Maghrib kami di perjalanan, sebuah komplek perbelanjaan dan warung makan. Oleh mutawif kami disarankan untuk shalat maghrib saja, tidak perlu menjama’ shalat Isya.

“Rugi mas, nanti shalatnya di Masjidil Haram saja. Pahalanya 100.000 kali. Nanti kita jamaahan sebelum mulai tawaf.” Demikian kata ustadz dari Sumenep itu. Oh iya, si ustadz ini tetap ditemani asistennya yang berusia belasan tahun.
Sekitar pukul 9 malam kami memasuki Kota Mekkah atau Makkah Al Mukarramah. Mutawif menuntun kami membaca doa memasuki kota Mekkah.
اَللّٰهُمَّ هٰذَا حَرَمُكَ وَأَمْنُكَ فَحَرِّمْ لَحْمِيْ وَدَمِيْ وَشَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ وَاٰمِنِّيْ مِنْ عَذَابِكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ أَوْلِيَآئِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ.
“Ya Allah kota ini adalah tanah Haram-Mu dan tempat yang aman, maka hindarkanlah daging, darah, rambut, bulu dan kulitku dari neraka. Amankanlah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan aku ke dalam golongan aulia-Mu dan ahli ta’at pada-Mu.”
Getaran spiritual begitu terasa saat memasuki gerbang kota. MasyaALLAH. Sampai juga hamba ke kota kelahiran manusia paling mulia di dunia ini.
Kami diantar dulu ke hotel, kembali ada perubahan hotel. Kami lagi-lagi mendapat hotel yang berbeda dari itinerary. Tapi gak masalahlah. Yang kemaren protes ditempatkan di Hilton, sementara kami yang santuy tetap di hotel sekitar 500 meter dari Masjidil Haram, di kawasan Misfalah. Waktu makan malam ternyata sudah selesai, sehingga kami makan nasi kotak dari travel.
Setelah semua beres kami berkumpul dan bergerak menuju Masjidil Haram.
Dada berdegup kencang, saat talbiyah bersama-sama kami lantunkan. Perlahan dan serempak kami menuju ke arah Masjidil Haram. Selain kami juga banyak rombongan travel lain yang waktunya bersamaan. Langkah demi langkah. Tak sadar kami telah berada di pintu King Abdul Azis.
Subhanallah megahnya.
Ketakjubanku tiada duanya. Terpesona gerbang kokoh dari marmer abu-abu putih itu. Pendar cahaya terang benderang menambah kharismatik masjid paling utama di seluruh dunia ini.
DAN airmataku runtuh saat Ka’bah terpampang di depan mata.
Terasa kecil dan lemahnya diri ini.
Ya ALLAH, hamba datang Ya ALLAH.
Akhirnya hambamu yang penuh dosa ini berada di Rumah-MU.
Semua jamaah pun merasakan dan mengalami hal yang sama. Suara isak tangis dan sesegukan di antara kami.
Ya ALLAH Ya Rabb.
Oleh ustadz pembimbing kami dituntun untuk membaca doa :
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ واللُه أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَدَارُكَ دَارُ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ الَّلهُمَّ إِنَّ هَذَا بَيْتُكَ عَظَّمْتَهُ وَكَرَّمْتَهُ وَشَرَّفْتَهُ اللَّهُمَ فَزِدْهُ تَعْظِيمًا وَزِدْهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَزِدْهُ مَهَابَةً وَزِدْ مَنْ حَجَّهُ بِرًّا وَكَرَامَةً اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَأَدْخِلْنِي جَنَّتَكَ وَأَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Laa ilaha illallaha, allahu akbar, allahuma antas salam wa minkas salam wa darukas salam, tabaarakta ya dzal jalali wal ikram, allahuma inna hadza baituka ‘adzdzamtahu wa karamtahu wa syarriftahuK allahuma fazidhu ta’dziman wa zidhu tasyrifan wa takriman wa zidhu mahabatan wa zid man hajjahu birran wa karamatan, allahumaftah li abwaba rahmatik wa adkhilni jannataka wa a’idzni minasy syaithanirrajim
“Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, Engkalah keselamatan, dari-Mu keselamatan dan rumah-Mu adalah rumah penuh keselamatan. Maha Suci Engkau, Wahai Dzat Pemilik Keagungan dan kemuliaan. Ya Allah sesungguhnya ini adlah rumah-Mu yang telah Engkau anugerahi keagungan, kemuliaan dan kehormatan. Ya Allah maka dari itu tambahkanlah keagungannya, tambahkan kemulian dan kehomatannya, tambahkan wibawanya dan tambahkan kebaikan dan kehormatan bagi orang yang pergi menuju ke sana. Ya Allah. bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu dan masukkanlah aku ke dalam surga-Mu serta lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk.”
Ramai sekali Masjidil Haram malam itu. Maklum itu malam pertama Ramadhan 1432 H. Penuh sesak. MasyaALLAH indah sekali rumah ALLAH ini. Tempat yang menjadi kiblat muslim sedunia kala beribadah. Ka’bah dan Hajar Aswad memang bukan yang disembah. Tapi mereka menjadi simbol persatuan umat muslim dimanapun berada. Tak henti-henti aku mengagumi Baitullah.
Malam itu telah aku patrikan rasa cinta di hati kepada Baitullah.
Kami mengambil tempat kosong di kawasan pelataran tawaf. Mutawif mengimami kami shalat Isya. Selepas berdoa, kami melakukan tawaf dalam satu grup yang saling menjaga.
