Tiba di Batam, kami dijemput bus yang kondisinya tidak sebagus Damri yang disiapkan pemerintah Kalimantan Barat. Bagus juga Gubernur Cornelis, walau beliau bukan muslim tapi pelayanan kepada jamaah bisa diacungkan jempol. Bahkan beliau berjuang agar dapat bernegosiasi, sehingga biaya lokal kami berkurang 200 ribu lebih dari biaya lokal tahun sebelumnya.
Di asrama haji Batam, kami semua dicek kesehatan, bagi yang memiliki komorbid maka akan diberikan gelang tambahan sesuai dengan derajat sakit yang di deritanya. Jadi ada 2 gelang utama, 1 dari besi stainless, 1 lagi dari plastik dengan barcode data jemaah haji. Untuk yang mempunyai penyakit bawaan dan kondisi tidak baik diberikan gelang tambahan. Untukku sebuah gelang berwarna kuning karena dianggap tekanan darahku tidak baik. Padahal pada tes kedua sebelum berangkat tensiku sudah normal. Tapi tidak apalah. Semua gelang itu harus dipakai sampai kembali ke tanah air. Di sini juga kami diberikan obat-obatan, multivitamin dan masker untuk keperluan selama di tanah suci.
Untuk ibu-ibu diwajibkan mengikuti tes kehamilan, untuk berjaga-jaga jika ada yang sedang hamil. Termasuk yang sudah menoupause. Hehehe. Di reguku ada yang protes. Yaitu mbak Yani yang bilang sudah 2 tahun tidak haid lagi. Ada seorang ibu yang ternyata mengidap kanker payudara dan mengalami pendarahan. Beliau diminta beristirahat dan mendapatkan pengobatan. Alhamdulillah akhirnya nanti bisa tetap berangkat menunaikan ibadah haji.
Setelah pemeriksaan kesehatan, maka kami dipersilahkan ke kamar di Gedung Safa untuk beristirahat atau mandi.
Seperti biasa di Indonesia selalu ada seremonial, maka ada acara simbolis penyerahan bendera kepada pemimpin Kloter, yang kebetulan merupakan salah satu anggota dari Pontianak. Rombongan kami ini bergabung dengan group-group dari Riau.
Setelah itu ada kehebohan kecil pada waktu pemeriksaan ulang di mesin detektor bandara yang disiapkan di Asrama Haji Batam. Seorang nenek tidak mau melepaskan tas yang dia pegang. Jadi melawan dan tidak mau menyerahkan tasnya. Tasnya juga beda, bukan tas yang seperti kami yang merupakan tas pembagian. Tasnya hanya tas biasa yang mirip dengan milik kami. Beda warna dan tidak memiliki roda. Di tas tersebut tertulis namanya. Lucunya lagi nenek tersebut nekad hendak masuk bersama tas jinjingnya ke dalam mesin X-Ray. Tasnya dipeluk tidak mau dilepaskannya. Lumayan repot petugas menghalanginya. Sementara kepala regunya juga tidak ada saat itu.

Kasus ini agak aneh, karena setelah nanti di tanah suci, kami cek ke keluarganya di Pontianak, katanya beliau merupakan anggota salah satu KBIH. Tapi mengapa diantarkan kepada kami di Kloter BTH 16? Kasihan juga karena usia beliau ini 79 tahun, berangkat sendiri. Ya ALLAH. Untungnya anggota regunya mau memperhatikan nenek ini.
Aku curiga kenapa ada kejadian di Batam itu karena pasti sang nenek dibisiki oleh keluarganya jangan pernah lepaskan tas itu dari pegangannya. Terbukti karena menurut ibu-ibu di regunya sang nenek ini membawa uang lumayan banyak. Hehehe.
Selepas maghrib kami diantarkan kembali ke bandara Internasional Hang Nadim. Duduk di sampingku seorang wakil bupati Kabupaten Ketapang yang ternyata juga adik tingkat almarhum bapakku saat di APDN dulu. Namanya Pak Soeprapto.
Di bandara semuanya berlangsung lancar kecuali ada kejadian kecil bahwa ada jamaah yang lupa memisahkan ihram yang dimasukkannya ke dalam koper besar. Sibuklah panitia mencarikan untuk beliau ihram cadangan. Karena koper besar langsung didrop ke hotel, dipisahkan dari kami.
Hal paling aneh juga terjadi padaku dan istri di bandara ini. Mau tahu apa? Smartphone istriku mendadak mati total setelah dipergunakan menelpon ke ibunya. Benar-benar tidak mau dinyalakan kembali. Di Batam dan di Arab dicoba gak bisa. Haduh. Padahal kartu Telkomselnya sudah disiap untuk dipergunakan di sana. Akhirnya istriku tidak menggunakan hp selama di sana. Seolah diatur agar istriku benar-benar bisa ibadah tanpa diganggu keinginan yang berhubungan dengan smartphone.
Menjelang tengah malam kami sebanyak 450 orang dipersilahkan menaiki pesawat Saudi Airlines yang akan mengangkut kami ke tanah suci yang kami rindukan.