Hari keberangkatan tiba.
Di Bandara Soekarno Hatta. Tanggalnya 27 Juli 2011.
Bersama rombongan, kami sudah berkumpul dari jam 8 pagi, walaupun sebenarnya waktu kumpulnya itu sekitar pukul 10. Namun bapakku adalah salah seorang di dunia ini yang paling tidak suka terlambat.
Rombongan itu terdiri dari aku, bapak, emak dan Eva. Kami berempat.
Waktu itu diantar sama Jamie dan calon adik iparku Anwar.
Penerbangan kami ke tanah suci menggunakan pesawat Lion Air. Nyaris semua penumpang adalah jemaah umrah dari bermacam-macam travel umrah.
Group travel kami memang tidak banyak anggotanya, ada baiknya juga, pengurusan tidak memakan waktu lama.
Menggunakan pesawat low cost, tentu tidak terlalu nyaman. Tapi mungkin karena penerbangan internasional sangat ketat dengan time schedule, tidak ada delay. Beda kalau penerbangan antar kota yang pasti sering kali mengalami keterlambatan.
Perjalanan memakan waktu sekitar 10 Jam. Tidak pakai transit, langsung ke bandara King Abdul Azis. Waktu itu bandara Madinah belum difungsikan untuk penerbangan umroh. Sekitar waktu Ashar atau pukul 4 lewat di Jeddah kami mendarat dengan selamat. Sebagai catatan, waktu siang lumayan lama di tanah Arab.
Low Cost Airlines dapat terminal yang terpisah. Hehehe.
Begitu masuk terminal, yang menyambut pertama adalah cleaning service yang jualan kartu perdana telepon seluler. Macam-macam harganya. Aku tidak terburu-buru membeli, dan itu keputusan yang baik karena ternyata di hotel dapat yang lebih murah.
Setelah pemeriksaan passport yang lumayan memakan waktu, dan juga ternyata visa Eva bermasalah, sehingga adik nomor tigaku ini dipisahkan dari rombongan. Bapakku panik, tapi aku tetap kalem.
Dengan (di sini baru kerasa kemampuan bahasa itu perlu) menggunakan bahasa Inggris aku berkomunikasi dengan petugas Imigrasi Arab Saudi. Seperti yang diduga, tidak terlalu banyak mereka yang bisa bahasa Inggris, bahasa Indonesia juga mereka cuma tahu ‘maju, maju’ untuk menyuruh kita bergerak dan berjalan. Akhirnya ketahuan ada masalah nama yang salah dalam pengimputan di Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Masalah itu bisa diselesaikan.
Keluar dari bandara, kami masih menunggu mutawif atau pembimbing umrah. Regu kami ini belum dijemput juga. Sampai akhirnya kami terpaksa shalat maghrib dulu di pelataran terminal bandara. Bapakku yang sudah berusia 65 tahun itu sudah tampak sangat renta. Apalagi diabetes yang selama ini dideritanya membuat kondisinya gampang lelah.
Ya ALLAH, berdosa sekali aku kalau kemarin masih menolak menemani beliau ke dua kota suci ini, demikian batinku.
Kasihan bapak sudah mulai capek, dan yang pasti mulai menahan marah, karena seperti yang disebutkan di atas, bapak ini orang yang tepat waktu. Belum lagi mungkin lapar dan dahaga. So, belanja pertamaku di Saudi adalah air mineral, roti dan kurma. Bapak dan emak kuminta duduk di atas koper, karena jumlah kursi tunggu tidak banyak tersedia.
Akhirnya jemputan kami datang. Dengan tergesa-gesa kami diarahkan ke sebuah bus yang membawa kami ke Madinah. Busyet busnya jelek banget. Ada yang mulai protes. Akhirnya kami tahu bahwa itu bus hanya mentransfer kami ke bus lain yang lebih baik. Dan tadi terlambat karena menjemput dulu 2 orang anggota rombongan yang terpisah penerbangan. Mereka pakai Garuda Indonesia, karena kebetulan pegawai level tinggi di maskapai itu. Ternyata kalau langsung bus penjemput kami yang masuk ke areal bandara, biaya atau charge terhadap penyelenggara akan lebih mahal. Itu info menurut keterangan mutawif yang menjemput..
