Sahur pertama di Ramadhan tahun ini juga berkesan. Sama seperti di Madinah, katering makannya lumayan enak dan melimpah. Yang aku heran adalah buahnya yang banyak. Bahkan buah yang aku belum pernah makan seperti plum. Pisang dan jeruk besar dan segar. Mau tahu apa yang terjadi dengan yang di Hilton? Mereka tidak sahur pada hari itu. Bagaimana bisa? Ternyata ruang makan di hotel itu sudah dibooking semuanya sama katering buat jamaah Mesir dan Turki. Kasihan sekali. Dan nasi kotak buat mereka datangnya nyaris terlambat. Nasib.
Beruntunglah kami yang sabar dan menerima kondisi di hotel yang disediakan.
Shalat subuh bersama keluarga. Kami mengambil lokasi paling atas dimana kami bisa melihat Ka’bah di bawah sana.
“Kamu harus coba buat ke Hijr Ismail dan mencium Hajar Aswad, Bud.” Demikian saran bapak. “Pergi sendiri saja. Bapak kayaknya sudah tak mampu berdesak-desakan. Dulu waktu haji Bapak juga sudah pernah.”
Sambil memandang ramainya jamaah, ada gentar juga di dada ini.
“Caranya gini. Kamu turun ke sana buat tawaf. Sambil tawaf sambil merapat ke arah Ka’bah. Selesaikan 7 putaran, lantas begitu selesai pasti kamu sudah makin dekat ke Ka’bah.” Ujar bapakku sambil menunjuk ke arah pintu Hijr Ismail, “Setelah makin dekat, merapatlah ke dinding Hijr Ismail tadi, pelan-pelan, ikuti arus.”
“Baik Pak. Nanti Budi coba.”
“Nah, setelah makin dekat ke pintunya, ikutan mengantri. Tapi jangan berdesakan. Begitu bisa masuk. Segera masuk. Shalatlah 2 rakaat. Sebenarnya tidak perlu menghadap ke Ka’bah, karena Hijr Ismail termasuk bagian dalam Ka’bah. Tapi agar tidak mengundang keanehan. Sebaiknya tetaplah ke arah Ka’bah.”
“Oh begitu ya, Pak?”
“Iya. Lakukan doa di situ. Caranya? Sama kayak di Raudhah. Pas sujud, berdoa yang lama. Jangan berdoa duduk. Seperti biasa kamu akan didesak keluar oleh jamaah lain. Setelah selesai, lakukan hal yang sama untuk bisa mencium Hajar Aswad. Pergilah sekitar pukul 9, biasanya tidak terlalu ramai. Coba apa kamu bisa? Awan dulu, gak bisa dia mencium Hajar Aswad.” Awan adalah nama adikku nomor 2 yang berangkat sama beliau tahun 2006.
Aku mencamkan apa yang diajarkan bapak kepadaku.
Selepas mandi aku pun bersiap-siap menuju Masjidil Haram. Ternyata situasi gak sesepi yang aku bayangkan. Cukup ramai jamaah, terutama di lingkaran dekat Ka’bah. Jamaah yang tawaf siang itu sangat ramai. Seperti pusaran air. Sampai ke pinggir-pinggir batas pagar mesjid.
Waduh. Sempat ciut nyaliku, sebenarnya.
Tapi aku membulatkan tekad, shalat sunnah disambung dengan berdoa dalam hati; “Ya ALLAH, hamba ingin bisa ke Hijr Ismail dan Hajar Aswad. Kabulkanlah Ya ALLAH karena Dirimu-lah Pemiliknya.”
Bismillah.
Aku pun melangkah. Memulai tawaf sunnah. Oh ya, di Masjidil Haram ini tidak ada shalat tahiyatul masjid. Diganti dengan tawaf. Baru saja aku mulai, aku lihat ke dalam makin rapat orang-orang. Siang, panas, shaum. Tapi niat orang-orang tadi tidak hilang. Semua merangsek menuju Hajar Aswad tadi. Aku terhimpit. Tapi tetap mengikuti arus sambil bertalbiah.
