, menurut Kementerian Agama, kesempatan berada di Tanah Suci sebaiknya digunakan untuk ibadah haji sekaligus umrah. Dengan mengetahui jenis-jenis haji sebelum berangkat ke Tanah Suci, kita bisa lebih mempersiapkan diri dan memiliki gambaran rangkaian ibadah yang akan kita jalani.
Dalam perjalanan, sebagian dari jamaah sudah menggunakan ihram, sebelum melewati Yalamlam dan mengambil miqat di atas pesawat. Namun sebagian besar jamaah memilih mengambil miqat di Jeddah. Regu kami termasuk yang memutuskan mengambil miqat dari Jeddah.
Sedikit mengenai Yalamlam yang berada di arah tenggara Mekkah, dengan jarak sekitar 92 kilometer. Ini adalah lokasi miqat bagi jemaah dari Yaman dan mereka yang melalui rute yang sama, seperti jemaah dari India, Pakistan, China, dan Jepang. Jemaah haji Indonesia yang mengambil miqat saat perjalanan di pesawat biasanya dilakukan ketika pesawat mendekati Yalamlam/Qarnul Manazil.
Kru pesawat akan mengumumkan jika pesawat sudah akan melintas di atas Yalamlam/Qarnul Manazil. Jika mengambil miqat di pesawat, maka jemaah dianjurkan segera berpakaian ihram dan melakukan niat haji/umrah di dalam hati dan mengucapkannya dengan lisan.
Apakah Sah Miqat dari Jeddah?
Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menetapkan batas (miqat maqani) buat penduduk Madinah adalah Dzulhulaifah, buat penduduk Syam adalah Juhfah, buat penduduk Najd adalah Qarnul-manazil, buat penduduk Yaman adalah Yalamlam. Semua berlaku buat penduduk tempat itu dan orang-orang yang melewatinya yang berniat melaksanakan ibadah haji dan umrah. Dan barangsiapa yang berada lebih dekat dari tempat-tempat itu, maka miqatnya adalah dari tempat tinggalnya sampai-sampai penduduk Makkah (miqatnya) dari Makkah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Miqat dari Jeddah adalah ijtihad baru, dikarenakan perjalanan sudah ditempuh melalui darat. Dalam tuhfatul muhtaj, Imam Ibnu Hajar al Haitami mengatakan “Sebagaimana orang yang keluar ke arah Haram yang kewalahan untuk gerak kanan dan kiri, maka boleh mengakhirkan ihramnya, tapi dengan syarat berihram di tempat yang jaraknya ke Makkah sama seperti jarak miqat ke Makkah, seperti kata Mawardi dan diikuti oleh yang lain, dari situ diketahui orang yang datang dari arah Yaman dari lautan boleh mengakhirkan ihramnya di tempat yang sejajar dengan Yalamlam hingga Jeddah, karena jarak Jeddah ke Makkah seperti jarak Yalamlam ke Makkah (Tuhfatul Muhtaj).
Berikut urutan lengkap ritual jamaah Indonesia. Opsi pertama jika diurutkan maka skema pekerjaan haji sejak kedatangan hingga tuntas bagi jamaah haji Indonesia adalah berikut.
-
Menuju Makkah, niat untuk ihram umroh dimulai di miqat (Yalamlam, Jeddah, atau Bir Ali bagi yang turun di Madinah terlebih dahulu).
-
Tiba di Makkah melakukan umroh. Selesai tahalul bisa ganti baju biasa tanpa ihram. Menunggu hari-hari rukun haji bisa santai.
-
Masuk tanggal 8 Dzulhjjah boleh berangkat mengambil sunnah tarwiyah di Mina, tergantung kebijakan rombongan.
-
Tanggal 9 subuh bergerak menuju Arafah, sudah berihram dan niat haji. Shalat zhuhur dan ashar dijamak. Mendengarkan khutbah. Melaksanakan ibadah wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang Arafah hingga maghrib tiba.
-
Setelah maghrib sudah boleh mulai bergerak ke Muzdalifah untuk mabit sejenak mengambil batu secukupnya, tidak perlu banyak-banyak.
