Singkat cerita kami akhirnya pulang dengan rute Madinah – Batam – Pontianak. Semuanya berlangsung aman dan nyaman. Tidak ada masalah, tidak ada pula pengalaman yang berkesan selama perjalanan. Oh ya, ada satu yang aku ingat. Sorban yang aku ceritakan sebelumnya. Sorban yang aku beli di Pasar Seng Syib Amir Mekkah. Sorban dengan warna unik yang tidak pernah ditemukan, bahkan telah mengubek belasan toko sorban. Sorban yang mau dibayar, sahabat Baitullahku, bang Wayan tiga kali lipat harga aku membelinya. Sorban yang ditunggu temanku di Pontianak karena dia naksir juga. Syal itu malah tanpa sengaja tertinggal di pesawat Saudia Airlines. Huhuhuhu. Aku lepas dari leherku saat menurunkan tas. Dan tertinggal di kursi pesawat, mungkin dipungut jamaah lain, atau diambil pramugara/pramugari, atau dibuang sebagai sampah yang tertinggal. Atau malah dibawa kembali ke Arab Saudi. Wallahu’alam.
Bisa juga itu pelajaran untuk tidak mencintai sesuatu terlalu berlebihan.
Tiba di Pontianak, aku tidak mempersiapkan sambutan apa-apa di rumah. Malah aku ke rumah emakku dulu. Menyampaikan terima kasih yang tak terhingga karena selain almarhum bapak, emakku ini yang juga paling kuat mendorong kami untuk berhaji. Sempat diprotes karena aku berpakaian kasual, kenapa tidak pakai gamis dan berigal. Igal itu ikat kepala yang diletakkan diatas kafiyah/sorban Arab. Mana bisa mak anak emak seperti itu. Hehehe.
Alhamdulillah. Selesailah perjalanan kami. Tunailah kami melakukan rukun Islam kelima.
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillahirabbil’alamin.
Dan herannya setelah berada di Kota Pontianak, saat berkemas isi koper dan mengeluarkan smartphone istriku, secara iseng aku menekan tombol power. Subhanallah. Benda itu menyala. Huaaaaaa! Padahal di Mekkah berkali-kali aku coba tak bisa.
Beberapa hari kemudian aku membawa istriku kontrol ke dr. Khaidir Anwar, Sp.OG. Berterima kasih kepada beliau karena dengan obat darinya yang sederhana itu telah membuat ibadah istriku berjalan lancar. Kemudian kami hendak mengatur jadwal sesuai rencana semula. Kistanya akan diangkat saja.
Dokter Khaidir meminta istriku menuju meja pemeriksaan dan USG. Perawat yang menemaninya mempersiapkan istriku di sana. Kemudian dr. Khaidir mulai memeriksa dengan USGnya. Lama kami mengamati layar USGnya. Sang dokter menggerak-gerakkan alat untuk menentukan besar kista tersebut. Sudah sebesar apa.
Dokter yang selalu tampak tenang dan pendiam itu bergantian menatapku dan istriku, lalu berkata; “Kistanya hilang, bu. Bersih. Hilang. Sudah tidak ada.”
Allahu akbar!!!
Dan memang sejak kembali dari tanah suci, rasa sakit yang menyiksanya ketika datang bulan tidak pernah muncul lagi. Bahkan untuk meyakinkan saat sedang datang bulan berikutnya kami kembali memeriksa. Benaran hilang bersih tanpa bekas.
MasyaALLAH.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Demikianlah pengalamanku saat berada di tanah suci, baik saat umroh di tahun 2011 maupun ketika menunaikan ibadah haji pada tahun 2017. Segala yang dibayar langsung oleh ALLAH SWT. Segala kekhawatiran yang ternyata memang hanya bisikan keraguan dan was-was dari Syaithan. Semua ternyata terbukti tidak ada apa-apanya dibandingkan kebesaran dan kuasa ALLAH SWT.
Pengalaman terbesar dalam hidupku. Pengalaman yang membuatku selalu merindu Baitullah. Pengalaman yang menjadikanku seorang perindu Baitullah. Alhamdulillah sebelum pandemi tiba aku sempat membawa jamaah umroh untuk berada lagi di Haramain.
Semoga yang berniat dan berikhtiar untuk ke Baitullah semakin dikuatkan. Dan juga dimudahkan. Dan segera dicukupkan.
Wallahu’alam bissawab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah