Ada satu pengalaman yang aku tidak akan lupakan di perjalanan di Madinah ini.
Suatu waktu selepas Maghrib, aku malas kembali ke hotel. Dan istriku juga saat di Madinah tidak terlalu khawatir, karena memang jarak ke hotel dekat. Aku duduk di pelataran Nabawi, di atas permadani merah tebal yang disusun teratur di sana.
Di sebelahku adalah jamaah Jawa Timur, aku lihat dari syal yang mereka gunakan. Mereka bertiga, usianya mungkin di atas 70 tahun. Aku menyapa mereka dan mencoba berbicara dengan mereka. Memang bagaimanapun bertemu dengan jamaah dari negara yang sama kadang membahagiakan juga. Tapi sayangnya ternyata mereka tidak terlalu bisa berbahasa Indonesia. Pertanyaanku mereka jawab dengan bahasa Jawa dan bercampur bahasa Indonesia yang tidak jelas. Waduh. Miris, aku tidak bisa bertukar cerita dengan orang sebangsa.
Di sebelah lainnya, ada seorang Turki yang sudah berumur menjelang 60an. Saling mengangguk dan mengucap salam, membuka perbincangan. Dalam bahasa Inggris, bicara sekedarnya. Tentang Erdogan yang menurutnya presiden terbaik. Tentang biaya haji negara masing-masing. Tentang remeh-temeh lainnya.
Tak lama kemudian datang seorang pemuda tampan, usia sekitar 30an, membawa tas, mengucap salam dan mohon ijin duduk di antara kami.
Kami persilahkan, dan pemuda itu menyalami kami berdua. Agak kaget karena dia mencium tangan kami 2 kali, sekali di hidung, sekali di kening.
Lantas anak muda itu mengeluarkan sepasang tasbih. Menggunakan keduanya di kedua tangan.
Aku memperhatikan saja ‘kejanggalan’ tersebut, tapi tampaknya dia memang ahli menggunakannya seperti itu. Mulutnya komat-kamit. Mengucap zikir.
Selalu tersenyum ketika berpandangan denganku. Sesekali mereka berdua, si bapak dan pemuda Turki ini, bercakap dalam bahasanya. Suara pemuda tersebut agak aneh, serak. Aku tidak terlalu memperdulikan.
Karena batal wudhu, si pemuda pamit ke bapak tadi dan mohon dijagakan tas bawaannya.
Nah aku melihat kejanggalan lagi. Ketika datang tadi membawa tas, dia berjalan normal. Namun ketika meninggalkan kami, dia berjalan seperti terhuyung-huyung dangan tangan bergerak tidak beraturan.
Si bapak tersenyum, tanpa kuminta dia bercerita.
Pemuda itu ternyata autis dan memiliki gangguan pita suara.
Ah, kayaknya kedua tasbih tadi merupakan sarana penenang tangannya yang terlalu aktif.
Dalam hati berkata, antara kasihan dan kagum pada pemuda tampan tersebut. Walau autis berangkat haji dan mempunyai perangai dan adab yang baik.
Namun lanjutan cerita bapak Turki tersebut sungguh membuatku makin kagum dan takjub.
MasyaALLAH.
Tak tahunya pemuda tadi adalah seorang chef yang sangat terkenal di kota tempat tinggalnya.
Luar biasa. ALLAH Karim. ALLAH Maha Kuasa.