Sampai di tempat penggantian bus tersebut, kami dapat makan pertama kami.
Porsinya jumbo. Buahnya pisang yang gede dan anggur. Karena memang lapar dan juga sesuai, makanan itu habis kami makan.
Perjalanan dari Jeddah ke Madinah memakan waktu sekitar 5 jam. Sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan gurun pasir dan perkampungan arab.
Mutawif kami bernama Hambali, masih muda sekitar 24 tahun, mahasiswa yang sedang berkuliah di sana. Dia dibantu seorang asisten yang namanya aku sudah lupa.
Seingatku ada 2 kali pemeriksaan passport ketika perjalanan tersebut.
Perjalanan diisi cerita dan penjelasan oleh pembimbing umrah kami. Beberapa cerita yang membuat kami merasa bersyukur dapat mengunjungi dan beribadah di tanah suci.
Memasuki kota Madinah Al Munawaroh, mutawif mulai mengajak jamaah di dalam bus untuk melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kota Madinah adalah kotanya Nabi Muhammad SAW. Suasana mendadak syahdu. Lampu kota Madinah yang mulai berpendar di hadapan kami, menambah khusyuknya keadaan di dalam kendaraan kami yang bergerak menuju hotel. Banyak dari jamaah terisak, termasuk aku yang duduk sendirian di bagian belakang bus. Dada ini berasa bergetar hebat. Air mata mulai mengalir. Tumbuh cinta yang besar kepada beliau. Dan perlahan tangis isakku menjadi rintihan kerinduan seorang pengikutnya. Timbul rasa malu yang besar. Timbul keharuan yang luar biasa. Aku menangis sejadi-jadinya di bangku belakang bus tersebut. Hilang rasa maluku sebagai lelaki termuda dalam rombongan. Tapi sungguh, getar kerinduan itu memuncak memasuki kota Madinah.
ﻳﺎ ﻧﺒﻲ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚ ، ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚ
Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, Wahai Rosul salam sejahtera untukmu.
ﻳﺎﺣﺒﻴﺐ ﺳﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚ ، ﺻﻠﻮﺍﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ
Wahai kekasih, salam sejahtera untukmu dan Sholawat (rohmat) ALLAH untukmu.
Dan berbagai shalawat lainnya.
Dipanjatkan juga doa ketika hendak memasuki kota Madinah:
اَللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُ رَسُوْلِكَ فَاجْعَلْهُ وِقَايَةً مِنَ النَّارِ وَاَمَانَةً مِنَ اْلعَذَابِ وَسُوءِ اْلحِسَابِ
Artinya:
“Ya ALLAH, negeri ini adalah tanah haram Rasul-Mu Muhammad SAW, maka jadikanlah penjaga bagiku dari neraka, aman dari siksa dan buruknya hisab (perhitungan di hari kemudian).”
Kami tiba di pintu kota Madinah sekitar pukul 12 malam 26 Sya’ban 1432 H.
Langsung diantar ke hotel. Barang-barang diantarkan ke hotel juga. Kami terima bersih saja. Gak ada komplain deh kami soal pelayanan. Hotelnya kelas bintang 3, cukup bersih. Dan alhamdulillah dekat sekali dengan Masjid Nabawi. Sekamar berempat, kami enjoy saja. Sementara rombongan yang dari Jakarta menuntut hotel bintang 5 diantarkan ke hotel lain.
Hatiku meluap-luap. Lelah dan kantukku hilang.
Masuk kamar, mandi dan memandangi langit Madinah dari jendela kamar hotelku.
Untuk informasi, bintang hotel di dua kota suci ini selain berhubungan dengan fasilitas, namun lebih relevan dengan jarak hotel ke masjid, baik masjid Nabawi di Madinah maupun Masjidil Haram di kota Mekkah.
