Bulan demi bulan terlewati. Sampai kemarin waktu adik bungsuku menikah, Bapak bilang ada rencana pergi Umrah, selepas semuanya beres. Bapak nomor satu di dunia itu sudah mulai renta.
“Bud, Bapak mau minta temani kamu ke Mekkah.”
Demikian telepon dari Bapak di Jakarta suatu hari di bulan Juni 2011.
“Mendadak sekali Pak?”
“Berangkatnya bulan depan. Hitung-hitung syukuran ultah bapak ke-65.”
“Baik Pak. Nanti Budi cek dulu kegiatan di kantor.”
Jujur aku sempat berpikir panjang, sebab waktu yang diajukan beliau adalah masa-masa dimana kerjaan utamaku sebagai tukang photo sangat kebanjiran order, sementara pekerjaan (sampingan)ku di kantor juga mesti dibereskan. Belum lagi urusan di rumah.
Kembali lagi jadi dilema.
Aku mengabarkan berita ini pada istriku.
“Berangkatlah, yah. InsyaALLAH semua aman dan terkendali.” Demikian jawabannya.
Ya sudah, akhirnya aku urus passport lagi. Mesti mengulang dari awal. Sebab passport yang lama sudah terlalu lama tidak berlaku. Gak pakai nembak, walau agak repot urus sendiri saja. (Untuk yang belum pernah bikin passport; ternyata bikin passport tahun itu hanya butuh kesabaran semata plus uang gak sampai 300 ribu rupiah, oh iya untuk karyawan mesti rekomendasi Direktur Perusahaan/Kantor)
Setelah passport beres, mulai negosiasi waktu sama Bapak soal tanggal keberangkatan. Awalnya minta Juli awal. Waduh, ada 4 uang muka pekerjaan yang aku terima (juga ternyata 2 job dadakan di belakang hari), bagaimana mau dibatalkan?
Alhamdulillah, bapak kepikiran untuk Ramadhan di sana. Akhirnya dipilih keberangkatan tanggal 27 Juli 2011.
Masalah belum selesai. Bapak tercinta ternyata ingin Umroh yang 12 hari pula, sementara dalam hitunganku 9 hari benar-benar pas. Ya sudah, aku setuju saja. Sebab ternyata penambahan biayanya juga tidak banyak. Beliau juga yang bayarin. Tinggal urusan sama kantor nih. Sebab walau jatah cuti 12 hari itu dimulai 1 Juli, tetap saja udah aku ‘korupsi’ 2 harinya karena job-job musim kawin tadi. Tanya ke HRD, jatahnya tinggal 10 hari saja untuk cuti resmi. Oh My God. Gak bakalan bisa diakalin lagi. Kayaknya mesti nekad bolos dan resiko melanggar pasal penting tidak boleh tidak masuk 5 hari berturut-turut. Mana manager HRD gak kompak lagi sama aku, sebab sampai 3 bulan ke belakang masih perang dingin sama aku. Hehehe.
Tapi ALLAH SWT memberikan jalan, Direktur memanggilku untuk dibikinkan desain Klinik Pribadi-nya. Sewaktu mengantarkan hasilnya, dengan ragu minta ijin sama beliau. Jawabnya melegakan hati, “Kalau kamu minta ijin umrah saya ijinin. Tapi kalau ke Thailand buat senang-senang ya nggak.”
Alhamdulillah.
“Tapi ada lagi, Pak.” kataku.
“Apa itu?”
“Saya minta ijin khusus tidak masuk kerja sekitar seminggu di luar cuti.”
“Oh, iya gak apa-apa. Terus pekerjaan kamu?”
“Sudah didelegasikan, Pak.”
“Baiklah.”
Beliau kemudian membuat disposisi untuk surat cuti dan ijin tambahan.
Berangkat!
Setelah itu aku segera mengirim paspor ke Jakarta beserta dokumen lain yang dibutuhkan untuk pengurusan Visa.
Singkat cerita, setelah persiapan yang ringkas dan serah terima kerjaan di kantor serta instruksi kepada Editor Video Mr. Marsis Picasso, aku berangkat ke Jakarta. Dengan bantuan Bu Motiq dapat juga tiket Sriwijaya yang murah, sedang untuk pulang aku booking online Garuda, lumayan murah, namun ujung-ujungnya nomboknya banyak juga karena bawaan balik yang bejibun.
Tiba di Jakarta dijemput mantan supir Bapakku, gak ke rumah malah ke Kalimalang, mengantar cetakan Wedding Book sekalian kenalan dengan managernya, yang selama ini hanya aku hubungi lewat telepon dan email. Urusan 3 Wedding Book kelar, singgah sebentar ke Megapolitan Mall untuk ketemu teman baikku. Ngobrol di Wendy’s -sudah lama kangen baked potato- sampai sekitar jam 12. Lantas aku lanjut ke Bandung. Sungkeman dulu sama ibu. Ke makam.
Terus ketemu dengan teman lama di Toko You, Dago. Dari sore sampai akhirnya maghrib, terus cabut kembali ke Jakarta.
Besoknya diisi dengan shopping dikit (beli sandal gunung dan kacamata murah meriah) di Ramayana Tamini Square.
Sore sampai malam barulah ke Restoran Munik untuk menghadiri kegiatan Manasik Umroh. Mestinya jangan di restoran seperti ini, di lantai dasar kita manasik, di lantai satu ada yang ulang tahun dan karaoke lumayan kencang. Hahaha.
Namanya Indonesia, ngaret sudah pastilah.
Bapakku, salah satu orang yang paling disiplin soal waktu, dari jam 3 lepas Ashar saja sudah mulai ngomel karena Emak, Eva dan aku belum siap-siap lagi. Padahal begitu sampai di sana tempatnya saja masih belum diberesin pastilah ngomel lagi dalam hatinya.
