Pengalaman dan kebiasaan selama umroh tadi membekas di dalam hati. Yang ada sekarang adalah bagaimana bersiap-siap untuk nanti 2015 melaksanakan ibadah haji dan melepaskan rindu pada Baitullah, Mekkah dan Madinah.
Yang utama tentu saja menjaga shalat. Berusaha selalu di awal waktu seperti saat berada di tanah suci dulu.
Istriku pun semenjak pulang dari umroh di 2012 istiqamah berhijab. Kalau sebelumnya hanya berkerudung di waktu tertentu, maka sepulang umroh meminta ijin dan pandanganku bagaimana kalau dia berhijab. Aku yang saat itu masih sangat moderat sempat dua kali menyidang istri soal kesiapannya untuk benar-benar merubah penampilan, akhirnya diyakinkan. Perlahan istriku mengganti jeans dengan gamis, kerudung biasa berubah dengan yang panjang menutup keseluruhan tubuhnya. Istri juga kembali minta dicarikan guru ngaji untuk membenarkan bacaan Al Quran.
Alhamdulillah.
Dan jujur sebenarnya rindu itu mulai sering hadir. Mulailah kami menabung untuk biaya nanti berhaji di 2015. Bapak yang mulai sakit-sakitan, sempat beberapa kali diopname di Jakarta dan Pontianak, juga tetap menyemangatiku. Anak-anakmu nanti aki dan uwan yang urus. Kalian tenang saja.
Qadarullah, ternyata sejak istriku umroh di 2012 itu Masjidil Haram mengalami renovasi besar-besaran. Kuota haji yang di tahun 2011 dan 2012 di angka lebih dari 190 ribu jamaah berkurang hingga hanya 150 ribuan jamaah di tahun 2013. Akibatnya kami yang dijadwalkan berangkat tahun 2015 mengalami kemunduran jadwal. Jadwalnya menjadi tahun 2018, itu jawaban yang kami terima ketika bertanya ke Kemenag Kota Pontianak.
Kami berdua pun terpaksa menahan rindu lebih lama.
Kami mengambil kebaikan dengan diundurnya keberangkatan itu untuk mengganti kekecewaan kami. Yang penting kami sudah daftar dan mendapatkan porsi. Karena di tahun-tahun ini mulai dikenal dengan dana talangan haji oleh perbankan dan lembaga keuangan. Mereka meminjamkan kepada nasabah untuk melunasi biaya daftar haji, kemudian nasabah mencicil. Dengan bunga tentunya. Apakah hal ini dibolehkan? Wallahu’alam bissawab.
Dengan patokan jumlah kuota yang 150 ribu itu maka pemerintah telah mengatur di sistem mereka perkiraan keberangkatan jamaah haji tersebut. Tentu saja hal ini dimulai dari keberangkatan tahun 2013.
Aku dan istri sedikit terhibur karena merasa bahwa pada tahun 2018 jika kami berangkat tersebut anak-anak sudah makin besar. Jadi tidak terlalu khawatir dengan hal ini. Juga jika dihitung dengan waktu pendidikan maka anak kami yang sulung sudah kuliah juga. Walau saat itu belum tahu akan kuliah dimana, karena saat itu dia masih SMP, belum jelas mau menjadi apa. Hehehe. Sempat sih bilang pengen jadi dokter. Dan terbayanglah berapa biayanya jika nanti masuk kuliah di tahun 2017 nanti. Makanya cukup aman bagi kami sebagai orang tuanya.
Aku pun mulai menyusun ikhtiar untuk bisa pergi umroh lagi. Kalau bisa gratis. Hehehe. Caranya dengan mencari pendapatan tidak hanya sebagai karyawan, tapi mulai mencari usaha lain. Saat itu bisnis rumah produksi tidak terlalu menjanjikan. Sudah banyak pemain baru dengan bermacam trik bisnisnya. Yang kadang bikin para ‘senior’ hanya bisa menggerutu. Jadi kegiatan ini di’take over’ oleh kru-kru yang dulu ikut denganku.
Di awal 2013, aku bertemu dengan salah seorang teman lama yang dulu perusahaannya pernah menjadi klienku. Karena sering berdiskusi, akhirnya kami memutuskan memulai usaha yang sama dengan yang dulu dikelolanya. Dengan kemampuanku di bidang IT, perusahaan kami bisa berkembang dan dikenal oleh user dan klien dari website yang aku buat. The Power of Google. Dari sini penawaran kerja sama dan proyek mulai mengalir. Setelah itu untuk melebarkan sayap bisnis, dibentuklah perusahaan kecil yang fokus di bidang IT dan event organizer, pada tahun 2014. Alhamdulillah, juga bisa mendapatkan pekerjaan-pekerjaan dari beberapa dinas di kabupaten/kota di Kalimantan Barat, juga beberapa perusahaan swasta di seluruh Indonesia.
Keinginan untuk bisa pergi umroh juga sempat tercetus dengan salah seorang kawan yang ingin membuka biro perjalanan, karena selama ini beliau menghandle para TKI yang keluar masuk Indonesia lewat bandara Pontianak. Berdua kami membentuk PT yang bergerak di bidang tersebut. Rencananya ke depan kami akan menyelenggarakan paket umroh. Pada tahun 2016 itu pelaksana umroh masih gampang, kalaupun tidak punya ijin masih bisa masuk ke dalam konsorsium. Walau saat itu juga biro umroh sudah mulai terkena imbas dari kasus First Travel dan Abu Tour. Namun ternyata di kemudian hari peraturan tentang penyelenggaraan umroh berubah sehingga niat kami untuk menjadi PPIU sementara tertunda sampai saat ini. Semoga ke depan diberikan kemudahan.
Sekarang ini akhirnya aku dan istriku bergabung dengan travel yang sudah memiliki ijin PPIU yang bisa secara resmi mengirimkan jamaah ke tanah suci. Ini juga ceritanya berasal karena ada travel yang memesan aplikasi kepada perusahaanku. Ujung-ujungnya berakhir dengan aku bergabung di perusahaan travel yang baru yang didirikan teman baru yang sebelum ini menjadi pimpinan cabang travel yang memesan aplikasi dan website kepadaku itu.
Di tahun ini juga bapak terhebat di dunia, bapakku, H. Usman Sood meninggalkan kami setelah sempat dirawat cukup lama di RSUD dr. Soedarso, pada malam tanggal 29 Mei 2016, enam hari menjelang Ramadhan 1437 H di rumahnya di Gg. Amanah, Pontianak. Sangat sedih kami rasakan. Apalagi sudah menjelang Ramadhan, saat-saat kami sering bersama dan berkumpul. Muncul lagi kenangan Ramadhan di tanah suci bersama bapak. Emak, Eva dan Tip yang pernah merasakannya pasti terasa juga. Belum lagi saat Idul Fitri tiada beliau lagi. Hanya doa yang dapat kami panjatkan.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارً اخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَادْخِلْهُ الجَنَّةَ وَاعِذْهُ مِنْ عَدَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ
Wahai ALLAH, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah dia. Dam muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan seperti baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.
Aamiiin.