Setelah kucermati kejadian hotel ini, sepertinya hal ini terjadi karena jumlah jamaah yang berangkat tidak sesuai dengan target maksimal satu group. Seingatku kami hanya 21 orang sementara wajarnya satu group itu disiapkan untuk 40 orang.
Aku lupa nama hotel kami dulu ditempatkan, namun yang pasti tidak terlalu jauh dari Masjid Nabawi, walau masih masuk ring 2 blok hotel di Madinah sana. Sementara yang sembilan orang lainnya dimasukkan ke hotel Movenpick sesuai dengan paket yang seharusnya. Saat aku kembali berkesempatan mengunjungi Madinah saat berangkat haji, hotel tempatku menginap sudah tidak ada berganti dengan bangunan hotel dan perkantoran pengurus 2 kota suci di Madinah.
Tiba di hotel, sebenarnya ingin segera lari ke Masjid Nabawi. Namun mesti berberes dan istirahat sebentar kata bapakku nanti menjelang subuh saja ke sana.
Hotel kami terletak pas di sudut gerbang belakang sebelah kiri pelataran mesjid itu. Tidak terlalu jauh. Kalau jauhpun sebenarnya tidak mengapa untuk aku yang sehat wal afiat, bukankah setiap langkah ke mesjid akan dihitung sebagai pahala?

Nabawi ini adalah mesjidnya Nabi Besar Muhammad SAW. Beliau dimakamkan di situ. Begitu pula para sahabatnya.
Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW, setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah SAW. tiba di Madinah, ialah di tempat unta tunggangan Nabi SAW menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah SAW untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman dia.
Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m Rasulullah SAW turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.
Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi S.A.W. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.
Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² pada tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd pada tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah.
Waktu yang kunantikan tiba. Untuk dapat shalat di mesjid kecintaan rasulullah itu. Kami sekeluarga beserta rombongan lain segera menuju mesjid menjelang azan.
Rasa haru makin terasa. Menyeruak dalam jiwa. Ditambah takjub karena megahnya mesjid itu kini. Ditambah syukur yang tak terhingga karena menjadi orang yang berkesempatan seperti ini.
Mesjid Nabawi seolah menjadi bukti kecintaan umat Islam. Menuju ke sana, hati ini dipenuhi kerinduan yang luar biasa kepada sebaik-baiknya manusia tersebut. Dalam hati aku bershalawat sambil melangkahkan kaki ke sana. Tempat dimana nilai shalatnya sebanding dengan 1000 kali shalat di masjid lain, selain Masjidil Haram tentunya.
Ramai orang yang ke mesjid itu. Jumlahnya beratusan ribu. Apalagi musim umrah menjelang Ramadhan seperti saat aku pergi ini. Makin besar ketakjubanku. Makin besar kebanggaanku. Di sini memang gairah ibadah itu terdorong naik, beda di tanah air, (malu aku mengakui) mau ke mesjid rasanya berat sekali.
Masuk ke dalam, aku makin takjub.
Kami yang menyegerakan ke mesjid saja sudah dapat tempat yang di tengah. Agak jauh dari Raudah. Bapakku menunjukkan lokasi Raudah itu. Tempat yang mustajab untuk berdoa.
Secara bahasa, “Raudhah” berarti taman. Raudhah merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Ia terletak di antara kamar Nabi dan mimbar untuk berdakwah.
Luas Raudhah dari arah Timur ke Barat sepanjang 22 m dan dari Utara ke Selatan sepanjang 15 m . Luasnya yang hanya 144 meter persegi tak sebanding dengan jutaan jamaah yang berebut ingin masuk ke sana.
Jamaah haji atau umroh yang berada di Madinah, biasanya akan menyempatkan berdoa di Raudhah. Tempat ini tak pernah sepi, menjadi tempat yang paling afdhal untuk memanjatkan doa. Seperti sabda Rasulullah Saw,
“Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga”
(HR. Bukhari no. 1196) .
Para ahli hadits menafsirkan taman surga sebagai tempat Allah SWT menurunkan rahmat dan kebahagian-Nya karena dilakukan zikir serta pemujaan kepada Allah SWT.

Satu area di dalam masjid yang dinamakan Raudhah ini ditandai tiang-tiang putih dengan ornamen kaligrafi yang khas dan juga karpet warna hijau yang menutup lantainya. Warna karpet ini berbeda dengan warna karpet Masjid Nabawi yang semuanya berwarna merah.
Di kawasan ini juga terletaknya maqam junjungan besar kita, Rasulullah saw, juga dua sahabat besar, Saidina Abu Bakar R.A dan Saidina Umar R.A.
Kalau kita tengok dalam Masjid Nabawi, ada 2 kawasan. Satu kawasan masjid asal yang dibina oleh Rasulullah s.a.w dan kawasan selainnya adalah perluasan tambahan yang dilakukan selepas zaman Rasulullah saw. Ia dapat dibedakan dengan tiang-tiang yang terdapat dikawasan tersebut.
Lokasi ‘taman surga’ ini merupakan bagian dari shaf laki-laki, hanya terbuka untuk perempuan di jam tertentu, saat dhuha dan setelah shalat dhuhur. Bukan hal yang mudah untuk bisa memasuki Raudhah. Upaya lainnya adalah usahakan datang ke mesjid pada awal pintu mesjid dibuka. Dengan demikian mempunyai waktu cukup untuk melaksanakan salat Tahajud, salat Tasbih, dan salat Fajar serta melakukan zikir atau membaca Alquran.
Jika sudah berhasil masuk setelah berjuang berdesak-desakan, jamaah memanfaatkan kesempatan berada di area ini untuk shalat dua rakaat, berdzikir, berdoa maupun membaca Alquran. Suara takbir, tahmid dan tahlil diiringi dengan shalawat kepada Rasulullah saw dan lirihnya doa bercampur jadi satu.
Jangan lupa, ketika berdo’a di sini (atau di manapun di Masjid Nabawi), janganlah sambil menghadap makam. Menghadaplah ke arah Kiblat. Sementara ketika di depan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah perlu mengusap2 jendela makam dan menciumnya, atau menempelkan dada dan perut, karena syariat Islam sama sekali tidak menuntunkan demikian.Ucapkan saja sebanyak mungkin shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat serta keluarga.
Dibutuhkan kesabaran yang tinggi di Raudhah, karena sudah biasa ketika shalat jamaah lain berdiri didepan kita sehingga tidak bisa ruku’ dan sujud. Duduk berdempetan, tetapi masih ada saja jamaah lain memaksakan diri untuk minta duduk. Kepala/bahu dilangkahi atau tertendang, tangan terinjak dan perlu hati-hati disaat sujud karena sangat berbahaya ketika lehernya terinjak jamaah lain.
Cara paling aman adalah bersama teman, shalat bergantian dan saling menjaga (dengan menjulurkan tangan) ketika sedang shalat. Kadang-kadang kita saksikan antar jamaah saling melotot dan emosi, disinilah kesabaran kita diuji, tidak selayaknya berantem disaat beribadah ditempat yang sangat mulia ini.
Saat pertama menjejakkan kaki di pelataran Nabawi, aku kembali terkagum-kagum dengan keindahan dan ketenangannya. Bapak membawa dan menunjukkanku lokasi Raudhah pada kesempatan itu. Kami tidak bisa masuk ke sana karena seperti biasa bapakku yang disiplin selalu mengikuti jadwal yang ditetapkan travel. Nanti kamu coba sendiri ke sana. Demikian pesan bapak. Beliau sepertinya sudah merasa tidak mampu berdesak-desakan menuju ke situ. Dan sudah beberapa kali juga pernah ke sana sebelum ini. Aku saja yang belum. Kalah lawan adik laki-lakiku yang 2 orang yang sudah lebih dulu menemani bapak. Sungguh merasa rugi.