-
Tengah malam sudah boleh bergerak ke Mina, kemudian pagi tanggal 10 bergerak melempar jumrah aqabah tujuh kali lemparan. Selanjutnya bisa bergerak kembali ke Makkah untuk thawaf ifadah, sa’i dan tahalul lalu ganti pakaian biasa.
-
Kembali ke Mina untuk lempar jumrah ula dan wustha di 11 dan 12. Kondisi sudah berpakaian bebas bagi yang sudah tahallul.
-
Bagi yang mengambil nafar awwal, maka setelah ashar 12 dzulqa’dah harus sudah keluar dari Mina. Jika sampai maghrib masih di Mina maka harus menyelesaikan nafar tsani dengan menginap semalam lagi dan melengkapi jumrahnya di hari ke 13.
Umroh Pertama
Tiba di Jeddah menjelang subuh, kami langsung dijemput bus untuk diantar ke terminal. Setelah proses keimigrasian yang cukup memakan waktu, kami menuju ke tempat yang disediakan untuk mandi dan menggunakan ihram. Setelah semuanya lengkap dan selesai mandi dan berihram, kami dipersilahkan menuju bus untuk diantarkan ke hotel kami. Posisi duduk sudah tidak berpasangan suami istri. Ibu-ibu di depan, sementara para bapak mengisi bagian belakang.
Dalam perjalanan kami isi dengan bertalbiyah. Berseru bahwa kami memenuhi panggilan ALLAH SWT untuk berumrah dan kemudian melakukan haji. Walau sudah cukup letih dan masih menyimpan kantuk. Kami tetap bersemangat. Sepanjang jalan, Kerajaan Arab Saudi menyambut kami dengan banyaknya papan ucapan di jalan-jalan utamanya. Di bus juga mendapatkan Hadiyah selamat datang dari kerajaan.
Tiba di hotel kami, Al Wehda Tower 2 di daerah Jarwal, Maktab No. 907. Kami menyimpan dan menyusun barang kami. Menentukan siapa dengan siapa di kamar berdasarkan kelompok dan regu. Aku sekamar dengan bapak Abang Muhamad Hasbi (ketua regu 23), bapak Abdul Muis (kebetulan ipar dari pak Abang), bapak Sopian Effendy, bapak Suprapto (yang memilih untuk bergabung di regu kami sebagai anggota tambahan, hehehe). Pak Sopian dan Pak Muis otomatis mengambil tempat di dekat jendela, karena apa? Karena mereka perokok berat. Hehehehe. Bahkan pak Muis selain membawa sendiri juga menitip ke koper istrinya (bu Nelma) dan adiknya (bu Isti). Nomor kamar kami adalah 2528.
Hotel yang kami dapatkan cukup bagus. Tidak ada masalah berarti seperti air dan lain-lain. Memang sempat ada kendala tidak ada air mengalir dan harus diperbaiki, namun pengelola hotel cukup sigap memesan air bertangki-tangki sampai saluran air utama mereka diperbaiki.
Kami beristirahat sebentar untuk selanjutnya menuju ke Masjidil Haram dengan menggunakan bus shalawat Nomor 10 dengan rute Biban/Jarwal – Syib Amir. Syib Amir dan Syib Ali ini adalah yang dulunya dikenal sebagai kawasan pasar Seng. Tempat menunggu bus untuk jamaah di Maktab kami adalah halte dadakan di bekas reruntuhan kios. Jalan sekitar 50 meter dari hotel kami. Bus ini melayani calon jamaah haji selama 24 jam dan beroperasi setiap hari kecuali menjelang waktu wukuf. Beberapa bus dihiasi dengan promosi untuk memperkenalkan Indonesia di badan mobil besar tersebut.
Bus jamaah Indonesia secara penampilan dan kondisi lebih baik daripada bus jamaah India dan Pakistan, namun kalau dibandingkan dengan Turki atau Iran sedikit lebih bagus bus mereka daripada Shalawat Indonesia.
