Katering Mbak Nelma
Mbak Nelma adalah seorang jamaah, istri dari Pak Muis. Wanita baik hati keturunan Padang yang pandai masak dan jago bisnis. Banyak cerita dan ilmu yang kami dapat dari Mbak Nelma ini. Sampai sekarangpun kami masih sering bersilaturahmi dengan beliau dan suaminya.
Salah satu yang perbekalannya lengkap saat berangkat adalah Mbak Nelma ini. Makanan tahan basi. Indomie. Sambal dan lain-lain. Tentu saja tidak lupa rokok buat suami tercinta. Pak Muis sendiri adalah karyawan PLN yang tidak lama lagi akan pensiun.
Melihat di kios-kios yang berada di bawah hotel ini menyediakan daging, ikan, dan sayuran, naluri keibuannya muncul. Dia melontarkan ide untuk membeli rice cooker. Bukan hanya untuk masak nasi, tapi juga digunakan untuk memasak lauk sampai menggoreng ikan dan peda. Kami setuju dan urunan membeli keperluan tersebut. Memang sih secara pelayanan makanan kami berkecukupan, tapi taste tentu saja berbeda antara katering Arabia dan makanan kampung halaman. Tidak sia-sia pula, karena ternyata ada masa di saat katering tidak melayani jamaah untuk beberapa hari, di saat masa menjelang wukf dan setelah kembali dari Mina.
Dan terbukti masakan Mbak Nelma dan ibu-ibu yang lain mampu menghibur kami yang rindu masakan rumahan. Jadi mulai saat itu maka aroma ikan asin kadang memenuhi lantai 5 tower 2 Al Wehda. Hahaha. Hal ini belakangan diikuti oleh beberapa regu lain. Seru.
Jalan Kaki Menuju Masjidil Haram
Menjelang waktu wukuf, operasional bus shalawat ditiadakan. Jamaah melakukan aktifitas ibadah di masjid. Di televisi menayangkan kondisi Masjidil Haram dan Ka’bah yang penuh jamaah. Hati ini berontak, setelah sehari tidak ke sana. Memang ada mesjid di belakang hotel, namun kayaknya rindu memandang Ka’bah secara langsung.
Berdua istri aku pun sepakat ke Masjidil Haram jalan kaki. Cari-cari informasi akhirnya ditunjukkanlah jalan untuk bisa ke sana.
Selepas sarapan kami pun mulai perjalanan. Sambil bercerita tentang rencana dan harapan kami berdua. Jarak yang lumayan jauh tidak terasa. Mungkin sekitar 5-6 kilometer dari hotel kami di Jarwal itu ke masjid terbesar di dunia itu. Waktu yang kami butuhkan hampir 30 menit untuk bisa berada di lingkungan masjid. Sepanjang jalan banyak kami temui masjid-masjid kecil yang menjadi pertanda atau pengingat kejadian yang pernah terjadi di jaman Rasulullah.

Ternyata masuknya dari wilayah ekspansi Masjidil Haram yang baru dan belum seluruhnya dipergunakan. Rencana pemerintah Arab Saudi adalah perluasan untuk jamaah-jamaah tahun berikutnya yang dipastikan akan ramai setelah 2017 ini. Namun takdir berkata lain. Hanya sampai dua tahun ke depannya jamaah haji bisa datang dengan kuota normal. Setelahnya di 2020 dan 2021, maka jumlah jamaah haji hanya 10.000 dan 60.000 saja. Qadarullah.
Shalat dzuhur di sana sampai ashar. Istriku tidak berani jauh-jauh dan terpisah. Bukan saja karena takut berpisah pulangnya, tapi karena punya pengalaman pulang tanpa alas kaki saat awal-awal kami ada di Mekkah.
Setelah kali pertama kami sukses mencapai Masjidil Haram, maka berikutnya kami sering berjalan kaki untuk bisa tawaf sunnah dan sedikit berolahraga memperlancar peredaran darah.
Senangnya jalan kaki itu pada saat pergi atau pulang ada saja orang-orang Arab yang bersedekah. Mungkin karena sedekah sudah menjadi kebudayaan bagi mereka. Susu, kurma, jus dan ayam goreng plus kentang sering dibagikan. Jika mereka sedekah maka akan ada mobil box atau pick up yang mereka parkirkan sambil memberikan kepada jamaah yang lewat. Selain itu kadang dapat teman seperjalanan yang menyenangkan seperti suatu ketika kami bertemu dengan the real Tukang Bubur Naik Haji, yaitu pasangan suami istri dari Jawa Barat yang mencari nafkah dengan cara berjualan bubur. Luar biasa, bukan?