Kami melakukan shalat tahiyatul masjid, dilanjutkan kemudian dengan membaca zikir dan berdoa. Selesai azan, shalat rawatib. Cukup lama sampai kemudian dikumandangkan iqamah buat shalat subuh. Setelah shalat subuh aku dengar seruan dalam bahasa Arab. Dan serentak orang-orang berdiri. Aku tak tahu kenapa. Lalu ternyata mereka shalat. Shalat tanpa ruku dan sujud. Taulah aku akhirnya mereka sedang shalat jenazah. Sempat kupikir “aneh” karena awalnya kusangka mereka akan shalat rawatib lagi yang semestinya tidak ada. Aku hanya duduk saja meneruskan membaca doa dan Al Quran.
Ketika sedang asyiknya aku membaca kitab suci, seorang lelaki mendatangiku. Usianya sepantaran sama bapakku.
Dia menyapaku dengan bahasa melayu.
“Dari mane? Malaysie atau Indonesie?”
Aku menjawab, dan akhirnya terjadilah percakapan di antara kami. Beliau ternyata adalah seorang pembimbing haji dan umrah dari salah satu biro perjalanan besar di Malaysia. Namanya Usman bin Abu Bakar. Tak lama kemudian bapakku bergabung.
Yang paling bermanfaat dari obrolan ini adalah ilmu yang disampaikan pak Haji dengan wajah bersih ini.
“Tuan mengape tak ikut shalat tadi? Itu shalat jenazah. Tiap-tiap habis shalat fardhu di sini tak ade yang mikirkan rawatibnye. Ikut shalat jenazah lebih penting. Sangatlah. Pahalenye same dengan 1 qiroth.”
Orang Malaysia itu mengutip hadist.
مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ
“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.”
“Jadi sayang kalau encik tidak ikut shalat janazah. Apalagi kita di sini, di Masjid Nabi.” Demikian ilmu dan nasehat Wan Usman tersebut.
Aduuuuuuh. Meruginya aku pergi umrah tak lengkap ilmu.
Alhamdulillah, subuh itu aku dapat satu ilmu yang berguna dan selalu aku amalkan sampai saat ini. Alhamdulillah, pak haji tersebut peduli dengan ketidaktahuanku. Alhamdulillah pula dia berani menyapaku karena menurut dia awalnya dia menyangka aku keturunan Cina. Tapi melihat songkok dan baju yang aku pakai, beliau tak segan untuk menyapaku.
Oh iya, sebagai tambahan, baju yang kupakai adalah baju yang aku gunakan ketika akad nikahku dulu. Baju tua yang untungnya masih muat, kecuali celananya. Kalau sekarang sih kayaknya baik baju dan celana sudah makin sempit. Itu pesan bapakku ketika akan berangkat. “Kau bawak baju akan nikahmu itu, Bud.” Apapun alasan beliau baju ini sungguh bermanfaat.

Sejak itu aku gak tinggalkan shalat jenazah selepas fardhu. Setiap ada panggilan ‘shalati ala al-amwat’ aku segera ikut berdiri dan shalat.
Para pelaku shalat jenazah seolah diajak mendekatkan diri kepada prinsip “ajilu bi al-shalati qabla al-faut, wa ajilu bi al-taubati qabla al-mawt”. “Artinya, salatlah sebelum lupa atau terlambat, dan bertaubatlah sebelum maut menjemput. Atau salatlah sebelum disalatkan,”
Bayangkan ratusan ribu jamaah berdiri untuk sholat jenazah yang sama sekali tidak dikenalnya. Jenazah yang disholatkan bisa satu, dua, tiga, lima atau lebih. Usai sholat jenazah, jenazah langsung digotong ke pemakaman Baqi yang terletak di samping Masjid Nabawi. Jadi penguburan mayat tidak kenal waktu, bisa pagi usai Subuh, siang usai Dzuhur atau Ashar, atau malam usai Maghrib dan Isya. “Beruntunglah” orang yang wafat di kota Madinah karena ia disholatkan di Masjid Nabawi oleh ratusan ribu orang. Padahal jika mayat disholatkan lebih dari 40 orang saja maka dosa-dosanya akan diampuni, ini yang menyalatkan ratusan ribu orang. Sholat jenazah setiap kali usai sholat fardhu juga terdapat di Masjidil Haram di kota Mekkah.