Lewat depan sudut Hajar Aswad, aku lihat orang-orang berebutan ke situ. Mengerikan juga. Bisa gak nih aku masuk ke situ? Demikian pikirku. Dalam hati aku juga berujar dan berdoa, Ya ALLAH, perkenankan hambamu ini mencium Hajar Aswad tadi. Karena hamba ingin, bukan karena tantangan bapak. Sebab dari tanah air pun aku sudah bertekad. Subhanallah.
Tahu apa yang terjadi? Di belakangku menyusul sekelompok pria berpakaian ihram. Badannya besar-besar. Mereka adalah jamaah dari Mesir yang baru akan melaksanakan umroh. Awalnya kami berdampingan mengelilingi Ka’bah sampai akhirnya ada seorang dari mereka mengangkat tangan tersenyum dan mengucapkan salam kepadaku, assalamu’alaikum. Lalu temannya juga. Aku membalas dengan senyum. Tak tahu mengapa, mereka meminta aku bergabung dengan isyarat tangan mengajak dan menunjuk ke lingkaran mereka. Isyarat yang diiringi dengan bahasa Arab yang aku tidak mengerti. Aku berpikir kenapa tidak nih. Sendirian akan cukup sulit untuk menerobos kerumunan orang-orang di pelataran Ka’bah. Seru juga bergabung dengan orang-orang Arab ini. Mereka lantang dan bersemangat membaca doa-doa. Berjalan cepat, sehingga tawaf tidak begitu lama. Dan aku mendapatkan kemudahan sampai akhirnya tawaf selesai dan aku sudah berada dekat sekali dengan dinding Ka’bah.
Rombongan itu berpisah denganku setelah saling mengucapkan salam. Mereka melambaikan tangan dan berlalu.
Aku merapat ke arah Hijr Ismail, memepetkan tubuh di dinding berbentuk setengah lingkaran itu. Menapak satu langkah demi satu langkah, hingga akhirnya dapat mendekat ke pintu Hijr Ismail. Tidak lama kemudian aku berkesempatan berada di dalamnya. Sungguh sangat ramai dan berdesakan. Askar keamanan di lokasi itu cukup kewalahan. Padat sekali di dalam, bahkan mungkin tidak ada ruang untuk bersujud. Alhamdulillah, aku berada tepat di bawah kubah emasnya. Langsung saja aku mengambil posisi untuk shalat sunnah 2 rakaat. Aku shalat dengan leluasa, walaupun di sekelilingku tampak heboh dengan suara-suara orang berebut. Saling dorong, berdesak-desakan. Yang di luar ingin segera masuk. Yang di dalam belum mau keluar.
Setelah shalat aku tidak duduk, namun otomatis aku bersujud kembali untuk berdoa dengan segala doa yang aku bisa. Memohon ampunan atas segala dosa yang pernah aku perbuat. Meminta keselamatan dunia akhirat. Lama sekali rasa-rasanya aku berdoa. Sementara di sekitarku orang riuh. Bermacam bahasa.
Setelah puas, aku mengangkat tubuhku, aku melihat di sebelah kanan ada yang aneh terjadi. Ternyata shalatku di’kawal’ askar/tentara di kiri dan kanan. Serius. Mereka memblokir tiap orang yang akan melintas di hadapanku.
Luar biasa, ya? Bagiku TENTU SAJA. Sebab yang jika yang lain mereka biarkan saja tuh dilintasi oleh orang, mereka gak marah, di’injak’ malah. So? Aku mengada-ada? It’s real. Aneh? Tapi ini benar-benar terjadi.
Subhanallah.
Pantas aku bisa dengan nyaman shalat dan berdoa, karena yang aku lihat jika di Hijr Ismail ini, dilangkahi dan didorong jamaah lain bukan hal yang aneh. Alhamdulillah. Tak lupa kepada askar itu aku ucapkan syukron dan tersenyum. Mereka mengangguk dan membalas senyumku.
Sebelum keluar aku sempatkan mendekap dinding Ka’bah sambil berdoa dan sekali lagi memanggil nama istri dan anak-anakku. Semoga nanti mereka bisa ke tempat ini juga menyusul suami dan Bapaknya.
Keluar dari Hijr Ismail, aku semakin yakin akan pertolongan dari ALLAH SWT akan dimudahkan. Sekali lagi aku berniat dan memohon agar dilancarkan keinginan mencium Hajar Aswad.