Tunggu punya tunggu, selepas maghrib dan makan malam barulah manasik dilaksanakan.
Waktu makan malam kami berkenalan dengan beberapa orang yang ternyata satu rombongan dengan kami nantinya. Juga baru tahu bahwa manasik kali ini disatukan. Kayaknya karena jumlah rombongan group kami tidak banyak. Pertama hanya 10 orang, lalu nambah 2 orang yang tidak menggunakan pesawat dari travel, dan 7 orang dari Palu. Kasus pula yang dari Palu ini, ternyata Visa mereka belum keluar sampai saat manasik diadakan. Untunglah pagi besoknya sebelum kami berangkat visanya sudah beres.
Pada makan malam itu terungkaplah sesuatu permasalahan. Ternyata brosur di koran hotel yang digunakan adalah hotel bintang 5, namun dari panduan yang kami dapat hanya di hotel bintang 3. Sempat ‘dihasut’ untuk protes sama 3 orang anggota rombongan Jakarta, aku lalu konsultasi sama Bapak. Bapakku bilang, tidak tahu dan tidak memperhatikan soal iklan tersebut.
Dengan bijaksana beliau berkata, “Sudahlah, yang penting hotelnya enak, toh kita bukannya mau liburan dan butuh hotel yang bintang 5. Nanti waktu kita banyak di mesjid kok.”
Sebagai keluarga yang kompak akhirnya kami setuju untuk tidak protes dan minta pindah hotel. Jadi yang protes hotel hanya 3 orang ibu-ibu dari Jakarta dan keluarga Palu yang 6 orang. Yang 1 lagi dari Palu ikut dalam kelompok 10 yang tidak minta pindah hotel.
Penasaran, aku konfirmasi sama pihak travel, mereka mohon maaf ternyata itu materi iklan yang lama. Cuma karena tanggung jawab mereka, protes dari 9 orang tadi mereka tampung dan memindahkan hotel sesuai permintaan. Semuanya clear.
Travel yang kami pakai, kalau menurut keterangan mereka dan SK yang mereka dapatkan sih mulai bergerak dalam perjalanan haji dan umrah tahun 1996, namun terus terang secara pelayanan mereka masih perlu banyak pembenahan.
Rombongan Palu yang 6 orang protes soal kepastian keberangkatan mereka. Soal Visa yang tadi aku singgung di atas. Namun harus dipahami juga bahwa jumlah pengajuan Visa Umrah selama Ramadhan meningkat pesat.
Protes juga nanti berlanjut sepanjang perjalanan, terutama bagi yang terbiasa menikmati kenyamanan. Cerita soal kenyamanan ini di bagian selanjutnyalah.
Keberangkatan pertama ini aku gak vaksin lho, tapi entah bagaimana aku punya buku vaksin Meningitis, lho. Hehehe. Mungkin lupa, mungkin diskip sama travel. Karena masa itu vaksin diatur dan difasilitasi sama travel. Untunglah tidak terjadi apa-apa saat beribadah itu.
Manasik yang diberikan sangat menyentuh hatiku. Mungkin tampaknya mengada-ngada, tapi jujur saat manasik yang diberikan oleh ustadz yang diundang PT Gamal Hikmah Pusaka itu sungguh membuat hati ini tersadarkan. Ustadz pembimbing manasik manasik ini sungguh bisa membuat kita kepingin segera berangkat. Sebab yang utama sekali adalah dia bisa menyelaraskan gelombang bathin kita dengan gelombang yang dipancarkan oleh Mekkah dan Madinah.
Aku menangis di saat diajarkan dan beramai-ramai mengucapkan talbiyah. Air mata menetes tak terbendung.
Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka.
Kerinduan itu dibangkitkan.
Rasa penyesalan karena menunda kesempatan.
Labbaik. Allahumma labbaik. Ya ALLAH kami datang.
Manasik itu telah menautkan rasa cinta yang besar pada Baitullah.
Sang pembimbing manasik ini pula yang akhirnya menyadarkan aku untuk benar-benar ke sana atas niat ibadah, padahal sebenarnya ada keinginan untuk shopping dan membeli macam-macam barang yang katanya murah di sana (memang sebenarnya murah sih), jadi keinginan itu aku redam dan alhamdulillah bisa. Sebenarnya juga karena gak banyak duit sih. Wakakakaka. Cuma kalau buat beli jam tangan, parfum dan lensa serta flash sudah aku siapkan.
Dan dia bisa meyakinkan aku untuk tidak percaya bahwa kesalahan kita akan diganjar ALLAH SWT di sana. Semuanya dari keyakinan kita saja. Jika kita percaya akan datang, itulah yang akan kita dapatkan. Dan terbukti di perjalanan ini. Nanti aku ceritakan detil, di bagian selanjutnya yang bercerita tentang umrah dan kehidupan selama di kota-kota suci itu.
Inti dari bagian ini adalah, buat teman-teman yang berencana umrah atau haji ONH Plus (aku doakan kalian semua dapat ke sana), ketika memilih Biro Perjalanan-nya pastikan semua yang didapat ketika mendaftar. Agar tidak ngedumel dan marah-marah ketika ternyata kesalahan itu tidak disengaja.
Kemudian yakinkan bahwa kita ke sana untuk ibadah, bukan untuk bersenang-senang dan liburan, jadi lupakan keinginan shopping segala macam. Dua kali kejadian, adik-adikku malah kehilangan barang yang sudah dibeli dan kehilangan uang untuk membeli barang yang diidam-idamkan.
Dan yang terpenting, yakin bahwa ALLAH SWT itu Maha Pengasih dan Penyayang, mengerti apa yang kita butuhkan, dan pasti memberikan yang terbaik untuk kita.