ALLAH Karim
Sudah baca khan ceritaku tentang keadaan finansial menjelang kami berangkat ke Haramain? Segala kewajiban dan kebutuhan yang harus dipikirkan dan dikondisikan. Sebenarnya kalau dipikir-pikir memang saat itu lagi kacau cashflow karena banyak pemasukan yang tertunda. Berangkat hanya bermodalkan uang saku dari pemerintah dan tidak sampai dua juta uang rupiah yang dibawa. Memang ada kartu kredit yang bersih dan belum ditutup, tapi khan gak mungkin juga menganggap perjalanan ibadah ini seperti perjalanan wisata, lantas dengan sembrono berhutang untuk memuaskan nafsu belanja.
Jamaah yang memang tidak ada kendala keuangan kami lihat sudah mulai muncul di tempat shopping. Bahkan sudah belanja oleh-oleh semacam kurma dan cokelat. Permadani dan pakaian juga. Angkutan kargo beberapa kali datang ke hotel kami untuk mengirimkan barang belanjaan orang Indonesia ke tanah air. Mantap.
Pak Sopian saja saat kami kembali dari Masjidil Haram di jam makan pagi, sudah membelai smartphone baru yang ternyata dia beli di pelataran hotel kami. Di penjual asongan. Astaga. Bukan soal belinya sih. Tapi aku tahu barang itu hanya replika. Samsung Galaxy A9 yang dibelinya itu adalah tiruan China yang memang mirip banget dengan buatan Korea. Mengapa aku bisa bilang palsu? Karena ketika dinyalakan yang muncul bukan logo Samsung namun logo Android generik. Mutu kameranya juga beda. Harganya juga jauh berbeda. Tapi aku tidak berkomentar apa-apa, apalagi aku tahu memang beliau mau ganti hp.
Saat sedang istirahat di dalam kamar sambil menonton Pak Sopian menikmati mainan barunya tadi, aku membuka juga hpku. Aku memang bisa menggunakan kuota karena sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat. Pak Sopian juga tidak salah aku yang membelikan kartu XL buat dia pakai di Tanah Suci. Karena kami sudah dekat saat manasik Kecamatan Pontianak Selatan. Hal itu dikarenakan saat kami nobrol terungkaplah fakta bahwa dia satu kantor dengan almarhum adik bapakku yang nomor 5. Makanya dia aku ajak untuk bergabung di reguku. Pak Sopian ini baik banget, hanya satu saja, jangan ajak berdebat tentang mudharatnya rokok. Hahahaha. Perokok garis keras itu. Bahkan dia bersedia beli rokok yang di Arab harganya sampai 4 kali lipat lebih mahal.
Masuk sebuah pesan di WA, karena aku gak ganti nomor WA, hanya mengganti kartu untuk data. Isinya menggembirakan hati.
“Bang, termin pembayaran pertama sudah keluar. Tolong disisihkan untuk biaya artis ibukota yang kita undang, uang muka panggung dan sound, sisanya operasional abang. Yang kami nanti menjelang acaranya. Abang pegang dulu ya. Pokoknya untuk artisnya tolong dibayarkan dulu. Sama uang muka penyewaan panggung. Fee perusahaan abang belakangan.”
Jadi ada satu dinas di sebuah kabupaten yang menggunakan CV-ku untuk pelaksanaan event kantor mereka. Kegiatan yang lumayan besar karena melibatkan kontingen dari Malaysia dan lainnya. Jadi selain menggunakan jasa perusahaanku di bidang dokumentasinya dan hiburannya, mereka juga meminjam perusahaan kecilku untuk menghandle keuangan mereka yang ‘swakelola’. Karena tidak buat bancakan dan memang benar pekerjaannya, maka aku tidak keberatan dititipi komponen lainnya. Yang penting pekerjaanku benar adanya. Pekerjaan itu sudah diadakan sebagian, namun puncak kegiatan akan diadakan di bulan Oktober nanti.
Alhamdulillah. Jadi ada juga uang masuk di rekeningku.