Dan ternyata memang selalu dikirimkan jalannya. Bagaimana tidak, entah bagaimana aku diajak beberapa orang lelaki berbadan besar, untuk berada di group mereka. Gak jelas juga, hanya dari pakaiannya aku menebak ini juga orang Mesir, karena menggunakan gamis yang banyak dipakai oleh jamaah dari negara itu.
Aku berada di tengah mereka semua, merangsek menuju Rukun Yamani, lalu kemudian bersama-sama menyibak kerumunan orang yang sedang merambat menuju ke Hajar Aswad. Perlahan kami mulai mendekat. Orang-orang saling sikut, namun aku aman dalam perlindungan orang-orang ini. Sampai akhirnya kami tiba di situ. Di depan Hajar Aswad. 3-4 orang dari mereka duluan mencium batu hitam itu, lantas mempersilahkanku melakukan hal yang sama.
MasyaALLAH.
Waktu seolah berhenti. Tercium bau semerbak dari oud yang selalu dilumuri ke batu itu. Puas kuciumi batu berbau harum itu. Lama sekali kurasa. Berkali-kali. Aku membuka surban yang kupakai di leher. Aku usapkan ke Hajar Aswad. Berharap harumnya menempel di situ. Agar nanti harumnya bisa dicium oleh anak dan istriku. Aku puas-puaskan.
Dan berbeda dengan kejadian sebelumnya dimana terjadi saling tarik agar orang cepat dan bisa gantian. Aku nggak. Benar-benar aku bisa puas mencium batu hitam Hajar Aswad. Gak ada yang menarik aku agar cepat. Gak ada yang protes. Dan orang-orang Mesir tadi membiarkanku sepuasnya.
Ya ALLAH. Terima kasih.
Setelah itu aku digantikan anggota rombongan orang Mesir tadi, mundur ke arah pintu Ka’bah menghindari kerumuman pejuang Hajar Aswad. Dan aku tak sempat berucap terima kasih pada mereka. Aku mundur. Dan mereka pun berpisah denganku.
Aku tidak langsung pergi karena terlanjur sudah di daerah Multazam. Orang-orang baik tadi sudah tak tampak di mataku.
Semoga ALLAH SWT membalas kebaikan mereka.
Tahu apa itu Multazam? Tahu?
Tempat paling diinginkan orang-orang untuk berada saat di Masjidil Haram? Coba perhatikan di Youtube, atau nanti pas ke sana. Orang-orang berdesakan juga di situ. Bergantungan. Memasukkan wajah ke dalam penutup Ka’bah. Berdoa dan menangis. Itu terjadi padaku.
Dan, percaya atau tidak? Aku gak berebutan untuk itu. Mundur dari Hajar Aswad. Aku hanya berdoa di tempat yang masuk radius pintu Ka’bah dan Hajar Aswad tadi.
Tahu yang terjadi? Seorang Afrika bertubuh besar memanggilku. Menunjuk-nunjukku. Aku bingung. Dia masih menunjuk, kemudian menyuruh aku mendekat dengan tangannya. Aku datangi lelaki yang sedang bergantung di pintu Ka’bah itu. Dia menarik tanganku, kemudian membantuku bergantungan seperti dia. Kemudian dia meninggalkanku. Di situlah airmataku menetes. Bisa berdoa di tempat yang paling diidamkan banyak orang. Tanpa bersusah payah.
Alhamdulillah.
MasyaALLAH.
Akhirnya aku yang setengah bingungpun melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang menempelkan tubuhnya dan bergantung di pintu Ka’bah. Yang aku ingat adalah minta ampun dan bertobat sebanyak-banyaknya di sana. Semoga ALLAH SWT ijabah doaku itu.
Selesai itu aku pulang ke hotel. Melapor pada bapakku bahwa yang dianjurkannya telah aku lakukan. Bahkan bonus bisa berada tepat di bawah pintu Ka’bah. Bapakku bahagia mendengar ceritaku. Saat aku ceritakan kemudahan yang aku dapatkan, beliau mengatakan itu karena sama kayak kejadian di Percetakan Al Qur’an kemarin. Aku dianggap mualaf. Hehehe.
“Tapi bisa juga itu karena kita suka bantu orang. Maka kita juga akan dimudahkan orang.”