Tawaf dilakukan dengan memutari Ka’bah sebanyak 7 kali, yang dimulai dari sudut Hajar Aswad atau yang ditandai dengan lampu hijau di lantai maupun di dinding masjid.
Bismillahi Allahu Akbar! Itu yang kita ucapkan sambil mengecup tangan dan melambaikan ke Ka’bah. Tanda dimulainya ibadah tawaf.
Kami mengikuti bacaan yang dilafalkan oleh mutawif. Sebenarnya sih kita bebas membaca doa dan permintaan apa saja. Namun karena saat itu aku baru pertama kali melakukannya, jadi ikut saja bimbingan dari sang ustadz muda itu. Saat tawaf aku selalu berada di belakang, sementara bapak memimpin emak dan Eva, adikku. Jadi aku menjaga kedua wanita yang aku sayangi itu.
Terbayang nanti melakukan tawaf sama istri. Sempat sih berpikir harusnya aku bersama istriku. Tapi saat itu anakku masih kecil, terutama yang bungsu. Usianya belum 5 tahun. Belakangan istriku pergi umroh bersama Eva. Setelah dia menikah dengan Anwar. Oh iya, saat itu walaupun dia anak ketiga, tapi dia satu-satunya yang belum menikah. Sedang 2 adiknya sudah duluan. Memang baru kenal dengan yang namanya Anwar tadi. Dan aku yakin yang didoakan kedua orang tuaku dan Eva sendiri saat di tempat mustajab buat berdoa adalah jodoh yang tepat untuk adikku ini.
Alhamdulillah, ALLAH SWT kabulkan.
Selepas kami umrah 8 bulan kemudian mereka menikah dan pergi umroh lagi.
Selesai tawaf kami shalat di jejeran maqam Ibrahim. Kata maqam di sini bukanlah bermakna makam sebagai tempat peristirahatan terakhir, melainkan sebuah prasasti peninggalan zaman Nabi. Maqam Ibrahim menjadi salah satu peninggalan zaman Nabi yang begitu dihormati. Bukan tanpa alasan, dahulu, Maqam Ibrahim adalah sebuah batu yang dibawa oleh Nabi Ismail untuk Bapaknya, Ibrahim agar dijadikan sebagai pijakan saat membangun dinding Ka’bah yang tinggi. Batu yang dipijak oleh Nabi Ibrahim tersebut, atas izin Allah lama kelamaan berubah menjadi lunak sehingga telapak kaki Nabi Ibrahim tercetak di atasnya.
Selesai shalat, kami minum air Zamzam di dekat tempat kontainer air itu disiapkan. Ada 2 jenis kontainer air. Satunya dingin dan satu lagi berteremperatur normal.
Adab yang seharusnya dilakukan saat meminum air zamzam sesuai yang aku baca pada petunjuk di dalam masjid adalah:
-
Membaca doa sebelum meminumnya
-
Meminum dengan tangan kanan
-
Meminum menghadap kiblat
Setelah itu kami melakukan sa’i di bukit Safa dan Marwa, karena kami mengambil di lantai satu maka permukaan bukit masih muncul sebagian. Di daerah ujung kedua bukit itu memang ada yang dipagari, namun saat aku datang dulu masih ada wilayah bukit berbatu itu yang bisa diinjak. Yaitu di daerah Marwa, tempat akhir sa’i ini, yang dilakukan 7 kali dimulai dari Safa dan berakhir di bukit Marwa. Di antara kedua bukit tadi ada batas hijau dimana itu pertanda kaum lelaki disunnahkan untuk berlari kecil.
Di Marwa ini kita melakukan tahalul sebagai tanda berakhirnya ibadah. Tahalul adalah memotong beberapa helai rambut di beberapa tempat. Ustadz mengingatkan kepada kami agar jangan mau jika ada anak-anak remaja yang menawarkan untuk tahalul sama mereka. Karena mereka tidak berumrah dan nantinya akan meminta bayaran. Tahalullah kepada orang yang telah selesai umroh dan bertahalul.
Benar saja, di lorong Marwa itu belasan anak remaja yang membawa gunting. Sebenarnya mungkin mereka ini ‘menyewakan’ gunting semata. Tapi yang tidak mengerti malah membiarkan mereka memotongkan rambut untuk tahalul.
Selesailah ibadah umroh yang kami lakukan. Saat itu sekitar pukul 12 malam. Kami segera pulang, tanpa menggunduli rambut. Mungkin sudah terlalu letih bapakku, hingga melewatkan saja jejeran kios pangkas yang ada di sepanjang jalan menuju hotel. Padahal seharusnya digunduli plontos, karena kemudian aku baca bahwa Ibnu Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW usai tahallul dengan bercukur berdoa; “Ya Allah, rahmati orang yang mencukur gundul kepalanya”. Rasulullah mengulang doa itu sampai tiga kali. Lalu, ada seorang sahabat bertanya: “Bagaimana dengan orang yang hanya memangkas rambutnya saja tidak sampai gundul”. Maka Rasulullah SAW berdoa; `Ya, Allah rahmati juga orang yang memangkas rambutnya”. Walaupun sebaiknya menggundul kepala itu lebih baik di umroh terakhir. Karena jika kita berangkat umroh selain yang kita lakukan saat berangkat dari Madinah, ada umroh lainnya yang bisa kita lakukan. Umroh ini dapat kita hadiahkan untuk ba’dal umroh saudara atau siapa saja yang belum berangkat umroh namun telah meninggal dunia ataupun terlalu sepuh untuk melakukannya sendiri.
Malam yang melelahkan. Juga malam yang berkesan. Malam dimana aku benar-benar jatuh cinta pada Baitullah.