Demi kekompakan maka kami satu regu berangkat bersama-sama. Dari terminal Syib Amir kami berjalan lagi menuju Masjidil Haram sekitar 300 meter. Seru sih nantinya pengalaman naik bus Shalawat ini. Rebut-rebutan, berlari mengejar bus yang datang. Terutama saat setelah shalat subuh, karena jamaah cenderung sudah lapar dan ingin segera sarapan di hotel.
Kami pun segera melaksanakan umroh. Sebelumnya kami menentukan titik kumpul yang selalu akan kami sepakati selama berada di Kota Mekkah. Yaitu Pintu Masjidil Haram No.25.

Setelah selesai melaksanakan umroh, senang sekali rasanya bisa bertemu saudara-saudaraku yang berangkat duluan dengan Kloter 24. Saudara-saudara dari keluarga besar H. Machmud bin H. Abdurrahman dan H.A. Syukur bin H. Abdullah sebanyak 4 orang yang sedang berjalan-jalan selepas shalat di sana.
Berita Duka
Tak lama kemudian kami pulang untuk berganti pakaian dan makan. Selepas makan kami beristirahat. Saat Ashar kami mendapatkan kabar duka. Masih ingat pensiunan polisi yang aku ceritakan sebelumnya? Pak Razali dikabarkan telah meninggal saat beliau sedang menjalankan umroh. Kemungkinan karena letih dan tidak kuat menghadapi panas di Mekkah yang saat itu suhunya berkisar dari 39 – 44 derajat Celcius. Innalillahi wa innailahi raji’un. InsyaALLAH syahid dan husnul khatimah.

Rutinitas Di Mekkah
Sejak hari itu rutinitas kami tidak lain hanya kegiatan ibadah. Subuh menuju Masjidil Haram, sampai lepas syuruq, lalu menjelang dhuha berakhir kembali ke masjid lagi sampai selesai shalat Ashar. Menjelang Maghrib kami ke masjidil Haram dan pulang selepas Isya. Kadang bersama regu kami, kadang juga hanya berdua istri. Makan juga kalau malas kembali ke hotel kami wisata kuliner. Uang saku dari pemerintah masing-masing 1500 riyal memang lebih banyak digunakan untuk makan apa-apa saja yang menarik mata dan selera kami. Belanja? Tidak kepikiran walau beberapa jamaah sudah banyak yang memborong. Ada beberapa gamis yang dibeli istri, untuk sekedar ganti pakaian. Aku juga bukan tipe yang selalu menggunakan pakaian sejenis baju koko atau gamis. Yang ringkas dan praktis saja. Yang penting bersih dan tidak tampak kumal. Tidak juga karena kami tidak tertarik sih, tapi memang sejatinya kami sedang menahan diri karena saat menjelang keberangkatan sudah banyak biaya yang kami keluarkan yang cukup memberatkan buatku dan istriku. Cukuplah jalan-jalan keluar masuk mall dan pertokoan. Toko emas juga kami skip karena perhiasan istriku juga yang ada jarang dipakai. Dan tentu saja yang paling utama, sebagai penikmat kopi, adalah nongkrong ngopi. Kopi di Arab ini banyaknya kopi sachetan. Ada sih gerai Starbucks, tapi sepertinya tidak bersahabat dengan kantong jamaah seperti aku. Hehehe. Hanya sekali nyeruput kopi franchise itu, selebihnya kami menikmati nongkrong sambil menyeduh kopi sendiri atau beli di kios yang banyak tersebar di sekitar Zamzam Tower.
Kopi sendiri sebenarnya di sini ada kopi khas mereka, yaitu qahwah. Namun, kopi arabia ini rasanya cukup bikin negh. Kenapa? Yang beneran itu rasanya seperti kopi brotowali dicampur rempah-rempah. Ketika aku bawakan ke tanah air teman ngopiku semuanya gak ada yang doyan. Hahaha.
Untuk melihat kegiatan kami sepanjang di Mekkah mungkin bisa melihat ke channel youtube kami yaitu channel PERINDU BAITULLAH. Video yang kadang kami lihat sendiri ketika rindu menyeruak, sambil berdoa selalu agar bisa datang lagi dan membawa keluarga lengkap. Semoga dimudahkan. Aamiiin.