Kami menggunduli kepala kami di hotel setelah selesai melakukan tawaf ifadah dan sa’i. Aku digunduli oleh adik teman baikku saat SMA dulu yang ternyata dapat berangkat haji denganku. Sebenarnya dia adalah ASN di Makasar, namun telah mendaftar sebelumnya di Pontianak.
Makanan belum ada dan Mbak Hajjah Nelma belum kembali ke hotel, jadi kami membeli di resto ayam goreng India di dekat hotel.
Besoknya kami kedatangan saudara dari Kloter 14, yang memang hendak menjenguk pamannya Om Alamsyahrum yang bergabung dengan kami.

Selanjutnya rutinitas seperti biasa. Sempat juga kami melakukan umrah lagi, yang kuhadiahkan (ba’dal) untuk pamanku yang telah meninggal dunia. Tentu saja diantarkan oleh aki-aki tangguh, Abu Aseem. Nyaris sepanjang perjalanan beliau memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Hehehe. Kami mengambil miqat di Ji’ranah.

Pada tanggal 14 September tibalah waktunya kami mengucapkan selamat tinggal pada Baitullah. Sebelumnya aku sempatkan mencari oleh-oleh di Bin Dawood dan Abraj Hypermarket. Sekedar cokelat yang unik-unik, kopi sachet, kurma dan beberapa souvenir. Untuk syal atau surban aku di awal kedatangan memborongnya di Pasar Seng. Aku juga mendapatkan 1 surban yang bermotif unik. Beberapa sahabat Baitullahku bahkan terang-terangan ingin membayarnya. Hehehe. Dan di media sosialku ada juga yang mengincarnya di kolom komen.
Di Bin Dawood dan Abraj aku baru ngeh kalau makanan dan minuman di Arab Saudi ini tidak ada label halalnya. Beda sama di Indonesia yang kurasa awareness-nya sangat tinggi. Bahkan di sini bir dengan alkohol 0% bebas terpajang di etalase pendingin mereka.Di hotel juga kami berkemas dibantu Hasan. Peralatan masak dan lain-lain kami serahkan kepadanya. Aku tambahi juga dengan baju dan sarung yang tidak aku pakai. Lumayan mengurangi isi koperku yang aku transfer ke koper istriku. Koperku sendiri diisi 2 helai karpet Turki yang dibeli istriku. Kenang-kenangan, yah. Dan memang di sini banyak sekali manfaatnya ketika keluarga mengadakan kumpul-kumpul ataupun pengajian.
Malam kami melaksanakan tawaf wadha, keharuan dan kesedihan tak terbendung. Semua jamaah meneteskan airmata saat melambai ke Ka’bah. Berjalan pelahan serasa enggan meninggalkannya. Mundur, karena rasa tak kuat memalingkan wajah darinya.
Berfoto bersama dr. Edi & perawat Zulkarnain sebelum tawaf wadha
Selamat tinggal, Baitullah. Nantikan kami pasti akan kembali ke sini.