Dan jumlah yang menjadi hak perusahaanku saat itu tidak beda jauh dengan biaya yang aku perjuangkan sebelum berangkat. Segala biaya pelunasan, biaya lokal daerah, anak kuliah dan lain-lain, dibayar langsung oleh ALLAH SWT di Mekkah ini.
MasyaALLAH.
Dan di hari itu juga aku mendapatkan kabar bahwa proyek yang kutinggal kemaren belum ada kepastian sudah diketukpalu oleh pemegang kebijakan. Jadi dana buat server kemarin aman, karena akan dibayarkan.
Allahuakbar.
Segera kukontak rekanku di kantor, mentransfer uang ke rekening PT kami. Berkat kecanggihan teknologi tentu saja. Aku cukup menggunakan internet banking dan token yang aku bawa untuk mengirimkan uang ke rekening kantor. Dan berkat itu juga kebutuhan perusahaan yang mendesak dapat diselamatkan. Aku hanya meninggalkan secukupnya di ATMku, sekedar untuk membelikan rekanku hadiah jam tangan dari brand kesukaannya juga oleh-oleh buat keluarga di Pontianak.
Tenang dan bahagia hatiku. ALLAH Karim.
Jumatan di Pasar Seng
Ada satu waktu kami harus shalat jumat di depan pasar Seng atau terminal Syib Amir. Kejadian ini bermula dari bus shalawat yang membawa kami mengalami kendala dan sebelumnya cukup lama menanti penumpang. Entah bagaimana, bus tersebut terpaksa memutar di kawasan Aziziyah. Membuat kami terlambat untuk tiba di Masjidil Haram dan terpaksa menggelar sajadah di pinggir trotoar. Di sini aku berkenalan dengan salah seorang PPIH dari Yogya bernama dr. Rommy.

Panas Mekkah yang menyengat, kami halangi dengan sorban dan sajadah yang kami bagi berdua. Satu lagi sajadah kami pakai sebagai alas duduk. Rasanya seperti dipanggang. Dalam hatiku inilah yang dahulu dirasakan bapakku ketika kami pergi umrah dulu. Sampai sekarang pun aku masih sering bertukar berita dengan pak dokter muda tersebut.
Suka Duka Mencuci Pakaian
Untunglah hari itu istriku tidak ikut karena hendak mencuci sama ibu-bu yang lain. Mencuci pakaian adalah rutinitas yang biasa dilakukan paling tidak 3 hari sekali. Untuk mesin cuci memang disediakan di lantai 9 atau 10, kemudian mengangkat cucian tersebut untuk dijemur di bagian atas hotel.
Biasanya kami gantian menggunakan beberapa ember yang kami beli urunan. Namun pak Prapto ada membeli sendiri ember yang biasa kami pinjam.
Menjemur pakaian di Mekkah dan Madinah cukup cepat, hawa panas dan angin membuat pakaian akan segera kering tidak lama setelah dijemur. Pada awal-awal kedatangan, banyak jamaah yang pakaiannya diterbangkan angin. Mereka tidak memperhitungkan angin gurun yang cukup kencang di daratan ini. Berdasarkan pengalaman kami selalu menjepit cucian kami dengan jepitan yang kami beli di kios di bagian bawah hotel.

Yang seru adalah seragam batik yang digunakan jamaah. Kalau sudah diterbangkan angin maka akan kesulitan mencari mana milik dan kepunyaan siapa. Apalagi kalau tidak ditandai atau dituliskan namanya.
Yang bikin kesal ada juga. Yaitu jamaah yang suka menguasai tali jemuran orang lain. Mereka ini biasanya tidak menyiapkan sendiri tali jemuran. Sementara kami saat manasik sudah diingatkan untuk mempersiapkan keperluan cuci dan menjemur pakaian. Semua tali jemuran kami tandai dan kasih pita nama regu dan kloter. Sesama anggota regu bebas mempergunakannya. Sebenarnya sih kalau memang tidak dipakai yang lain boleh saja menjemur di sana. Yang bikin keki itu adalah jika pakaian yang kami jemur disingkirkan atau lebih parah lagi ditumpuk di sudut-sudut tiang jemuran, digantikan jemuran lain yang masih basah.